Pagi itu, Ana terbangun jauh lebih awal dari biasanya.
Jam dinding di ruang tengah bahkan belum genap menunjukkan pukul enam, tetapi ia sudah berdiri tegap di dapur. Tangannya cekatan memotong sayuran dan menyiapkan bahan sarapan, diiringi irama denting spatula yang beradu dengan wajan.
Rona wajahnya tampak memancarkan pendar yang sama sekali berbeda hari itu. Lebih cerah, lebih segar, dan benar-benar bugar.
Sudah hampir tiga bulan Alia dan Ali menginap di rumah nenek mereka demi memberi ruang bagi proses pemulihan fisik dan batin Ana. Dan hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba: kedua buah hatinya akan pulang.
"Wah, semangat banget pagi ini?"
Suara serak Gana terdengar dari ambang pintu dapur. Suaminya berdiri menyandar dengan rambut yang masih agak berantakan khas bangun tidur.
Ana berbalik, melempar senyum lebar yang murni tanpa beban. "Hari ini kita jemput anak-anak, Mas!"
Gana terkekeh pelan, melangkah mendekat. "Pantas saja dari tadi senyum-senyum sendiri."
"Aku kangen rumah berantakan," aku Ana jujur.
Gana mengangkat sebelah alisnya bercanda. "Lho, bukannya kemarin-kemarin ada yang mengeluh capek kalau rumah seperti kapal pecah?"
Ana melirik suaminya, lalu tertawa kecil. "Itu kan beda cerita!"
Gelak tawa mengisi sudut dapur mereka. Namun di balik candaan itu, benak keduanya menyimpan kerinduan yang amat meluap.
Selama beberapa bulan tanpa anak-anak, kediaman mereka mendadak terasa terasing. Terlalu rapi, terlalu lengang. Tidak ada mainan plastik yang berserakan di karpet, tidak ada pertengkaran kecil merebutkan jajanan, dan tak ada lengkingan suara mungil yang bersahut-sahutan memanggil "Mama!" atau "Papa!".
Ternyata, riuh rendah yang terkadang melelahkan itulah yang memberi nyawa agar sebuah rumah benar-benar terasa hidup.
Perjalanan melintasi jalanan kota menuju rumah ibu Ana terasa hangat. Sepanjang jalan, Ana tak henti-hentinya mengobrol tentang hal-hal kecil yang amat ia rindukan dari kedua anaknya: menu sarapan kegemaran Ali, kebiasaan Alia yang selalu minta didongengkan sebelum tidur, hingga kepolosan pola pikir mereka.
Gana fokus menyetir sambil sesekali melirik istrinya, mengulas senyum tipis. Hatinya legah melihat pendar semangat yang perlahan tumbuh kembali di dalam diri Ana.
"Mas..." panggil Ana lembut.
"Iya?"
"Terima kasih, ya."
"Untuk apa lagi?"
"Karena waktu itu kamu yang mengusulkan agar anak-anak tinggal sementara di rumah Ibu." Ana mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Jujur, aku sempat marah dan kesal sekali sama kamu waktu itu. Aku pikir kamu berniat menjauhkanku dari mereka."
Padahal, saat itu Gana hanya ingin istrinya memiliki ruang lapang untuk memulihkan diri secara utuh—baik secara fisik dari penyesuaian obat maupun batin dari trauma diagnosis—tanpa harus berpura-pura kuat di depan anak-anak.
"Sekarang aku baru mengerti," lanjut Ana penuh perenungan. "Aku memang butuh jeda itu untuk berdamai dengan diriku sendiri."
"Dan sekarang?" pancing Gana pelan.
Ana menoleh, menyunggingkan senyum hangat. "Sekarang aku cuma ingin hadir sepenuhnya untuk mereka."
Begitu mobil Gana memasuki halaman rumah sang ibu, gema langkah-langkah kecil langsung terdengar berderap dari arah pintu depan.
"MAMAAAAAA!"