Keesokan paginya, Ana mengambil tempat di teras depan. Uap tipis dari cangkir kopi di genggamannya meliuk perlahan, menyatu dengan sejuknya udara pagi. Sisa hujan semalam meninggalkan jejak aroma tanah basah yang menenangkan.
Jalanan di depan rumah masih sepi. Hanya sesekali terdengar deru halus sepeda motor melintas sebelum kembali diserap hening.
Dari tempatnya bersandar, Ana memperhatikan Gana yang sedang membersihkan halaman dengan sapu lidi. Gerakan suaminya santai, tidak tergesa-gesa, dan tanpa pretensi. Pemandangan bersahaja itu mendatangkan rasa hangat yang tenang di matanya.
Dulu, Ana mengira kebahagiaan harus hadir dalam wujud yang megah: kepastian masa depan, pencapaian besar, atau kesembuhan mutlak. Namun minggu-minggu berat yang ia lalui mengubah sudut pandangnya. Kebahagiaan ternyata bersembunyi di balik hal-hal yang teramat biasa. Suami yang masih setia di sisinya, riuh suara anak-anak di dalam rumah, serta kesempatan untuk kembali menghirup udara pagi.
Gana menyandarkan sapu di tembok, lalu menyapu keringat di dahi dengan punggung lengannya sebelum menghampiri Ana.
"Kopinya cuma didiamkan saja?" tanya Gana sembari mendaratkan diri di kursi sebelah.
"Masih terlalu panas," ujar Ana.
Gana melirik cangkir itu, mengamati uapnya yang sudah menghilang. "Itu sudah hangat-hangat kuku."
Ana terkekeh pelan. "Iya juga, ya."