Tiga Bayang di Bawah Satu Langit

velaaa
Chapter #5

Langkah Bersama

Pagi itu matahari terbit dengan giat, cerah sekali bagai tak ada waktu lain dilain jam. Sinar terpancar masuk hingga buat dua saudara itu tebangun, mungkin itu juga efek dari dering alarm yang berbunyi. Meregangkan badan Nandiya mulai melangkahkan kaki keluar, membuka pintu yang tidak terkunci lagi. Rutinitas Bunda dan Ayah adalah jalan pagi sehingga 30 menit setelah solat subuh mereka mulai berjalan yang disebut jogging.

Melihat cahaya yang masih keemasan itu buat Nandiya menjadi lebih segar, ada mahluk berbulu yang mundesel dibawah kakinya. Lalu diangkat dan diajak kearah dapur untuk diberi makan. Setelah beberapa lama, Karuna juga turun menuju dapur mencari senjata bersih-bersih miliknya untuk segera menyapu debu dan menghilangkan noda pada lantai.

Selagi meberi makan para kucingnya Nandiya mengadah ke arah Karuna, "Sekolah hari ini, Kak?" sejujurnya Karuna juga mengambil jam belajar di Sekolah Mengengah Atas didekat rumah.

"Iya, SMA hari ini," katanya lalu segera pergi untuk menyelesaikan tugas paginya.

sedang Anak Tengah masih setia menunggu kedatangan sang Bunda untuk bertanya akan memasak apa, sebab tugas paginya adalah membantu Bunda di dapur. Memasak dan menyiapkan bebrapa bahan makanan lain. Bunda masuk dari belakang masih mengenakan sepatu larinya.

"Hari ini bening bayem sama ikan patin goreng aja kali ya, Dek," ujar perempuan paruh baya itu. Dengan cepat Nandiya mengeluarkan seluruh bahan dari lemari penyejuk. Selagi sang Bunda menyiapkan beberapa bumbu ikan patin goreng, Nandiya memotong bayam dan membuang batang tuanya. setelahnya menyiapkan beberapa cabai untuk dibuatkan sambal terasi khas Lampung.

"Kak, hari ini Bunda mau pake motor bisa ya? Kakak di SMA kan?"

"Ga bisa, Bun. Aku mau ada kegiatan bentar juga di SMP,"

Percakapan itu berakhir hening samapi si Anak Tengah mengengahi, "Pake motor aku aja, Bun."

"Tapi kamu ke kantor gimana, Dek? kantormu jauh lho,"

"Gapapa gampang, ada ojol juga lagian motorku kan ga sering kupake cuma buat berangkat sama pulang aja,"

-

Nandiya sudah menunggu di teras rumah, ojek online pesanananya akan segera sampai.

Lalu disana Karuna mengeluarkan motor hendak berangkat berkerja juga juga Ayah yang sudah siap memakai sepatunya dan segera naik memanaskan kendaraan bermotor miliknya, "AYAH BERANGKAT" katanya sedikit berteriak yang kami berdua jawab bersamaan.

"Beangkat, Bun."ujar Karuna buat Nandiya menoleh ke belakang ternyata Bunda ada disana.

Kedua motor itu melaju menuju tempat penghasilan utama dihasilkan.

"Belum dateng juga ojolnya, Dek?"

"Bentaran lagi ini, memang Bunda mau kemana?"

"mau ada kumpulan koperasi sama sosialisasi sama ibu-ibu pengajian," Nandiya hanya manggut-manggut saja sampai jemputannya datang. dengan segera ia berdiri dan menyalimi Bunda.

Berlari kecil sebab waktu dirasa amat cepoat berjalan dan menghitung berapa jauh perjalanan dirasa akan telat. Bunda tertinggal sendiri dengan tatapan berat. Lagi-lagi anak tengahnya mengalah seperti yang terus dilakukanya sejak dahulu.

-

Ruang makan penuh sebab perut yang sudah berguncang ingin segera diisi. Keempat orang itu makan bersama setelah bebrapa minggu tidak dilakukan sebab perbedaan jam lapar.

"Hari ini Adek telat ga sampe kantor?" tanya Ayah.

Yang ditanyai sedikit lama berfikir dan menjawab tidak dengan gelengan.

"Kakak gimana uang angsuran bayar motornya udah dikumpulin?" suara Bunda menyela sambil mengambil sesendok nasi lagi.

