Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #14

Ketakutan seorang ibu #14

Malam itu udara terasa dingin menyusup setelah hujan mengguyur sejak petang. Jam dinding telah melewati angka 23.15, tetapi Ana belum juga terlelap. Ia duduk di ruang tengah dengan penerangan redup, membiarkan layar televisi menyala tanpa benar-benar menyimak tayangannya.

Jemarinya perlahan membuka lembar demi lembar album foto kecil milik anak-anak. Foto pertama memperlihatkan Alia saat baru lahir—sosok mungil kemerahan dengan mata terpejam rapat. Di lembar berikutnya, ada Ali yang tertawa riang sambil menggigit pemicu kendali televisi. Lalu foto keluarga di pantai, serta momen ulang tahun yang bersahaja. Potret-potret sederhana yang dulu terasa biasa kini menjelma menjadi kenangan yang teramat berharga.

Usapan jemari Ana di atas paras Alia terhenti. Kelembapan membayang di sudut matanya.

Gana, yang baru melangkah keluar dari kamar, menghentikan langkah begitu mendapati istrinya masih terjaga. "Belum tidur, Ana?"

Ana buru-buru menyapu sudut matanya. "Belum mengantuk, Mas."

Gana tahu ada ganjalan yang disembunyikan. Ia mendekat, lalu mengambil posisi duduk di samping istrinya. "Ada apa?"

Ana menggeleng pelan. Namun semakin ia berusaha memulas ketenangan, kelopak matanya justru kian memerah. Pandangan Gana tertuju pada album di pangkuan istrinya.

"Melihat foto anak-anak?"

Ana mengangguk singkat. Keheningan sempat mengambil alih ruangan sebelum Ana akhirnya bersuara dengan nada yang teramat lirih.

"Mas..."

"Ya?"

"Bagaimana kalau anak-anak... terkena dampaknya?"

Dada Gana mendadak terasa terimpit. Meski hasil pemeriksaannya sendiri telah dinyatakan negatif, ia paham betul satu ketakutan terbesar Ana belum sepenuhnya terurai: kecemasan mendalam seorang ibu.

"Ana..."

"Aku sungguh-sungguh takut, Mas," potong Ana, suaranya mulai bergetar. "Dulu aku sempat menyusui mereka."

Lihat selengkapnya