Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #19

Cahaya di Balik Mendung #19

Pagi itu langit tampak mendung. Awan menggantung rendah seolah membawa keharuan yang perlahan meluruh dari dalam dada Ana.

Mobil yang dikendarai Gana melaju pelan membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Tidak banyak percakapan di antara mereka. Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan, melainkan karena keduanya sedang meresapi perubahan besar yang terjadi dalam hidup mereka beberapa pekan terakhir.

Ana duduk sembari meremas ujung sweater-nya. Sesekali ia menarik napas panjang, meresapi rasa lega yang kini menggantikan cemas berlebih.

Gana melirik istrinya sekilas. "Kamu masih tegang?"

Ana tertawa kecil, suara tawanya terdengar jauh lebih renggang dan ringan. "Sedikit, Mas. Kebiasaan tiap kali mencium aroma rumah sakit."

"Padahal kondisi fisikmu sudah jauh melesat dibanding bulan lalu."

"Aku tahu," Ana tersenyum tipis. "Hanya saja... tempat ini selalu mengingatkanku pada perjalanan panjang yang sudah kita lewati."

Pemeriksaan rutin dan pengambilan ulang resep ARV kali ini terasa berbeda. Sejak dokter menyatakan jumlah virusnya telah masuk kategori undetectable (tidak terdeteksi) beberapa waktu lalu, tubuh Ana perlahan menunjukkan pemulihan yang nyata. Berat badannya merambat naik, demam malam hari tak pernah bertandang lagi, dan warna kulitnya tampak kembali segar.

Namun yang jauh lebih berdampak adalah kesehatan jiwanya. Kata undetectable itu tidak lagi sekadar istilah medis di lembar laboratorium, melainkan jembatan yang membawa Ana keluar dari penjara rasa bersalah.

Rumah sakit tampak ramai seperti biasa. Orang-orang berlalu-lalang membawa jalurnya masing-masing—ada yang datang menanggung cemas, ada yang menanti kabar baik, ada pula yang berjuang merawat harapan.

Saat nama Ana dipanggil oleh perawat poliklinik, ia melangkah masuk bersama Gana. Tak ada lagi pijakan kaku seperti pekan-pekan awal diagnosis.

Dokter menyambut mereka dengan senyuman hangat yang familier. "Selamat pagi Bu Ana, Pak Gana. Bagaimana perkembangannya setelah evaluasi viral load terakhir kita kemarin?"

"Sangat baik, Dok," jawab Ana mantap. "Nafsu makan saya membaik, tidur juga lebih nyenyak."

"Obatnya selalu diminum tepat waktu?"

"Rutin, Dok. Tidak pernah lewat sama sekali."

Dokter mengangguk puas sembari menatap layar monitor yang menampilkan rekam medis Ana. "Hasil evaluasi fisik dan imunitas Ibu menunjukkan tren yang sangat positif. Status undetectable yang Ibu capai terbukti terjaga dengan sangat konsisten. Ini membuktikan bahwa komitmen Ibu terhadap terapi obat bekerja luar biasa."

Mendengar penegasan itu kembali secara langsung dari mulut dokter, dada Ana berdesir hangat. Air mata yang kali ini terbit di sudut matanya bukan lagi lelehan keputusasaan, melainkan luapan rasa syukur yang mendalam.

Lihat selengkapnya