Tiga Bayang di Bawah Satu Langit

velaaa
Chapter #6

Satu-Satu

Jika memiliki satu potong kue, maka Bunda akan potong rata agar semua bintangnya dapat icip rasa manis yang tak lama akan hilang. Manisnya amat sangat hilangnya pun tak sebentar namun setelahnya hambar pun datang, kelu pada lidah akan menetap. Dengan hati-hati ia berikan pada ketiga bintangnya yang cerah berkelip didepan matanya.Tak jarang Bunda tidak sisakan untuknya dan Ayah. Kepentingan agar para bintang itu ada diatas segalanya.

Seperti apa yang dikatan tadi, mungkin rasa manis yang sudah lama menetap itu mulai memudar. Sulung, Tengah dan Bungsi sudah bisa rasakan masam dan pahit. Rasa yang mereka dapat dari dunia yang perkenalkan satu persatu tanpa aba-aba.

Ayah juga tidak lagi dapat memperbaiki sepatu yang usang sebab langkah ketiga anaknya sudah terlalu cepat, sepatunya sudah baru. sedangkan yang usang tertinggal dibelakang. Namun itu lebih dari cukup bagi Ayah sepatu baru ketiga anaknya akan bawa mereka berlari lebih jauh mengejar tujuan yang ingin digapai. Entah karena langkah milik Ayah yang sudah melambat sehingga tidak dapat dampingi setiap langkah anak-anaknya atau karena lari tergesanya tak bisa mengejar lagi.

"Ayah mau teh?" Dengan laptop dihadapannya Ayah mengernyit, ia membawa pulang beberapa perkerjaannya. Hendak bertanya pada si Tengah bagaimana memperbaiki beberapa format tulisan.

Menjawab pertanyaan sang istri Ayah mengagguk, "Boleh, Bun."

Bunda langsung berjalan kearah dapur dan membuatkan segelas kecil teh manis. Suaminya itu sudah lama berhenti menkonsumsi kafein.

"Anak-anak makin sibuk ya, rumah jadi makin sepi," Bunda berjalan dan menaruh cangkir itu disebelah suaminya.

Anak laki-laki mereka sudah kembali pada mengejar ilmu. Kedua anak yang lain sudah disibukan oleh perkerjaan demi pundi uang yang untuk di ekonomi sekarang adalah segalanya. Bersikap realistis sebab ekonomi bagai disetir oleh orang buta.

"Di keadaan sekarang Bun, semuanya serba mahal kaya yang Bunda tau. Masa depan mereka lebih susah apalagi masalah ekonomi. Jadi sekarang investasi paling dipercaya ya menabung aja."

"Iya, Yah.. kalo aja nanti semisal mereka nikah Bunda mau mereka siap secara mental sama finansial,"

"Makanya sekarang mapan sebelum nikah lagi dikejer abis-abisan sama anak muda,"

Suara deru kendaraan bermotor itu masuk dengan alunan yang cukup kasar, sudah dapat ditebak siapa pemiliknya.

Suara menyalam lantang dan berat itu memang sering dilakukan oleh Nindiya, ia sering sekali bersuara seperti itu. Terkadang jika tidak ada kata salam ia hanya menunjukan senyum kecil dan segera masuk ke dalam kamar.

"Eh lagi pada ngumpul disini," Ujarnya lalu menyalami keuda orangtuanya yang sedang duduk santai.

"Nih, aku bawain tongseng beli di Dapoer Simagi pas lewat," tangan sang anak gadis mengangkat sekantong plastik dengan dua porsi tongseng.

"Satenya ga ada tah, Dek?" tanya Ayah yang menatap jenaka.

"Hehe.. sekarang ini dulu ya, Yah. nanti deh pas gajian adek traktir satenya,"

Bunda menggeleng pelan dan tersenyum lembut, "Udah ah, Ayahnya cuma bercanda aja."

