Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #15

Rumah nenek #15

Pagi itu, rumah dibalut suasana yang berbeda.

Secara fisik, tak ada yang berubah. Cahaya matahari tetap menyusup melalui celah jendela dapur seperti biasa, membingkai uap nasi goreng yang menyerbakkan aroma gurih. Ali masih berlarian kecil menuntun mobil-mobilan plastiknya, sementara Alia sibuk memilah boneka yang akan dibawanya. Namun, ada beban tak kasatmata yang menggantung di udara, membuat pergerakan mereka terasa lebih lambat.

Ana berdiri di dekat kompor, mengaduk adonan telur dengan tatapan menerawang. Pikirannya melayang jauh dari wajan di hadapannya.

Di atas meja makan, dua tas kecil milik anak-anak sudah bertengger rapi. Tas milik Alia terisi dengan sangat cermat—pakaian lipat yang rapi, buku menggambar, kotak pensil warna, serta boneka kelinci kesayangannya yang sedikit kusam di bagian telinga akibat terlalu sering dipeluk saat tidur. Sebaliknya, tas ransel milik Ali tampak melendung acak. Isinya campur aduk antara mobil-mobilan, robot plastik tanpa lengan, kaos bergambar dinosaurus, biskuit setengah remuk, hingga sebatang sendok plastik yang entah bagaimana bisa masuk ke sana.

"Ayah! Kardus ini ikut dimasukkan ke mobil, ya!" seru Ali sembari menyeret kardus bekas berisi tumpukan mainan bongkar pasang.

Gana terkehit pelan melihat tingkah putranya. "Ali mau pindah rumah?"

"Ini penting semua, Ayah!" tegas Ali dengan ekspresi sangat serius.

"Masa semuanya penting?"

Ali mengangguk mantap. "Penting sekali!"

Ana yang menyaksikan interaksi itu sempat tersenyum tipis. Namun, binar senyum itu memudar begitu cepat. Setiap kali pandangannya bertaut pada wajah polos kedua buah hatinya, rongga dadanya mendadak terasa terimpit.

Hari itu, mereka telah sepakat untuk menitipkan Alia dan Ali sementara waktu di rumah sang nenek.

Keputusan tersebut tidak lahir secara mendadak. Selama beberapa pekan terakhir, kondisi emosional Ana belum sepenuhnya stabil. Ada hari-hari ketika ia tampak sanggup menjalani rutinitas dengan baik—bekerja, memulas senyum, dan menyapa tetangga. Namun, ada pula malam-malam kelam ketika ia memilih mengurung diri di kamar mandi, meredam isak tangisnya di balik deru kran air agar tak terdengar oleh anak-anak. Ketakutan akan masa depan, bayang-bayang masa lalu, dan rasa bersalah yang belum usai sering kali datang merayap tanpa permisi.

Ketidakstabilan itu rupanya mulai tertangkap oleh kepekaan anak-anak.

"Mama kenapa sering kelihatan sedih?"

Pertanyaan polos yang dilontarkan Alia beberapa hari lalu masih terngiang jelas di telinga Ana. Saat itu, Ana hanya mengusap kepala putrinya dan beralasan bahwa ia sekadar kelelahan akibat pekerjaan. Namun malamnya, di balik pintu kamar yang tertutup, Ana menumpahkan kesedihannya di pundak Gana.

"Aku tidak ingin mereka tumbuh besar dengan menyaksikan ibunya terus-menerus rapuh seperti ini, Mas," bisik Ana malam itu.

"Kamu manusia biasa, Ana," tutur Gana lembut.

"Tapi mereka masih sangat kecil," sahut Ana lirih, air matanya menetes di kain kemeja suaminya. "Aku takut aura sedihku menular pada mereka."

Dari percakapan di malam dingin itulah, gagasan untuk menitipkan anak-anak di rumah nenek mulai dibicarakan. Keputusan itu diambil bukan untuk melarikan diri dari tanggung jawab, melainkan untuk memberi ruang bagi Ana agar bisa menata batinnya secara utuh.

Namun, ketika momen perpisahan sementara itu benar-benar tiba, Ana menyadari betapa hatinya sama sekali belum siap.

Ia melangkah pelan memasuki kamar anak-anak yang pintunya sedikit terbuka. Ana duduk di tepi peraduan kecil milik Ali, jemarinya menyapu permukaan sprei bergambar luar angkasa. Di pojok bantal, boneka dinosaurus hijau kesayangan putranya tergeletak begitu saja. Ana mengambilnya, merengkuh benda empuk itu ke dadanya sembari memejamkan mata.

"Kenapa rasanya sesak sekali..." bisiknya pada keheningan kamar.

Pintu berderit pelan. Gana melangkah masuk, lalu menghentikan langkahnya saat mendapati bahu istrinya bergetar.

"Kamu menangis lagi?"

Ana cepat-cepat menyapu sudut matanya dengan ujung lengan baju, mencoba menatap suaminya. "Aku... rasanya tidak sanggup, Mas."

Gana berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Ana. "Kita tidak sedang membuang mereka, Ana."

"Aku tahu..." suara Ana tercekat. "Tapi rumah ini akan terasa sangat asing tanpa mereka. Aku terbiasa mendengar lengkingan tawa mereka, teriakan memanggil Mama, atau pertengkaran kecil memperebutkan mainan. Aku takut keheningan di sini justru makin menyiksaku."

Gana membawa Ana ke dalam pelukannya, membiarkan istrinya bersandar sejenak. Di saat-saat tertentu, keputusan yang paling bijak memang harus dibayar dengan rasa sakit yang tak mudah ditanggung.

"Mama!" suara jernih Alia memecah keheningan saat ia melangkah masuk sambil memeluk boneka kelincinya. "Alia sudah rapi!"

Ana segera menyapu sisa kelembapan di pipinya, lalu menyunggingkan senyum hangat. "Anak Mama cantik sekali."

"Tentu, kan mau main ke rumah Nenek!" sahut Alia riang.

Ali menyusul di belakangnya, membawa tiga buah mobil-mobilan kecil di kedua tangannya. "Ali juga sudah siap! Tapi sepatu Ali mana, Ayah?"

Lihat selengkapnya