TIDAK PERNAH SEPI

Rehab Abdullah
Chapter #2

ARC 1 : B

TIDAK PERNAH SEPI


ARC 1: RUMAH DENGAN PINTU KETIGA


[HARI KEDUA - PAGI]


Reza terbangun dengan leher kaku. Matanya perih—seperti tidak tidur sama sekali, padahal dia ingat sempat terlelap setelah kejadian tengah malam.


Dina sudah bangun, sedang melipat selimut.


"Kamu tidur nyenyak?" tanya Dina tanpa menatapnya.


"Lumayan," bohong Reza.


"Bohong. Kamu gelisah terus semalam. Mimpi buruk?"


Reza menggeleng. Dia tidak mau cerita soal suara tadi malam. Belum. "Cuma belum terbiasa aja tidur di tempat baru."


Aira masih tidur, meringkuk di ujung kasur dengan boneka kucingnya.


Dina berdiri, menatap ke arah tangga. "Aku mau ke atas. Mau liat-liat kamarnya. Pilih yang mana buat kita."


"Aku ikut," kata Reza cepat.


Dina menoleh, alisnya terangkat. "Kenapa? Biasanya kamu males ikut urusun ginian."


"Nggak. Cuma... ya sekalian aja. Bantuin."


Mereka naik berdua, meninggalkan Aira yang masih tidur.


[LANTAI DUA - 07.15]


Cahaya pagi masuk lewat jendela koridor, membuat suasana lebih... normal. Tidak seperti semalam. Tidak seseram itu.


Dina membuka pintu-pintu kamar satu per satu, mengomentari ukuran, cahaya, kebersihan.


"Yang ini bagus buat Aira. Kecil, deket kamar mandi," katanya sambil menunjuk kamar kedua.


"Oke."


"Yang ini buat kita. Lebih besar, ada jendela ngadep halaman."


"Oke."


Mereka sampai di depan pintu ketiga.


Dina berhenti. Menatap tulisan di atasnya.


"JANGAN BUKA"


"Ini yang Aira bilang kemarin?" tanyanya.


"Iya."


"Kenapa ada tulisan gini?"


"Nggak tahu. Mungkin Mbah yang nulis."


Dina berjongkok, mengintip lewat lubang kunci. "Gelap. Nggak keliatan apa-apa."


"Mungkin emang nggak ada jendelanya."


"Atau..." Dina berdiri, mengetuk pintu dengan buku jari. Tok tok tok. Suaranya keras, bergema. "...atau emang nggak boleh dibuka."


Reza menegang. "Udah, jangan diutak-atik. Kita nggak perlu ruangan ini juga. Masih ada kamar lain."


Dina menatapnya dengan tatapan aneh. "Kamu takut?"


"Nggak. Cuma... ngapain juga maksa buka pintu yang udah jelas ditulis jangan buka?"


"Justru karena itu aku penasaran."


"Dina—"


"Santai. Aku nggak bakal buka sekarang." Dia tersenyum tipis—tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Tapi nanti kita harus cari tahu. Ini rumah kita sekarang. Hak kita buat tahu semua isinya."


Reza tidak menjawab. Dia hanya menatap pintu itu—dan entah kenapa, seperti semalam, dia merasa ada yang menatap balik dari dalam.


[SIANG - 12.30]


Mereka sibuk bersih-bersih. Menyapu, mengepel, membuka semua jendela. Rumah mulai terasa lebih hidup—atau setidaknya lebih terang.


Aira main sendirian di halaman belakang, mengejar kupu-kupu.


Reza sedang mengepel koridor lantai dua ketika dia mendengar Aira berteriak dari bawah.


"PAPA! MAMA!"


Dia langsung berlari turun. Dina sudah sampai duluan di halaman belakang.


Aira berdiri di dekat pohon jambu tua, menunjuk ke atas dengan tangan gemetar.


"Ada apa?" tanya Dina sambil memeluk Aira.


"Itu... itu..." Aira menunjuk dahan pohon.


Reza mendongak.


Di dahan tengah, ada... boneka.


Boneka kain lusuh, tubuhnya compang-camping, dijahit sembarangan. Rambutnya dari benang hitam kusut. Wajahnya... tidak ada mata, tidak ada mulut. Hanya kain polos berwarna putih kotor.


Boneka itu tergantung di tali—tali tipis, seperti tali rafia, diikatkan di lehernya.


Seperti digantung.


"Siapa yang pasang itu?" bisik Dina.


Reza tidak menjawab. Dia menatap boneka itu—dan merasa ada yang salah. Boneka itu bergoyang pelan, tapi tidak ada angin.


"Aira, masuk ke rumah," kata Reza pelan.


"Tapi Pa—"


"Sekarang."


Dina membawa Aira masuk. Reza tetap berdiri di sana, menatap boneka itu.


Lihat selengkapnya