Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 04.45 ketika mata Ana terbuka perlahan. Jarum jam merayap pelan diiringi deru samar kipas angin yang memutar udara sejuk pagi. Rumah masih berada dalam dekap hening.
Ana berbaring menatap langit-langit kamar yang temaram. Hari-hari belakangan ini, rutinitas pekerjaannya memang sudah berjalan seperti biasa. Namun pagi ini, ada rasa yang berbeda saat ia menyambut hari. Jika beberapa minggu lalu ia pergi ke kantor sekadar sebagai pelarian dari rasa cemas atau kewajiban mekanis, pagi ini ia merasa benar-benar hadir untuk merengkuh hidupnya.
Ana duduk perlahan di tepi peraduan, membiarkan telapak kakinya menyentuh ubin dingin. Ia memalingkan wajah, menatap Gana yang masih lelap di sampingnya. Pria itu tampak tenang dalam tidurnya, dengan garis wajah yang memperlihatkan kelelahan yang tersimpan rapi. Sepanjang perjalanan panjang yang mereka lalui, Gana selalu menjadi penopang yang kokoh—memendam penatnya sendiri tanpa pernah melontarkan keluhan.
Seusai membersihkan diri, Ana berdiri di depan lemari pakaian. Jemarinya menyapu deretan pakaian kerja yang tergantung rapi. Ia memilih sebuah kemeja krem favoritnya, memadukannya dengan celana kain gelap. Saat merapikan kancing di depan cermin, ia memperhatikan pantulan dirinya secara saksama. Garis wajahnya mungkin menyimpan jejak lelah dari perjuangan batinnya, tetapi sorot matanya tak lagi meredup seperti dulu.
Suara gesekan pintu memecah keheningan kamar. Gana melangkah masuk sembari mengusap wajahnya yang masih menyisakan kantuk.
"Sudah rapi seawal ini?" tanya Gana, suaranya agak serak khas bangun tidur.
"Iya, ingin menyiapkan sarapan lebih santai pagi ini," jawab Ana sembari memutar tubuh.
Gana mendekat, mengamati penampilan istrinya dari balik cermin, lalu membetulkan posisi kerah kemeja Ana yang sedikit terlipat.
"Tampak serasi," tutur Gana tenang.