Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #22

Waktu yang tepat untuk mengerti #22

Malam itu, suasana rumah terasa amat tenang, hampir mendekati sunyi yang menggigit.

Hujan deras yang mengguyur sejak sore perlahan mereda, menyisakan gemericik sisa air yang jatuh dari talang dan membawa hawa dingin yang merayap menembus celah jendela.

Di ruang tengah yang diterangi pendar lampu remang, Ana duduk bersila di atas karpet. Di pangkuannya, tertumpuk pakaian anak-anak yang baru selesai dilipatnya dengan rapi—kaos kecil gambar dinosaurus milik Ali dan piyama katun bergambar bunga kesayangan Alia.

Sudah hampir dua minggu kedua buah hati mereka menginap di rumah nenek. Tanpa kehadiran mereka, kediaman itu mendadak terasa begitu luas dan hampa.

Tidak ada lagi riuh langkah kaki mungil yang berlarian dari kamar ke ruang tamu. Tidak ada perdebatan kekanak-kanakan memperebutkan remote televisi. Tak ada lengkingan tangis Ali saat mainannya diusik sang kakak, atau celoteh panjang Alia yang tak pernah kehabisan pertanyaan tentang hal-hal acak di sekitarnya.

Diam-diam, seluruh keributan yang biasanya menguras energi itu kini menjadi hal yang paling dirindukan oleh Ana.

Langkah kaki teratur mendekat. Gana keluar dari arah dapur sambil membawa dua gelas susu hangat yang uapnya masih membumbung tipis. Ia mendudukkan diri tepat di samping istrinya, meletakkan satu gelas ke genggaman Ana.

"Asli, ya... rumah kalau nggak ada anak-anak mendadak kayak bangunan kosong," celetuk Gana sambil mengedarkan pandangan ke sudut-sudut ruangan yang sepi.

Ana mengulas senyum tipis. "Iya, Mas. Terlalu hening."

"Belum mau tidur?" tanya Gana lembut.

"Belum ngantuk." Ana menggeleng pelan, lalu pandangannya kembali jatuh pada tumpukan baju kecil di pangkuannya.

Gana memperhatikan jemari istrinya yang usap-usap serat kain piyama Alia. "Kangen, ya?"

Pertanyaan sederhana itu langsung memancing tawa kecil dari bibir Ana, yang sedetik kemudian disusul oleh genangan air mata di pelupuk matanya.

"Banget," bisik Ana jujur. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku baru benar-benar sadar... betapa sepinya rumah ini kalau nggak ada mereka."

Gana merengkuh pundak Ana, mengusapnya perlahan. "Sebentar lagi juga mereka pulang. Neneknya kan sudah janji akhir minggu ini."

Ana mengangguk pelan, menyetujui. Namun, sorot matanya mengisyaratkan hal lain. Pikirannya malam itu sedang sarat oleh beban yang tak terlihat. Ada sebuah kegelisahan mendalam yang telah beberapa pekan belakangan mengendap di benaknya—sebuah kecemasan yang belum pernah ia katakan secara gamblang.

"Mas..."

"Hm?"

"Kamu pernah kepikiran nggak... soal masa depan nanti?" Ana meremas pinggiran kaos Ali yang dipegangnya.

Gana menoleh, menatap samping wajah istrinya. "Masa depan yang bagaimana maksudmu?"

Ana menahan napas sejenak, mengumpulkan keberanian. "Soal anak-anak. Bagaimana kalau suatu hari nanti... mereka tahu tentang penyakitku?"

Keheningan seketika menyergap ruang tengah. Suara detak jam dinding yang teratur mendadak terdengar begitu nyaring di telinga mereka.

Gana menarik napas panjang. Pertanyaan itu sebenarnya merupakan bayangan hitam yang selama ini kerap melintas di kepalanya sendiri, namun belum pernah berani mereka bedah bersama.

"Aku takut banget mereka bakal kecewa sama aku, Mas," lanjut Ana dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi.

Gana langsung menggenggam erat telapak tangan istrinya. "Jangan pernah berpikir begitu, Ana."

"Tapi itu kemungkinan yang nyata," potong Ana pelan sambil menunduk. "Kalau suatu hari mereka paham ibunya mengidap HIV... bagaimana kalau timbul rasa jijik di hati mereka? Bagaimana kalau mereka merasa malu punya ibu seperti aku?"

Setitik air mata luruh menepaki pipi Ana. Seluruh muatan ketakutan yang selama ini ia kunci rapat-rapt di balik dadanya, akhirnya tumpah malam itu.

Gana terdiam cukup lama, menyerap tiap kata yang terlontar dari bibir istrinya.

"Menurutku, Alia dan Ali tidak akan pernah memandangmu dengan cara semacam itu," tutur Gana rendah dan tenang.

Ana menggeleng kecil dengan senyum pahit. "Kamu tahu sendiri bagaimana stigma masyarakat memandang kondisi medis ini, Mas. Banyak orang langsung melabeli hal-hal buruk. Aku cuma takut... anak-anak kita nanti ikut terpengaruh dan memandangku dengan kacamata yang sama."

Gana menatap manik mata Ana dengan kesungguhan yang dalam. "Kalaupun hari itu tiba dan mereka harus tahu... aku mau mereka mendengar seluruh kebenarannya langsung dari mulut kita sendiri. Bukan dari desas-desus orang lain."

Lihat selengkapnya