Pagi itu, alarm berbunyi tepat pukul lima lewat tiga puluh menit.
Ana membuka matanya perlahan. Selama beberapa detik, ia hanya berbaring diam memandangi garis-garis tipis di langit-langit kamar, menyimak keheningan yang diselingi suara napas teratur Gana di sampingnya.
Dulu, pagi hari adalah rentang waktu yang paling membingungkan sekaligus menakutkan baginya. Setiap kali terbangun dari tidur, tubuhnya terasa amat berat, seolah dipatok ke kasur oleh sesak ketakutan yang menumpuk. Kepalanya dipenuhi bayang-bayang kelam, dan hidup terasa berjalan tanpa arah yang pasti.
Namun, beberapa bulan terakhir, ada sesuatu yang bergeser secara perlahan di dalam dirinya. Ia mulai menyambut fajar dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Bukan karena seluruh masalah dan rekam medisnya telah menguap begitu saja, melainkan karena ia mulai belajar berdamai dengan kenyataan hidupnya sendiri.
Ana bergeser perlahan, lalu duduk di tepi tempat tidur untuk merapikan rambutnya yang berantakan. Di atas meja nakas, tepat di samping lampu tidur, sudah bersanding segelas air putih yang semalam disiapkan oleh Gana, berdekatan dengan tempat obat ARV yang selalu rutin ia konsumsi setiap malam sebelum tidur.
Ana menatap wadah obat itu selama beberapa detik. Dulu, setiap kali matanya membentur obat tersebut—terutama saat meminumnya di malam hari—dadanya seperti dihantam godam tajam. Obat itu berderak bagaikan pengingat yang kejam bahwa dirinya tidak lagi utuh, bahwa ia menyandang penyakit dalam darahnya.
Namun kini, sudut pandangnya mulai berubah. Rutinitas minum obat setiap malam tak lagi ia pandang sebagai penanda kehancuran atau aib, melainkan sebagai jangkar yang membuatnya tetap tegak berdiri dan terbangun sehat setiap pagi seperti hari ini.
Ia meraih gelas air putih itu, meminumnya perlahan untuk menyegarkan tenggorokannya, lalu mengulas senyum tipis.
"Aku masih hidup," gumamnya pelan pada sunyi.
"Udah bangun?"
Suara serak khas orang baru terbangun terdengar dari balik selimut. Ana menoleh, mendapati Gana sedang mengucek matanya pelan.
"Iya," sahut Ana lembut.
"Jadi jogging?"
Ana mengangguk mantap. "Jadi, dong."
Gana terkekeh pelan, menarik selimutnya sedikit lebih rendah. "Wah, rajin banget sekarang."
Gemas dengan godaan suaminya, Ana meraih bantal kecil di sampingnya lalu mendaratkannya pelan ke arah wajah Gana. "Jangan ledek, ya!"
"Habisnya, dulu kalau disuruh olahraga jawabnya 'nanti dulu' terus," gurau Gana seraya menahan bantal itu.
Ana tertawa kecil, walau ada pendar perenungan di matanya. "Ya... dulu hidupku kan memang masih berantakan."
Kalimat itu terucap dengan nada santai, namun di dalamnya tersimpan muatan perjalanan panjang yang penuh liku dan air mata.
Beberapa bulan belakangan, mereka memang mulai merintis kebiasaan baru: berjalan santai dan jogging di pagi hari. Awalnya, itu hanyalah ajakan sederhana dari Gana yang berbisik, "Ayo, kita mulai pola hidup yang lebih sehat bersama." Ana tidak pernah menyangka bahwa satu langkah kecil itu perlahan mengubah arsitektur batinnya secara menyeluruh.
Jogging pagi bukan lagi sekadar aktivitas fisik untuk membakar kalori. Bagi Ana, itu adalah ritual harian dan simbol bahwasanya ia telah memutuskan untuk memilih hidup. Memilih untuk merawat tubuhnya, serta hadir secara penuh untuk dirinya sendiri.
Mereka melangkah keluar melewati pintu depan ketika fajar masih menyisa pendar kebiruan yang teduh. Udara pagi merengkuh kulit mereka dengan kesegaran yang dingin. Ana menarik napas panjang-panjang, membiarkan oksigen murni memenuhi paru-parunya.
"Aku suka banget suasana pagi begini," ujar Ana melirik ke sekeliling kompleks yang masih lengang.
Gana tersenyum tipis di sampingnya. "Padahal dulu kamu paling susah kalau dibangunkan pagi-pagi."
"Ya jelas," kekeh Ana. "Dulu kan aku baru bisa tidur jam dua pagi."
"Ngapain aja jam segitu?"
"Mikirin hidup," jawab Ana singkat.
Gana tertawa renyah. "Kalau sekarang?"
Ana memandang jalanan aspal di depan mereka yang membentang tenang. "Sekarang aku lebih capek menjalani hidup daripada mikirin hidup."
Gelak tawa pecah di antara mereka, mengusir sisa kantuk yang hinggap.
Di awal-awal memulainya, aktivitas olahraga ini terasa teramat menyiksa bagi Ana. Tubuhnya cepat sekali lungsur, napasnya tersengal-sengal, dan sering kali baru berlari lima menit ia sudah menyerah ingin duduk. Namun, Gana tak pernah sekalipun memburu atau memaksanya menembus batas.
"Pelan-pelan aja, Ana. Nggak ada yang mengejar kita," ucap Gana kala itu.
Sikap sabar itulah yang membuat Ana merasa aman. Gana tidak menuntutnya untuk langsung mendadak kuat. Suaminya cukup hadir dan menemaninya dalam tiap jengkal proses pemulihan itu.
"Capek?" tanya Gana saat melihat ritme langkah Ana agak melambat.
Ana mengangguk kecil seraya menyapu peluh tipis di dahi. "Dikit."
"Mau duduk dulu di bangku sana?"
Ana menggeleng. "Nggak usah. Aku mau lanjut."
Gana tersenyum bangga. Di balik ketetapan hati istrinya, ia melihat sesuatu yang dulu sempat padam kini menyala kembali: keinginan kuat untuk menjaga dan memperjuangkan dirinya sendiri. Dan baginya, pendar kebangkitan batin itu jauh lebih berharga daripada capaian fisik apa pun.
Mereka akhirnya memperlambat langkah dan berhenti di area taman kecil tak jauh dari rute kompleks. Ana mendudukkan diri di bangku kayu, mengatur napasnya yang memburu. Keringat membasahi pelipis dan celah lehernya, namun senyum lega terpatri murni di wajahnya.