Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #10

Takut ditinggalkan #10

Ana tetap menjalankan perannya dengan cekatan. Setiap pagi ia masih menyiapkan sarapan, memandikan Alia, merapikan mainan Ali yang berserakan, hingga memastikan kemeja kerja Gana tersetrika rapi. Secara kasatmata, kehidupan mereka berjalan normal.

Namun, Gana mengenali istrinya melebihi siapa pun.

Ada keheningan berbeda yang menyusup di antara pergerakan Ana. Tatapannya sering kali melayang jauh, menerawang ke sudut-sudut kosong. Saat jemari mereka tak sengaja bersentuhan, telapak tangan Ana terasa dingin dan kaku. Dan setiap kali ketahuan melamun, satu-satunya respons yang keluar dari bibirnya hanyalah gumaman singkat, "Aku tidak apa-apa."

Padahal Gana paham betul, di balik kata 'tidak apa-apa' itu, ada badai yang sedang mengamuk secara diam-diam.

Selepas petang, hujan turun membasahi bumi. Anak-anak sudah terlelap di kamar mereka. Ana duduk bersandar di tepi tempat tidur, menyusun selimut kecil milik Ali dengan gerakan yang amat lambat—sebuah usaha manifes untuk menyibukkan jemarinya agar pikirannya tak melenceng ke mana-mana.

Gana melangkah mendekat, lalu mengambil tempat di sampingnya tanpa bersuara. Mereka membiarkan deru air di luar mengisi kekosongan selama beberapa saat.

"Ana," tegur Gana halus.

"Iya, Mas?"

"Kenapa kamu mencoba memberi jarak di antara kita?"

Lihat selengkapnya