"Ya gapapa, sekalian Galen juga katanya mau dibeliin nasi tunjang," Si tengah langsung menuju dapur dan mewadahkanya dalam mangkok. Cukup untuk berempat sebab si bungsu baru saja berangkat tadi pagi untuk lanjut menimba ilmu.

Bunda melihat si tengah yang sedang menaruh bekas plastik pada kotak sampah, "Kamu gapapa loh Dek ga usah sering traktir gini. mending ditabung aja,"

"Gapapa juga kali, Bun. kadang traktiran juga dari bonus lembur," setelah selesai, Nindiya langsung berjalan naik hendak melewati Bunda.

"Seharusnya bonus itu yang ditabung ga sih, Dek?" pertanyaan itu berhasil buat langkah Nindiya terhenti. Gadis itu nampak seding berpikir seperti jawaban yang ada dalam kepalanya tidak bisa langsung terucap karena hatinya bergejolak menolak.

"Iya sih, Bun. Ya udah nanti aku usahain buat nabung," katanya dengan senyum kecilnya.

Tak lama sulung memasuki rumah dengan muka masam, salam singkat itu bertutur dengan nada sedikit ditekan sebab sebal yang ditahan. Melwati ruang tenagh tanpa menoleh dan menyapa. Jalan lurus masuk ke dalam kamar, emosi Kaluna teras sebab cara menaruh barang yang berbunyi keras bak dibanting kuat. Tas miliknya ditaruh asal, suara kaki menghentak-hentak buat sang adik yang baru saja juga sampai memicingkan mata, kedua alisnya bak akan bersautan.

Langkah gusar dan suara gumaman itu semakin mengusik, maka dengan suara cukup pelan Nindiya bertanya, "Kenapa sih Kak, baru dateng udah marah-marah gini."

Yang ditanyai hanya berdecak lalu duduk dengan tangan merogoh isi lemari mencari sesuatu di dalamnya sampai tumpah ruah jatuh berantakan.

"Nah kan, itu barangnya jatoh semua nyari apa sih sini aku bantu," Nindiya agak kesal melihat sikap dan gerik Kakaknya itu seperti orang yang gusar dengan emosi mencuat dan mulai membakar seisi ruangan.

"Apasih, lagian ini juga barang aku. Rusak juga bukan urusan kamu," Jawabnya masih dengan tangan yang sedikit menyingkirkan barang dengan bantingan kecil sehingga bising tak lagi terelakan.

"Ya aku tau juga, tapi kan ga gini juga kali, Kak."

"Udahlah, cerewet banget."

Kaluna mngacuhkan dan mendengus kesal. Adik yang sekamar dengannya juga tak kalah kesal dengan sikap dan perkataan itu. Emosi mulai menyambar, Nindiya hanya melangkah keluar kamar dengan malas dan langkah kecil.

Mengambil cemilan basreng kering dan keripik pisang dari dalam lemari dan membawanya untuk dimakan bersama Ayah dan Bunda, "Kenapa itu si Kakak?" tanya Ayah dengan mengambil segenggam keripik dan mulai memakannya.

"Gatau tuh, dateng-dateng emosi. Harusnya ngomonglah siapa tau aku bisa tau bisa bantu. diomongin baik-baik malah dibales marah-marah," bakso goreng dengan bumbu merah pedas itu berbunyi renyah saat dikunyah Nindiya sebab kesal masih menjalar naik ke kepalanya.

"Tadi Ayah ada kerjaan tau, Dek. Nanti bisa bantuin buat laporan sekalian edit ya, habis solat magrib aja." memang Ayah sering meminta bantuan pada anak tengahnya sebab dirasa dapat banyak membantu dalam pembuatan laporan dan menyunting dokumen.

"Formatnya udah dikasih sama temen kantor, audit kampung Jepara," lanjutnya dengan mulut yang mengunyah keripik pisang.

"Iya nanti ya, Yah."

