Dengan tangan sibuk mengetik, aku terus saja terfokus pada laptop di hadapanku mengerjakan segala urusan yang dilimpahkan padaku di kantor. Oh ya.. Halo, Namaku Nandiya Rianti. Aku sedang berkerja di senuah perusahaan di bidang penadministrasian juga beberapa bidang terkait. Jika dikatakan memiliki gaji yang mumpuni untuk diri sendiri maka aku akan mengiyakan pernyataan itu dengan cepat. Keadaan kantor kala itu terasa bising sebab ada beberapa pemeriksaan keuangan yang akan segera meng-audit kegiatan juga anggaran.
Begitupun juga aku, aku sedang merekap pengeluaran, pengadaa, dan rekapitulasi pengeluaran kantor yang selalu diserahkan setiap triwulan. Aku sudah meninggalkan rumah sejak pukul tujuh pagi sebab jarak kantor yang cukup panjang untuk ditempuh. Dengan berbekal keyakinan dan motor yang tidak lagi sehat maka aku teguhkan hati agar terus melangkah untuk mendapat penghasilan.
Di ekonomi yang sedang jauh dari kata baik-baik saja, aku bertengkar dengan isi kepala soal berbagai hal pula. Sebab uang berwarna merah dan bertuliskan seratus ribu itu seperti tidak memiliki arti di zaman ini.
Pemerintahan yang tak juga kunjung mendengarkan keluhan rakyat hanya karena mendedepankan militeralisasi dan kehidupan sipil. Teriakan yang tak juga didengarkan walaupun terus disuarakan oleh rakyat, mahasiswa, juga buruh. Apalagi profesi guru seperti Kakakku. Kesejahteraan guru berada di peringkat paling rendah dalam prioritas pemerintah. Aku bahkan tidak tahu mengapa, Guru dan Tenaga Kesehatan bak tak terlihat dan tak penting. Apa mungkin, memang tujuan pemerintah ingin mengikat rakyat dalam kebodohan dan kemiskan. Sehingga dapat dibungkam dengan bantuan receh yang mereka lemparkan.
Maka ketikan pada excel itu aku hentikan. Kembali menghela nafas setiap kali melihat aplikasi berlogo huruf X dan berwarna hitam itu buatkan mengumpat kecil. Lalu teman di samping mejaku mengatakan, "Gila ya, udah mah sibuk ngurus diri sendiri, keluarga ini malah dipaksa ngurus pemerintah yang berantakan. Kalo gue jujur udah muak liat mereka yang berdagu tinggi cuma gara-gara nangkep koruptor. ya memang penting sih, tapi kalo gini terus sistem yang lama rusak ga dibenahi sama aja bohong."
"Iya bener itu, Mba. Harusnya kaya kita yang trial error soal ini itu sbeelum akhirnya revisi berkali-kali sampe acc. Harusnya pemerintah lakuin itu dulu gasih, buat pembuatan dasar peraturan bukannya asal mengesahkan aja."
Sebenarnya aku orang yang cukup melek politik, apalagi banyak pelanggaran yang dilakukan aparat tanpa konsekuensi dan efek jera yang setimpal. Sungguh aku membenci pemerintahan ini.
Jam istirihat makan siang telah terlewati tapi kami berdua masih saja menghadap laptop dengan lelah, "Makan ke bawah yuk, Mba?" ujarku sekalian meregangkan diri.
"Hah... ayok sih aku juga laper,"
Kantor ini cukup menerapkan kesejahteraan, sebab disediakan makan siang setiap harinya. Pulang pukul lima sore. Kali ini terdapat beberapa sayur dan lauk-pauk.
Setelah sampai pada meja makan dan duduk, Mba Yusi namanya kembali berujar.
"Di ekonomi sekarang pilih pempers buat anak aja harus pilih yang murah tapi bagus. Aku kadang mikir dua kali buat beli barang pake selesih dua ribu doang."
"Aku juga, Mba. Kadang nahan beli ini-itu soalnya banyak prioritas lain yang paling penting."
Yang ku ucapkan itu sepenuhnya benar. Karena terkadang untuk mengeluarkan uang demi kebutuhan pribadi pun kesingkirkan dulu. Aku cukup memenuhi kebutuhan yang ku anggap paling penting, seperti bengkel motor, BBM dan juga kesehatanku tentu saja. Yang lainnya kubiarkan dulu jika tidak mendesak. Terkadang Bunda mengoceh juga sebab aku lebih memikirkan makan kucing daripada mengurus diri sendiri tapi mau bagaimana lagi?
Helaan nafas panjang menggema dalam ruangan setalh kami masuk sebab wawncara dengan auditor dirasa amat panjang. aku langsung emndudukan diri dan menjatuhkan kepala diatas meja, energiku terkuras. Otakku sudah memanas. Aku dan Mba Yusi melakukan wawancara itu dengan tegang bagaimana tidak sang auditor punya sorot mata tajam dan kata tegas seperti tidak dapat dibantah lagi.
Kepala Tim masuk bersama beberapa orang yang juga baru saja selesai diaudit dengan keadaan dan ekspresi yang sama. Lelah, aku ingin cepat pulang.
-