TIDAK PERNAH SEPI

Rehab Abdullah
Chapter #3

ARC 1 : C

TIDAK PERNAH SEPI

ARC 1: RUMAH DENGAN PINTU KETIGA

BAGIAN 3

[HARI KETIGA - PAGI]

Reza tidak tidur sama sekali setelah kejadian tadi malam.

Dia duduk di ujung kasur sampai subuh, menatap pintu kamar, mendengarkan setiap suara. Tapi setelah darah itu muncul—setelah sosok anak itu menghilang—tidak ada lagi yang terjadi.

Hening total.

Terlalu hening.

Ketika matahari terbit, Reza keluar dari kamar dengan langkah hati-hati. Dia berjalan ke arah pintu ketiga, jantungnya berdegup keras.

Tidak ada darah.

Lantai bersih.

Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Dia jongkok, menyentuh lantai dengan ujung jari. Kering. Dingin. Tidak ada bekas cairan apapun.

"Kamu ngapain?"

Reza melompat kaget. Dina berdiri di belakangnya, masih pakai daster tidur, rambut acak-acakan.

"Nggak... cuma ngecek."

"Ngecek apa?"

"Nggak ada apa-apa kok."

Dina menatapnya dengan pandangan curiga. "Reza, kamu aneh sejak kemarin. Ada apa sih sebenernya?"

Reza berdiri, menghela napas panjang. "Dina... kamu percaya nggak kalau aku bilang... rumah ini ada yang nggak beres?"

Dina terdiam. Lalu dia mengangguk pelan. "Aku juga ngerasa."

"Kamu ngerasa apa?"

"Kayak... diawasi. Terus kadang aku denger bisikan-bisikan pelan. Tapi pas aku coba dengerin, ilang."

Reza menatap istrinya. "Kita harus keluar dari sini."

"Dan kemana? Kita udah habis uang buat pindahan. Kita nggak punya tempat lain."

"Tapi—"

"Reza," potong Dina, menatapnya tajam, "kita bertahan dulu. Mungkin cuma perasaan kita aja. Rumah tua, wajar kalau berasa seram. Nanti juga terbiasa."

Reza ingin membantah, tapi dia tahu Dina benar. Mereka tidak punya pilihan.

Setidaknya... belum.

[SIANG - 13.00]

Aira tidak mau makan siang.

Dia duduk di meja makan, menatap kosong ke arah jendela, tangannya main-main dengan sendok.

"Aira, makan dong. Ayamnya enak lho," bujuk Dina.

"Nggak mau."

"Kenapa?"

"Dia bilang aku nggak boleh makan banyak-banyak."

Dina dan Reza saling pandang.

"Siapa yang bilang?" tanya Reza pelan.

"Teman aku."

"Teman? Teman yang mana?"

Aira menunjuk ke sudut ruang makan—sudut yang kosong, gelap meski siang hari.

"Dia," katanya polos.

Dina berdiri, berjalan ke sudut itu. Tidak ada siapa-siapa. Hanya dinding dan bayangan.

"Aira, jangan main-main," kata Dina, suaranya mulai naik.

"Aku nggak main-main, Ma. Dia beneran ada. Dia sering dateng."

"Sejak kapan?"

"Sejak malam pertama kita di sini."

Reza merasa tenggorokannya kering. "Dia... kayak apa?"

"Anak perempuan. Rambutnya panjang. Bajunya putih. Tapi... mukanya..."

"Mukanya kenapa?"

Aira menatap ayahnya dengan mata polos yang mengerikan. "Mukanya... nggak ada, Pa."

[SORE - 16.45]

Reza memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak. Dia pergi sendirian ke rumah Pak Karyo, meninggalkan Dina dan Aira di rumah.

Pak Karyo menyambutnya dengan wajah khawatir.

"Ada apa lagi, Mas?"

"Pak, saya perlu tau... tentang anak Mbah Darso yang hilang. Namanya siapa?"

Pak Karyo menghela napas. "Sari. Namanya Sari. Sama kayak ibunya."

"Dia hilang gimana? Lebih detail."

Pak Karyo menggaruk kepalanya. "Dulu itu... kata orang-orang kampung, Sari sering main sendirian di kamarnya. Kamar di lantai dua. Dia jarang keluar. Pemalu. Nggak punya teman."

"Terus?"

"Satu hari, Mbah Darso dan Mbah Sari pulang dari pasar. Mereka panggil-panggil Sari, nggak ada jawaban. Mereka cek kamarnya—kosong. Pintu terkunci dari dalam."

Reza mengernyit. "Terkunci dari dalam?"

Lihat selengkapnya