Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #13

Hasil yang membuat mereka menangis #13

Pagi itu suasana rumah terasa berbeda.

Tidak ada tawa kecil seperti biasanya.

Tidak ada obrolan ringan saat sarapan.

Bahkan Ali dan Alia yang biasanya ribut memperebutkan sendok pun terasa lebih tenang.

Ana duduk di meja makan sambil memainkan ujung gelasnya pelan.

Sementara Gana beberapa kali melihat jam di ponselnya.

Hari itu adalah hari pemeriksaan darah Gana.

Hari yang selama ini sebenarnya diam-diam mereka takutkan.

Meski dokter pernah menjelaskan banyak hal tentang HIV, tetap saja rasa takut tidak mudah hilang.

Karena bagi Ana, ada satu ketakutan terbesar yang terus menghantuinya:

bagaimana jika ia telah menularkan penyakit itu kepada orang yang paling dicintainya?

“Kamu udah makan?” tanya Gana pelan.

Ana mengangguk kecil.

Padahal rotinya hampir tidak tersentuh.

“Kamu bohong.”

“Aku nggak lapar.”

“Kamu harus makan.”

Ana tersenyum hambar.

“Aku tegang.”

Gana menatap istrinya lama.

“Aku juga.”

Ana menunduk sambil menahan napas panjang.

“Kalau hasilnya positif gimana?”

Ruangan langsung terasa sunyi.

Gana tidak langsung menjawab.

Bukan karena ia tidak punya jawaban.

Tetapi karena pertanyaan itu memang menakutkan.

“Aku nggak tahu,” jawabnya pelan.

Mata Ana langsung berkaca-kaca.

“Aku takut banget, Sayang.”

Gana menggenggam tangan istrinya perlahan.

“Aku tahu.”

“Aku nggak akan bisa maafin diriku sendiri kalau sampai kamu juga sakit.”

Kalimat itu membuat dada Gana terasa sesak.

“Ana.”

“Aku serius.”

Air mata Ana mulai jatuh.

“Kalau ternyata kamu positif karena aku… aku nggak tahu harus hidup gimana.”

Gana langsung memegang wajah istrinya pelan.

“Dengar aku baik-baik.”

Ana menatapnya dengan napas gemetar.

“Apapun hasilnya nanti… itu bukan cuma salah kamu.”

“Tapi virusnya dari aku…”

“Iya. Tapi hidup nggak sesederhana nyari siapa yang salah.”

Ana menangis semakin pelan.

“Aku tetap takut.”

“Manusia memang selalu takut sama sesuatu yang belum pasti.”

Gana tersenyum kecil meski wajahnya sendiri tegang.

“Tapi kita jalanin aja dulu.”

Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat panjang.

Ana terus menggenggam tangan Gana sepanjang jalan.

Tangannya dingin.

Sesekali ia menarik napas panjang seperti sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Namun pikirannya terus ramai.

Ia membayangkan banyak kemungkinan buruk.

Bagaimana jika Gana positif?

Bagaimana jika anak-anak kehilangan kedua orang tuanya?

Bagaimana jika hidup mereka berubah semakin berat?

“Ana.”

“Hm?”

“Kamu terlalu jauh mikirnya.”

Ana tersenyum kecil.

“Aku nggak bisa berhenti.”

“Kalau semua kemungkinan buruk dipikirin terus, manusia bisa capek sebelum hidup benar-benar terjadi.”

Ana terdiam.

Kadang Gana memang selalu punya cara sederhana untuk menenangkan pikirannya.

Sesampainya di rumah sakit, suasana ruang tunggu terasa dingin.

Ana duduk diam sambil menatap lantai.

Sementara Gana mencoba terlihat tenang meski sebenarnya jantungnya juga berdetak cepat.

Nama Gana akhirnya dipanggil untuk pemeriksaan.

“Saya masuk dulu ya,” ucap Gana pelan.

Ana langsung memegang tangannya erat.

“Sayang…”

“Hm?”

“Kalau hasilnya nggak baik…”

Lihat selengkapnya