"Tapi nanti temenin Bunda juga ya, Dek. Mau ke warung Bi Iyah beli sayur buat besok." Memang Bunda jarang sekali ke pasar sebab terkendala kendaraan. Mungkin hanya di hari sabtu atau minggu saat anak tengahnya itu tidak berkerja.

"Hmmm.." jawaban itu tentu berarti iya dan tak ada pilihan lain.

Waktu cepat berlalu, Nindiya sudah berada di warung milik Bi Iyah mengambil beberapa mie instan dan juga kerupuk berwarna putih besar yang digantungkan. Lalu tangannya membuka lemari es yang berisikan es krim dan mengambil beberapa diantaranya. tentu saja semua yang dibelinya bukan hanya untuk dirinya saja. Ia membeli setidaknya Tujuh mie instan dan Lima es krim coklat dan taro. Sebab ia tahu Ayahnya menyukai serba serbi makanan yang mengandung coklat di dalamnya. Kakaknya yang menyukai es krim dengan varian rasa taro.

Menyelesaikan tugasnya mengantar Bunda maka kini Nindiya sudah duduk di meja tengah dan laptop milik Ayah tak lupa juga es krim dengan rasa coklat ditangnnya. Laporan milik Ayah sudah rapi dan isi di dalamnya juga bagus, tidak banyak revisi apapun. Hanya merapihkan sedikit perkataan dan format teksnya. Ayah sudah ada dibelakangnya dan melihat sedikit demi sedikit dengan es krim coklat.

-

Pagi ini langkah milik Galen makin treburu, kelas paginya hampir saja dimulai. Tergesa bagai tak ada hari esok untuk ulangi. Langkah buru-buru yang sudah ada di tepi jurang. Langkah tertatih sebab ranting yang terus tusuk telapak kakinya. Galen itu tahu bahkan sangat jika langkahnya ini adalah apa yang diinginkan keluarganya untuk diselesaikan sebagimana mestinya. Sekeras apapun batu yang ia pijak karena terburu atau setinggi apa jurang yang ada disampingnya Galen hanya ingin lihat tujuannya saja.

Galen muali berjalan lambat saat lihat profesor yang akan menisi kelas itu ada di depannya mungkin sekitar lima langkah darinya. Nafas yang tersengal ia coba redam dengan tarik nafas dan hembus kecil. Matanya melihat ke arah kelas yang akan dimasuki, sudah penuh dengan orang-orang dan tergesa masuk setelah lihat profesor yang mengenakan kacamata. Sejujurnya masih cukup muda untuk gelar profesor namun jangan diragukan setiap kata dan penerangan yang sangat baik itu. Pagi ini sanitasi kawasan atau tempat khusus mulai masuk kedalam otot kecil didalam rongga kepala.

"stt.. stt.."

suara itu Galen tahu siapa namun tetap mencatat pada tablet yang dibelikan oleh Kakak keduanya itu hingga selesai barulah ia menoleh ke belakang dimana suara itu berasal. Sebenarnya Kedua Kakaknya itu banyak membelikan barang yang ia butuhkan seperti ponsel bermerek apel tergigit itu. Kedua Kakaknya saling menyumbang uang untuk membelikan ponsel pintar yang sangat ia inginkan. Lalu beberapa bulan lalu Kak Kaluna bahkan membelikannya sepatu bermerek yang sedang naik daun. Dan dengan segala ocehannya, Ohti Nindiya membelikannya tablet yang berasal dari korea selatan. Mereka tak ingin ia tertinggal dari bagian fashion maupunteknologi.

"Nanti makan dimana?" ya itu sudah menjadi tebakan Galen kalimat apa yang akan keluar dari mulut temannya itu.

Galen mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu, "Terserah, gua ikut aja," ucapnya dengan sedikit berbisik.

