Gana mematikan mesin mobil setelah memarkirnya di garasi. Di kursi sebelah, Ana sudah tertidur lelap dengan kepala bersandar pada kaca jendela. Wajah istrinya tampak tirus di bawah temaram lampu teras, menyisa jejak kelelahan yang panjang dari hari-hari yang menguras energi.
Gana tidak langsung membangunkan Ana. Ia menyandarkan punggungnya ke jok, memejamkan mata rapat-rapat, lalu mengusap wajahnya yang kusam.
Rasa lelah itu mendadak menimbunnya seketika. Hari-hari yang dipenuhi jadwal rumah sakit, urusan pekerjaan kantor yang terbengkalai, serta keharusan untuk terus berlagak kuat di depan semua orang perlahan mengikis ketahanannya. Ada satu momen pendek di mana Gana hanya ingin duduk di dalam mobil yang hening itu—tanpa harus memikirkan jadwal kontrol kesehatan, tanpa harus menjawab pertanyaan anak-anak, dan tanpa perlu menjadi penopang bagi siapa pun.
Ia menghela napas berat. Bunyi napasnya yang kasar membuat Ana sedikit tersentak dan terbangun.
"Sudah sampai, Mas?" gumam Ana pelan sambil mengucek matanya.
"Sudah," jawab Gana singkat. Nadanya terdengar datar, sedikit ketus karena rasa kantuk dan pusing yang menyerang kepalanya.
Ana menoleh, menyadari raut tegang di wajah suaminya. "Kamu capek banget ya?"
Gana tidak langsung menjawab. Ia keluar dari mobil, mematikan lampu utama, lalu membuka pintu belakang untuk mengambil tas bawaan mereka. "Lumayan. Pusing," sahutnya pendek tanpa menatap Ana.
Respons yang dingin itu sempat membuat Ana tertegun di dalam mobil. Selama ini Gana selalu berusaha menutupi rasa lelahnya, namun malam ini, pertahanan suaminya jelas sedang menipis. Ana keluar dari mobil, menyusul langkah Gana yang sudah lebih dulu menuju pintu depan.
Di dalam rumah, suasana sudah hening. Ibu mertua yang menjaga anak-anak seharian sudah beristirahat di kamar tamu, sementara Alia dan Ali sudah terlelap di kamar mereka. Gana meletakkan tas di meja dapur, lalu melepas kemejanya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa—sebuah kebiasaan kecil yang biasanya sangat ia hindari.
Ana memperhatikan gestur itu. Ia berjalan mendekati dispenser, menuangkan segelas air hangat, lalu meletakkannya di dekat Gana.
"Minum dulu, Mas," ucap Ana halus.
Gana duduk di tepi sofa, memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia melihat gelas air itu, lalu menatap Ana yang berdiri ragu di depannya. Ada rasa bersalah yang mendadak menyengat dada Gana karena telah menunjukkan nada bicara yang kasar tadi.
"Maaf," gumam Gana pendek. Suaranya serak. "Aku cuma... agak pusing dari tadi sore."