Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #16

Tidak Terdeteksi #16

Sejak Alia dan Ali tinggal sementara di rumah nenek, hidup Ana berubah menjadi sangat sunyi.

Awalnya, ia berpikir dirinya akan menikmati suasana rumah yang lebih tenang. Tidak ada mainan berserakan di karpet ruang tengah, tidak ada perdebatan kecil memperebutkan pemicu kendali televisi, atau suara tangisan di pagi hari. Namun ternyata, ketenangan yang meregang terlalu lama justru terasa menyiksa. Rumah itu seperti kehilangan napasnya.

Hari-hari pertama berlalu dengan canggung. Ana masih sering bertindak di luar kesadarannya.

"Alia, jangan berlari di situ..."

Kalimat peringatan itu terlontar begitu saja saat ia melihat gelas di tepi meja hampir tersenggol jemarinya sendiri. Ana mendadak tertegun. Pandangannya mengedar ke sudut ruang tengah yang melompong. Keheningan menyambutnya. Dadanya seketika terasa sesak.

Kadang, ia masuk ke kamar anak-anak hanya untuk duduk di sana selama beberapa menit. Ia melihat tempat tidur kecil mereka yang rapi, melipat selimut yang sebenarnya tidak perlu dilipat lagi, atau menyusun boneka kain yang sudah tertata di pojok peraduan. Hal-hal kecil yang dulu terasa melelahkan, kini justru menjadi hal yang paling ia rindukan.

Malam hari menjadi waktu yang paling berat. Biasanya sebelum tidur, Alia akan meminta dibacakan dongeng tentang putri dan naga—kisah yang sudah Ana ulang berpuluh-puluh kali. Sementara Ali selalu tidur lelap sembari memeluk erat lengan ibunya. Jika Ana bergerak sedikit saja, anak kecil itu akan terbangun. Kini, yang ada hanya suara deru kipas angin dan detak jarum jam dinding. Sunyi. Dan kesunyian sering kali membuat isi kepala manusia menjadi jauh lebih berisik.

Di tengah usaha menata kerinduan itu, jadwal kontrol rutin Ana ke klinik VCT kembali tiba. Hari itu terasa sangat penting, sebab hasil tes viral load—pemeriksaan jumlah virus dalam darah yang sempat diambil sampelnya saat mereka terakhir kali berkonsultasi mengenai ketakutan penularan pada anak-anak—akhirnya resmi keluar.

Di ruang tunggu poliklinik, Ana duduk bersisian dengan Gana. Jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan. Ada cemas yang biasa merayap, namun kali ini ditenangi oleh kepasrahan yang lebih dewasa.

Saat nama mereka dipanggil masuk, dokter menyambut dengan senyum hangat, lalu membuka map lembaran laboratorium medis yang baru tiba di mejanya.

"Bu Ana, ingat pemeriksaan sampel darah untuk evaluasi viral load yang kita ambil saat kunjungan terakhir kemarin?" buka dokter dengan nada suara teratur dan tenang.

Ana mengangguk pelan, menahan napasnya sejenak. "Iya, Dok. Yang waktu itu..."

"Hasil resminya sudah keluar hari ini," dokter membalikkan lembaran kertas tersebut ke arah Ana dan Gana. "Dan hasilnya sangat menggembirakan. Jumlah virus dalam darah Ibu sudah masuk dalam kategori undetectable—tidak terdeteksi oleh alat laboratorium."

Mata Ana melebar pelan. "...Tidak terdeteksi, Dok?"

"Betul," dokter mengangguk mantap. "Artinya, terapi obat ARV yang Ibu jalani secara disiplin terbukti sangat efektif menekan perkembangbiakan virus hingga ke tingkat paling minimal. Seperti yang pernah saya jelaskan saat Ibu cemas soal anak-anak kemarin, kondisi undetectable ini membuat daya tahan tubuh Ibu terus membaik dan risiko penularan menjadi sangat-sangat rendah."

Penjelasan itu mengalir bagai air sejuk yang membasahi dada Ana. Ada rasa lega luar biasa yang membuncah pelan—memberinya bukti nyata bahwa tubuhnya tidak lagi menjadi ancaman, dan usahanya untuk bertahan demi anak-anak memberikan hasil yang indah.

Sepulang dari rumah sakit, fokus Ana sepenuhnya tercurah pada satu hal: hari Minggu. Hari di mana ia dan Gana akan menyambangi rumah nenek.

Sejak mendengar kepastian hari keberangkatan dari Gana, Ana seperti memiliki pijakan baru. Setiap pagi, ia tanpa sadar menghitung hari menuju akhir pekan. Sabtu malam, kantuk bahkan tak menghampirinya. Ia sibuk menyiapkan perbekalan—memilih pakaian ganti anak-anak, membeli camilan favorit mereka, hingga mengaduk adonan puding cokelat kesukaan Ali di tengah malam.

Gana yang memperhatikan kesibukan istrinya dari ambang pintu dapur tersenyum samar. "Kamu bersemangat sekali malam ini."

Ana menoleh sembari merapikan cetakan puding. "Aku sangat merindukan mereka, Mas."

"Sangat kelihatan."

"Pikiranku sudah tertuju ke hari esok sejak tiga hari yang lalu," aku Ana jujur, lalu menyunggingkan senyum tipis. Namun, sudut matanya kembali melembab. "Aku baru benar-benar sadar... betapa besar porsi hidupku yang diisi oleh keberadaan mereka."

Gana menatap istrinya dalam-dalam. Ia paham betul, anak-anak bukan sekadar pelengkap hidup bagi Ana, melainkan alasan terbesar yang membuatnya sanggup bertahan melewati masa-masa paling kelam.

Minggu pagi akhirnya tiba. Ana terbangun jauh lebih awal dari biasanya. Ia bergerak cepat di dapur, menyiapkan deretan hidangan kesukaan buah hatinya—nasi goreng telur untuk Ali, mi goreng manis untuk Alia, ayam kecap, serta puding cokelat dingin yang telah mengeras sempurna di lemari es sejak semalam.

Lihat selengkapnya