Tiga Bayang di Bawah Satu Langit

velaaa
Chapter #4

Atap Pelindung

Langkah ku tegas namun sedikit bimbang. Langkahku terus berjalan namun tidak mengetahui ingin pergi kemana. Langkahku melaju dengan pendirian tekat yang ku mulai dengan keputusasaan. Gal.." suara berat yang familiar itu measuki telinga hingga aku menoleh cepat.

Kami berencana untuk mendaki sebuah gunung, memacu langkah dan jantung. memacu adrenalin untuk ketenangan setelahnya. Galen Saskara, namaku. Aku sudah cukup dewasa dalam berfikir saat menginjak kelas dua belas Sekolah Menengah Atas dengan menyingkirkan mimpi sebagai Aparat Negara itu. Sebab keadaan dan keuangan.

Sebagai alumnus paskibra tingkat kabupaten tentu saja aku memiliki langkah ynag ingin kucapai setelahnya. Dengan memakai seragam kebanggan. Namun setelah kulihat secara seksama, keadaan keluarga ini tidak dapat wujudkan itu dengan mudah. Sebabperawatan gigi dan kaki yang harus dilakukan memerlukan biaya yang besar. Sehingga dengan kepasrahan aku menyerah pada mimpi itu.

Namun melihat itu semua, kedua orangtua ku terus mendorongku untuk menjalankan kuliah. Karena tidak adahal yang lebih baik daripada ilmu. Bunda bahkan mengatakan bahwa yang dapat Ayah dan Bunda berikan hanyalah menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin sebab dalam kehidupan ilmu ada diatas segalanya. Dan dengan ilmu itulah hidup kami ditentukan, ilmu adalah bekal yang dapat dibawa kemanapun.

Dengan tekad itu aku mendaftar beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Seperti yang sudah menjadi prasangka tentang Uang Kuliah Tunggal yang kudapat tinggi. Karena profesi Ayah seorang Pegawai Negeri Sipil. Namun dengan senang hati Ayah mengatakan ya sudah kuliah saja masalah itu biar Ayah sama Bunda yang pikirin.

"Eh bentar lagi kan UAS ya, abis itu mau kemana kita?" ujar temanku bernama Prasmana itu. Kami masih terus menanjak untuk sampai pada puncak.

"Ya terserah aja sih," ujarku dengan nafas berat.

"Gimana kalo ke pantai aja kan deket paling sejam dari pusat kota, healing lah kita."

"Boleh, ajakin aja yang lain."

Puncak gunung masih jauh sama seperti garis akhir yang tidak dapat ku lihat kedepannya. Entah bagaimana nasib dan takdir akan bawa aku pada jalan terang atau gelap. Entah hidup macam apa yang menunggu di depan sana. Namun aku selalu sadar bahwa harapan orangtua untuk jadikanku anak berpendidikan yang mana segalanya akan bawa aku pada kesuksesan. Maka dengan langkah tegas yang dibawa dengan bimbang dan ragu-ragu kuajak terus melangkah walau tanpa tahu arah.

Kakiku terus mendaki tanah yang kadang lembab kadang kering, bersemak, berkelok bahkan terjal. Sebagaimana contoh bagaimana aku harus menentukan pilihan dalam hidu. Dan begitulah yang akan ku hadapi ke depannya. Itulah mengapa aku sangat menyukai mendaki. Sebab dari semua yang telah kulewati ada hasil yang indah kulihat.

Seperti saat ini secercah harapan itu ku lihat, cahaya indah yang jadi tujuan pendakian melelahkan ini mulai menampakan diri. Langkahku semakin yakin, mata berbinar dan detak jantung tak karuan ini selalu ku dapat kala mendaki. Aku sungguh menyukai hal itu, slelah apapun, setinggi apapun, dan seterjal apapun trek daki akan ada harapan yang makin terisi dan terwujud dalam bentuk paling indah. Lautan awan dan beberpa bukit lain menampakan diri, indah. Awan itu bagai kapas putih indah dan teratur. Bukit kecil yang terlihat juga mempunyai warna hijau menakjubkan memenuhi mata.

Lihat selengkapnya