"Udah, Bun tapi baru setengah." Kaluna menyelesaikan makannya dan meneguk sebgelas air putih.

Setelah selesai makan, meja dibereskan. Nandiya yang lihat setumpuk piring kotor yang nampak tak akan tersentuh itu segera mengambil sabun cuci piring dan memulai mencucinya satu-persatu. Nandiya tertinggal sendiri di wastafel dengan tangan sibuk menggosok tiap inci piring, mangkok, gelas dan sendok.

Tangan yang terus berkerja itu terasa pegal juga pundak, tapi tidak apa mungkin setelah beristirahat pasti akan membaik juga pikirnya.

Nandiya berjalan menuju ruang tengah di mana sang keluarga tengah berkumpul, sambi bercanda tawa. Ingin bergabung namun dirasa malas sebab lelah yang mulai menjakau kedua kelopak matanya.

"Dek, sini bentar deh," ujar Kaluna mengajak sang Adik untuk bergabung.

Duduk di lantai Nandiya hanya melihat ponselnya, melihat berita terkini dimana demo makin marak namun tidak ada balasan yang baik dari pihal legislatif dan eksekutif. Jujur saja jika terus-terusan seperti ini bagaimana mungkin perekonomian negara dapat membaik dimana anggaran dipakai untuk sesuatu yang tidak tepat.

"Jadi kata Kakak, kalo semisal uang angsuran motornya belum ke kumpul semua bisa ga kamu talangin dulu,"

Jari Nandiya yang awalnya sibuk tiba-tiba terhenti, "sebenernya jatuh temponya minggu depan, kamu tau sendiri gaji guru kaya aku ga jelas kapan cairnya," Kaluna melanjutkan menunggu jawaban dari sang Adik yang tiba-tiba tidak tau akan bicara apa. Tenggorokannya tercekat bak ada batu besar.

"Nanti diganti sama Kakak," lanjut Ayah dan menyesap tehnya dengan biskuit aroma kelapa.

"Ya terserah sih, kalo ada nanti Adek talangin," kata Nandiya dengan segera dan mulai menfokuskan diri pada berita terkini dengan tangan mengambil beberapa biskuit itu.

"Jangan gitulah jawabnya, kita keluarga. aku ga akan kabur juga. Berat sama dipikul ga sih," Kaluna terus menatap Nandiya yang masih fokus pada ponselnya membaca tiap berita yang lewat.

"Iya Kak iya.." jawaban singkat itu buat Kaluna tersenyum senang, "Makasih ya Adek.. bantuin kakak,"

Lalu dering ponsel milik Bunda mengisi keheningan di ruang tengah, Galen si Anak Bungsu menelpon. Mungkin ingin memberitakan sesuatu,

"Kenapa, Len?"

"Nanti kamis, Galen pulang soalnya kelas online pas jum'at. Senin pagi bisa pulang ke kos."

"Oh ya."

"Jadi nanti Galen minta uang buang ongkos ya,"

"Iya, berapa memangnya?"

"Buat tiket kereta kesana aja 30 ribu, Bun. Nanti Galen cari tiketnya, siapa ya yang ada salso buat Qris."

"Ohti ada ga?"

Yang ditanyai mengernyutkan dahi,

"Galen mau pulang jum'at nanti, bayarin tiket keretanya nanti dikirim kodenya," jelas Bunda setelah melihat kebingungan di wajah Nandiya.

"Kirim aja," jawaban singkat itu diberi lalu sang penyuara beranjak masuk ke dalam kamar.

"Nanti kirim ke Ohti aja ya, Len."

Percakapan itu masih terdengar samar, Nandiya menidurkan tubuhnya. Tak lama Kaluna ikut masuk dan ikut berbaring.

"Namanya kebutuhan, Dek. kita ini udah di masa susah cari uang." dengan kalimat dari Kaluna itu buat Nandiya memejamkan matanya memaksa cepat masuk ke dalam tidur.

"Kalo semisal itu sini biar tiket Galen aku yang bayarin,"

Nandiya menoleh ke samping, menatap sang pembicara yang sudah tersenyum bak akan mencapai telinga itu karena sedang bercakap dengan sang kekasih,"Udahlah Kak, fokus aja sama kewajiban masing-masing. Kewajiban kamu kumpulin uang tiap bulan buat kredit motor,"

Lihat selengkapnya