PROLOG
Jikalau matahari sudah tidak lagi didamba akan kehangatan paginya. Senyum yang lama hilang sebab tak tahu arah akan hidup. Keringat terus jatuh saat tak ada yang melihat. Kadang terpikirkan apa sebenarnya arti dari hari yang sudah dilewati? atau apa yang akan dimaknai dari hari esok?
Jangankan bicara tentang apa yang dijalani sepanjang hari yang terlihat berwarna tutupi suram yang melekat tanpa disadari. Bahkan setarik senyum tak lagi hiasi ketika kaki injak langkah pertama pada rumah. Banyak hal yang terjadi, banyak tempat yang belum didatangi. Tapi tidak terpikirkan lagi. Ketika rumah tak lagi berikan nyaman untuk bersuara. Bahkan untuk tunjukan wajah sebab rentetan tanya dan tatapan yang tak lagi dikenali. Mendorong hingga terperangkap di ujung ruangan.
Jangankan untuk menunjukan diri. Cangkang retak akan ekspektasi ini perlahan jatuh tanda tak lagi utuh. Persembunyian yang menjadi tempat aman kerap kali dimasuki tanpa izin.
—