"Yaudah nanti makan di warnas teteh ya," Warung Nasi Teteh memang menjadi tempat andalan mereka, untuk harga yang cukup murah setiap hari menu pada etalese itu selalu berbeda. Teteh juga sering mengatakan sebagi penjual disekitar kampus ia harus menyesuaikan harga. Terkadang Teteth bahkan memberikan es teh gratis.

"Habis itu duduk dimana ya," untuk mengisi waktu sebelum jam kuliah yang barjarak dua jam tentu mencari tempat nyaman untuk mengobtol adalah sebuah keharusan. Daripada harus pulang ke kos menghabiskan bensin saja. Di harga yang sedang tinggi ini membeli bensin bersubsidi yang atreannya panjang itu tentu buat malas.

"Ke ruang baca aja ga sih, sekalian ngopi," Ujar Indra yang mulai tersenyum ria cuma karena mengingat kopi hitam yang tidak terlalu manis itu masuk ke tenggorokannya.

Malik yang mendengar itu juga akhirnya mengangguk setuju dan tentu Galen akan menyetujuinya juga. Mereka punya banyak cerita dan pembahasan. Entah itu tentang pembelajaran di kampus atau bagaimana temen-temen yang lain yang terlihat lihai berada di kelas dan mungkin akan medapat nilai A.

Hari ini uang mingguan milik Galen masih banyak tersisa, ada sisa dari minggu-minggu kemarin yang sengaja disishkannya.Menabung takut tiba-tiba butuh dana mendesak. Menjadi anak perantauan pemburu ilmu itu cukup sulit. Karena tahu bagaimana keadaan rumah dan hanya untuk memeinta uang tambahan saja harus beribu kali berpikir. Maka terkadang Galen, Indra dan Malik sering sekali main ke kosan milik Prasmana dan memasak. Di kosan milik Prasmana punya kopmpor dan lemari epndingin maka mereka akan mengumpulkan uang bersama dan memasak dengan segala yang dibelanjakan di pasar yang buka setiap kamis sore itu.

Dan malam ini mereka berempat merencanakan untuk memasak nasi goreng dengan sisa nasi kemarin malam. Prasmana bilang nasinya sudah dimasukan ke dalam lemari pendingin sejak tadi pagi. Dengan sosis yang dibeli Malik dan telur yang dibawakan Bunda akan jadi makanan cukup mewah yang dimakan anak kuliahan. Tiga hari lalu malah lebih menyenangkan karena semua menu masakan yang dibwakan para Ibu mereka di rumah dimakan bersama.

Selesai kelas Galen dan dua temannya langsung melajukan motor ke kos Prasmana. Teman mereka itu tidak memiliki jam pembelajar hari ini. Enak sekali.

"Mama kan yang bilang bakalan kirim uangnya hari ini?" suara milik Indra memenuhi ruangan yang sudah penuh dengan wangi nasi goreng. Galen menggeleng, Indra memang yang bisa dibilang cukup boros dalam lingkar pertemanan ini namun tentu memeiliki ekonomi yang memang sangat cukup.

Drttt

Getar ponsel milik Galen yang masih setia di dalam saku akhirnya menyita pikirannya, disana Si tengah mengirimkan pesan di grup keluarga,

Len, uang masih cukup?

Satu pertanyaan yang sering Galen dapat sebelum ia sempat memberi kabar soal keuangannya.

Adalah pasti, kan baru 3 hari

Balas dari si sulung.

Mereka berdua sama saja, Kaluna yang sering tanpa sadar melancipkan perkataannya dengan senyuman. Sedang Nindiya yang sering berekspresi jutek namun bertutur cukup terjaga. Mungkin sesekali mengumpat dan itu bukan karena marah namun karena Kaget.

"Masih kok kayanya cukup buat 3 harian lagi" jawabku dan kuketik dan kirimkan.

Jangan lupa kabari

Kali ini sang Ayah yang muncul dalam obrolan grup

Katanya sebentar lagi PKL ya?

Lihat selengkapnya