TIDAK PERNAH SEPI

Rehab Abdullah
Chapter #1

ARC 1 : RUMAH DENGAN PINTU KETIGA

TIDAK PERNAH SEPI


BAGIAN 1: ARRIVAL


[HARI PERTAMA - SIANG]


Reza mematikan mesin mobil di depan pagar besi yang berkarat. Cat hijau lumutnya mengelupas, menampakkan logam coklat di bawahnya. Gerbang itu setengah terbuka—seperti menunggu, atau seperti tidak peduli lagi siapa yang masuk.


"Ini rumahnya?" tanya Dina, istrinya, dari jok penumpang. Nada suaranya datar. Bukan kagum, bukan kecewa. Hanya... datar.


"Warisan Mbah," jawab Reza sambil membuka pintu mobil. Udara sore menerpa wajahnya—lembap, bau tanah basah campur sesuatu yang manis membusuk. Mungkin buah jambu jatuh, pikirnya. "Lumayan kan? Gratis. Lumayan buat ngontrak selamanya."


Dina tidak menjawab. Dia turun dari mobil, menatap rumah dua lantai itu dengan mata yang sulit dibaca.


Rumah itu besar. Terlalu besar untuk warisan yang diberikan begitu saja. Dinding putihnya kusam, beberapa bagian ditumbuhi lumut hijau gelap. Jendela-jendela kayunya tertutup daun pintu yang cat coklatnya sudah hampir hitam. Genteng merah sebagian pecah, tapi struktur rumah masih kokoh—seperti sesuatu yang keras kepala, tidak mau roboh meski ditinggalkan puluhan tahun.


"Papa, aku mau pipis," bisik Aira, anak perempuan mereka yang berusia enam tahun, sambil menarik-narik ujung kemeja Reza.


"Sebentar, sayang. Kita masuk dulu."


Mereka berjalan melewati halaman depan. Rerumputan tinggi menutupi sebagian jalan setapak dari batu alam. Reza merasa ada yang mengikuti langkahnya—mungkin hanya angin yang menggerakkan rumput, tapi entah kenapa tengkuknya terasa dingin.


Pintu depan tidak terkunci.


Reza mendorong perlahan. Engselnya berbunyi—panjang, pelan, seperti erangan.


Interior rumah berbau pengap. Debu menari-nari di cahaya sore yang masuk lewat celah jendela. Lantai teraso putih kusam, beberapa bagian retak. Dinding masih tertempel wallpaper bunga-bunga pudar. Di sudut ruang tamu, ada meja kayu tua dengan kain putih yang sudah menguning menutupi sesuatu di atasnya.


"Lihat, ada sofanya," kata Dina sambil menunjuk sofa panjang berlapis kain coklat tua. "Mbah ninggalin furniture juga?"


"Katanya sih iya. Semua barang masih di dalem."


Aira berjalan lebih dulu, sepatunya berbunyi di lantai. Dia berhenti di tengah ruang tamu, menoleh ke kiri dan kanan seperti sedang mencari sesuatu.


"Aira, jangan jauh-jauh," kata Dina.


"Aku cuma liat-liat, Ma."


Reza berjalan ke arah tangga. Tangganya kayu jati, masih bagus meski berdebu. Dia menaiki anak tangga pertama—bunyi deritnya keras, seperti protes.


"Aku cek atas dulu ya," katanya.


"Hati-hati," sahut Dina, sambil membuka jendela ruang tamu. Udara segar—atau setidaknya yang lebih segar—masuk perlahan.


[LANTAI DUA - KORIDOR]


Tangga bermuara ke koridor panjang. Kiri-kanan koridor ada pintu-pintu kayu tertutup. Reza menghitung: satu, dua, tiga... enam pintu.


Cukup banyak, pikirnya. Bisa buat kamar tidur semua, atau gudang.


Dia membuka pintu pertama. Kamar kosong. Jendela besar dengan gorden krem lusuh. Lantai bersih—seperti baru disapu.


Pintu kedua. Kamar serupa. Lebih kecil. Ada lemari kayu di pojok.


Pintu ketiga...


Reza berhenti.


Pintu ketiga berbeda.


Kayunya lebih gelap. Tidak ada gagang pintu—hanya lubang kunci besar bergaya kuno. Di atas kusen pintu, ada tulisan tangan pakai spidol hitam, pudar tapi masih terbaca:


"JANGAN BUKA"


Reza mengeryit. Siapa yang nulis? Mbah? Atau orang lain?


Dia mencoba mengintip lewat lubang kunci. Gelap. Tidak terlihat apa-apa.


Dari bawah, suara Dina memanggil: "Rez! Kamu di mana?"


"Di atas!" sahutnya sambil menjauh dari pintu ketiga. Entah kenapa, dia merasa tidak enak. Seperti... sedang diperhatikan.


Dia turun dengan cepat.


[SORE HARI - RUANG MAKAN]


Mereka duduk di ruang makan, makan mie instan dari kardus. Belum ada kompor gas, jadi Dina masak pakai kompor portable kecil. Aira makan sambil main ponsel—video anak-anak dengan suara cempreng.


"Gimana atas?" tanya Dina.


Lihat selengkapnya