Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #17

Dekat tanpa takut #17

Rumah terasa sangat sunyi malam itu.

Sekembalinya dari rumah orang tua Ana, langkah kaki terasa begitu menggema di atas ubin ruang tengah. Ana berjalan pelan sembari menjinjing tas kain kecil berisi pakaian kotor anak-anak yang tadi sempat dipakai bermain di pekarangan.

Biasanya, rumah itu memiliki riaknya sendiri. Ada lengkingan Ali yang berteriak menirukan suara mobil balap, celoteh Alia yang memanggil ibunya dari balik pintu kamar, atau pertengkaran-pertengkaran kecil memperebutkan hal sepele. Namun malam ini, hanya ada deru rinai hujan yang membentur kaca jendela.

Ana meletakkan tas di sudut sofa, lalu mematung cukup lama. Ada keanehan yang selalu berulang: setiap kali usai bertamu ke rumah nenek, rasa rindu pada buah hatinya justru kian membuncah.

Gana yang baru selesai mengunci pintu mengamati istrinya. "Kamu lelah, Ana?"

Ana menoleh, tersenyum samar. "Lelah... tapi hatiku sangat lapang."

"Kelihatan sekali," sahut Gana hangat.

Ana melangkah ke kamar anak-anak, mendorong pintunya perlahan. Suasana di dalam masih persis sama seperti saat mereka tinggalkan. Boneka kelinci milik Alia terduduk anggun di atas peraduan, sementara beberapa mobil-mobilan Ali berserakan di bawah meja belajar.

Ana duduk melipat kaki di atas karpet, memandangi ruangan itu dengan tatapan teduh. "Aku rindu riuh suara mereka..." bisiknya pelan.

Gana bersandar pada bingkai pintu di belakangnya. "Padahal kita baru berpisah beberapa jam."

"Aku tahu," Ana terkekeh lirih. "Tapi rumah ini mendadak terasa terlalu luas."

Anak-anak memang bukan sekadar penghuni. Merekalah poros yang membuat rumah itu memiliki jiwanya sendiri.

Malam kian merambat turun. Usai membersihkan diri, Ana mengambil tempat di sofa ruang tengah sembari menyesap teh hangat. Ia mengenakan sweater rajut krem milik Gana yang tampak kebesaran di tubuhnya, menutupi jemari tangannya yang menyerap hangatnya cangkir. Rambutnya masih sedikit basah di bagian ujung.

Gana mengambil posisi duduk di lantai karpet, menyandarkan belakang kepalanya pada lutut sang istri. Lampu ruang tengah sengaja dipadamkan, menyisakan pendar redup dari lampu sudut. Hujan di luar turun dengan ritme yang konsisten, menciptakan suasana tenang yang sudah sangat lama tidak mereka keccap bersama.

Biasanya, jam-jam seperti ini dipenuhi oleh kerumitan rutinitas: menyapu sisa mainan, membujuk Ali agar mau memadamkan televisi, hingga menemani Alia memoles buku gambarnya. Kini, hanya ada mereka berdua.

"Kamu kelihatan jauh lebih tenang hari ini," gumam Gana pelan.

Ana mengusap lembut helai rambut suaminya. "Karena aku sudah melihat mereka baik-baik saja."

"Raut wajahmu kelihatan lebih hidup."

"Mereka memang sumber energiku, Mas."

Keheningan kembali mengambil alih ruangan selama beberapa saat, bersatu dengan irama rintik air di luar.

"Mas..." panggil Ana lirih.

"Hm?"

"Terima kasih, ya."

Gana mendongak sedikit. "Untuk apa?"

"Untuk tidak pernah melangkah mundur. Untuk tetap bertahan sampai detik ini."

Gana menegakkan tubuhnya, berputar menghadap Ana lalu menatap manik mata istrinya dalam-dalam. "Aku tidak pernah berniat pergi ke mana pun, Ana."

"Tapi dunia kita berubah begitu drastis," suara Ana terdengar makin serak. "Dan aku tahu itu sama sekali tidak mudah untukmu."

Lihat selengkapnya