Tiga Bayang di Bawah Satu Langit

velaaa
Chapter #2

Tiang Utama

Hai.. namaku Karuna Premaswari. Di rumah yang sederhana ini aku menjadi titik hidup pertama. Kalahiran pertama yang didamba keluarga. Wajah pertama yang ditimang dalam bahagia. Tangis pertama yang menggambarkan bentuk bersyukur akan segala kehadirannya.

Maka aku berdiri, sebagai tiang utama. Perempuan dengan segala pengharapan yang dihanturkan pada sang penguasa. Tidak kuketahui timang dan kasih yang ku rasa akan terasa sangat memberatkan. Bukan apa-apa hanya saja kehidupan beranjak dewasa bak tamparan keras yang ku rasa. Aku dibimbing untuk menjadi seorang yang tangguh dalam keseharian. Menjadi peran penting sebagai seorang Kakak untuk Adiknya.

Terkadang aku berpikir 'apa sih yang harus kulakukan?', 'itu semua keharusanku, kah?', 'lantas bagaimana aku ingin menjalani hidup sebagaimana diriku ingin berdiri?'

Tak kusangka waktu berjalan cukup cepat sampai aku menginjak umur siap berkerja. Orang tua menaruh banyak harapan. Menjadikan pundakku cukup berat hanya untuk menjalankan hari. Harapan itu semakin berat, ekspektasi semakin tinggi dan aku semakin memaku. Terpaku dalam banyak bayang-bayang kesuksesaan dan kecukupan mampu menghidupi diri sendiri.

Kaki berjalan bak tahu arah lantas tak berarti tidak akan tersesat kan?

Maka kali ini aku tersesat, dalam segala macam benang suara yang tak karuan. Berulang kali ku coba untuk membuatnya kembali rapi dan tertata. Namun semakij kirasa berat dan tak ingin melakukannya. Ku biarkan benang itu saling mengikat, terpelintir menjadi makin tak karuan.

Rumah yanh ku harap menjadi tempat nyaman untuk pulang perlahan berubah menjadi tempat yang paling segan ku datangi. Setiap gerik berubah menjadi emosi yang bahkan dengan berani ku tampakkan. Aku lelah.

Ku matikan mesin motor yang menjadi kakiku melangkah berkerja, ku lihat rumah yang cukup sepi. Setiap hari kegiatanku ada mengajar, sebagai guru honorer di Sekolah Menengah Pertama. Aku mendapkan waktu sekitar 2 jam untuk rehat sejenak lalu kembali melangkah untuk bimbingan belajar hingga sore menjelang magrib.

Ku toleh sejenak kamar Orangtua, disana ada Ibu yang sedang tidur. Ayah berkerja sebagai Pegawai Negeri.

Kumasuki kamar yang tidak juga merasa lega, sesak itu bertambah. Aku menghela nafas lelah, mencoba menutup mata untuk sekedar istirahat sejenak. Karena dalam waktu dua jam kakiku akan bergerak melangkah untuk memberi ilmu pada anak didik bimbingan belajar. Lelah rasanya berdiri di sebuah Negara yang tidak mengedepankan pendidikan. Padahal para Guru sepertiku berkerja habis-habisan.

Pinta kamu berderak, menampilkan sosok wanita paruh baya, “Udah pulang, Kak?” tanyanya.

Aku mengangguk, mengiyakan.

”Udah makan?” tanya nya lagi.

”Udah, Bun. Tadi aku beli nasi kebuli Bu Yuli.”

Wanita paruh baya yang berperan sebagai Ibu dan ku panggil Bunda itu mengangguk, lalu melangkah pergi.

Aku memjamkan mata, mencoba mengistirahatkan pikiran. Sejujurnya aku merasa tidak ada yang salah dari tindakanku. Namun, entah mengapa sesuatu terus mengganjal kala aku tanpa sengaja memberikan jawaban seperti tadi pada Bunda.

Bunda kembali masuk dan menidurkan dirinya di sampingku, “Habis ini mau langsung bimbel, ya?”

Lihat selengkapnya