Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #18

Belajar menjadi tenang #18

Hari-hari setelah Alia dan Ali tinggal sementara di rumah nenek perlahan membentuk ritme kehidupan baru bagi Ana dan Gana.

Rumah mereka berubah menjadi jauh lebih tenang—bahkan terlalu tenang bagi telinga yang terbiasa oleh riuk. Tak ada derap langkah kaki kecil yang berlarian dari koridor ke ruang tengah, tak ada pertengkaran sepele merebutkan pemicu kendali televisi, atau riuh suara kartun di pagi hari.

Awalnya, Ana merasa sudut-sudut dinding itu seolah kehilangan jiwanya. Namun perlahan, ia mulai belajar mengecap sisi lain dari kesunyian tersebut.

Pagi hari kini berjalan tanpa derap terburu-buru. Biasanya Ana harus bergerak cepat menyajikan sarapan sembari membujuk anak-anak bersiap. Kini, ia bisa duduk lebih lama di meja makan, meremas cangkir teh hangatnya yang berasap tipis. Kadang bahkan terlalu lama melamun, hingga Gana yang menyadari mengulas senyum geli.

"Kamu melamunkan apa lagi?" tegur Gana pelan.

Ana tersadar dari lamunannya, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Masih terbiasa menunggu tawa mereka di jam-jam begini."

"Merindukan anak-anak?"

"Sangat," sahut Ana mantap.

Gana terkekeh ringan sembari mengoleskan selai pada roti bakarnya. "Padahal baru beberapa hari."

"Bagi seorang ibu, beberapa hari tanpa keriuhan mereka itu terasa seperti berminggu-minggu, Mas," balas Ana.

Gana tertawa pelan mendengarnya, meski di dalam batin ia sangat memahami rasa hampa itu. Selama ini, poros dunia Ana memang berputar di sekeliling Alia dan Ali. Ketika anak-anak tak hadir di sisinya, ada ruang besar di dada Ana yang mendadak terasa melompong.

Meski begitu, perlahan Ana mulai menemukan pijakan baru. Ia mampu menyelesaikan pekerjaan kantornya dengan lebih fokus, menata jam tidurnya agar lebih teratur, dan memiliki ruang untuk merawat kesehatan dirinya sendiri.

Dan yang paling kentara, ia dan Gana kembali menemukan ruang berdua—bukan melulu sebagai figur ayah dan ibu, melainkan sebagai pasangan.

Suatu malam, mereka menghabiskan waktu di teras rumah. Udara malam terasa dingin mengusap kulit usai gerimis sore harinya. Ana tenggelam dalam sweater abu-abu kebesaran milik Gana, sementara suaminya duduk santai memandangi jalanan kompleks yang telah lengang.

"Rasanya agak aneh, ya," ujar Ana pelan.

"Aneh kenapa?"

"Kita baru punya ruang untuk mengobrol sepanjang ini setelah rumah sepi," jawab Ana. "Dulu, setiap malam rasanya tubuh ini sudah kehabisan energi hanya untuk bertahan melewati hari."

Gana terkekeh ringan. "Memang begitu kan risikonya mengurus anak-anak yang masih kecil?"

Ana tersenyum. "Tapi aku bersyukur... malam ini kita bisa bicara banyak hal tanpa terdistraksi."

Lihat selengkapnya