Tiga Bayang di Bawah Satu Langit

velaaa
Chapter #7

Setiap Mata

Bila dilihat tanpa memerhatikan maka tidak ada yang tahu akan langkah Nindiya yang masih agak pincang, "Kok jalannya gitu, Ti?" Nindiya kaget mendengar itu dan menoleh cepat mendapati Adiknya disana. Nindiya baru saja menaiki tangga teras dan sudah ketahuan.

"Oh, ini, tadi kesandung meja," berusaha dengan tenang mengatakan hal itu, nindiya kembali mati-matian berjalan agak terlihat normal. Sebenernya luka itu sudaj jauh membaik namun rasa nyeri itu terkadang datang.

"Gimana? Kok pulang?"

"Iya lagi kosong aja, bulan depan malah kayanya ga bisa pulang," Nindiya mengangguk mengerti atas jawaban itu dan mulai ingin melangkahkan kakinya kembali.

"Kalo ada apa-apa cerita sih, Ti," Galen berjalan disamping Kakak keduanya itu, hanya bibir yang tersenyum jatuh ke bawah dan bahu terangkat sebagai jawaban.

"Ohti ini jarang banget cerita," kembali suara Galen bicara dengan nada penasaran.

"Ya ga ada yang bisa diceritain juga," Nindiya duduk di kursi tengah, mengambil dompet kecil yang mirip dengan dompet laki-laki, ya memang benaritu dompet laki-laki. Karena Nindiya berfikir soal dompet maka itu lah yang lebih simpel dan efisien. Ada kartu kesehatan, tanda penduduk, juga dua kartu debit. Dikeluarkan perempuan itu uang selembarlan berwarna biru dan diberikan kepada Adik bungsu.

"Nih, buat jajan," Nindiya menatap Galen yang dari tadi hanya meperhatikannya dalam diam.

"Ih, jadi enak gini,"

"Do'ain rezeki ku lancar. Uang honor tambahan itu," Galen hanya mengambil itu dan berterimakasih tidak lupa mengamini perkataan Nindiya.

"Dek, temenin ke tempat mba heris," Kaluna berjalan keluar dan menghampiri si tengah yang masih tak menjawab, "Ayok sihh."

"Iyooo," Nindiya kembali berdiri dan membawa tasnya masuk ke kamar lalu kembli menghampiri Kaluna yang sudag menunggu di teras. Galen hanya bisa memperhatikan keuda Kakaknya yang sudah kembali jalan pergi.

Ditatap lelaki itu uang dengan besran lima puluh ribu itu dan segera mengantonginya. Dari matra dan perhatian Galen kedua Kakaknya itu memiliki karakter yang super duper berbeda. Bagaimana tidak, jika sulung sering kali menunjukan setiap emosi yang rasakan itu akan berbanding terbalik dengan si tengah yang jarang memperlihatkan setiap emosi yang berbeda. Jika ada kekesalan diwajah Kakak pertama maka akan ada wajah datar dari Kakak kedu. Jika ada kemarahan tergambar di wajah Kakak pertama maka hanya akan ekspresi tenang si Kakak keuda. Dan belum lagi jika ada ocehan cerewet dan kemarahan berbentuk perkataan si Kakak pertama maka hanya akan ada diam yang diberikan oleh si Kakak kedua.

Terpaut usia selisah satu tahun bahkan dapat gambarkan perbedaan, sebab setiap kali Kakak pertama dapatkan benda yang ia mau dengan merengek maka berbeda dnegan Kakak kedua yang diam-diam menabung dan meminta uang tambahan jika diperlukan untuk membeli sesuatu. Mungkin dalam hal ini Galen merasa sikapnya sama dengan Kakak pertamanya itu. Namun semakin diperhatikan, Kakak keduanya itu bagai hanya bagian dari canda dan tawa yang dibagi setiap anggota keluarga di dalam rumah dan ia tidak membagikan apapun, Hanya; ada, melihat, memperhatikan. itu saja.

Galen mulai sadar sejak dirinya sudah menimba ilmu di kota lain, setiap geriknya pasti diperhatikan oleh empat pasang mata namun yang paling tajam dan intens adalah Kakak Kedua, si tengah dengan muka datar dan tersenyum sesekali. Jika Kakak pertamanya mengatakan ocehan dengan lantang soal perilaku si bungsu. Maka hanya akan ada tatapan tajam seperti akan membelah setiap tubuhnya, terpancar hingga Galen tak mampu melihat balik kedua mata milik Kakak keduanya.

Sebagai anak bungsu, Galen hanya dapat menerima setiap perhatian namun kadang kala ada sedikit banyak perlakuan tak mengenakan yang buat ia kesal. Seperti semisal Kaluna yang terus mengatakan setiap keperluan Galen pasti akan sangat mudah didapatkan berbeda dengan dirinya. Terkadang Nindiya juga berkata coba marahi saja Galen jika bisa kepada Ayah dan Bunda, karena bagi yang dilihat olehnya tidak pernah ada kemarahan bagi setiap kesalahan yang Galen lakukan.

Tapi bagaimana jika perspektif itu dibalik, dimana masa jaya Ayah yang banyak dirasakan oleh kedua Kakaknya itu. Setelah covid melanda, keuangan menurun cukup signifikan. Memiliki satu setengah hektar kebun karet saja masih tidak membantu, sebab jerat hutang bank yang menumpuk. Yah.. sebenarnya banyak aparatur sipil negara lainnya yang memiliki kondisi sama persis. Gaji habis sebab hutang bank dengan bunga selangit namun sekali lagi, keadaan politik dan ekonomi semakin memburuk dan tak ada pilihan lain.

Bahkan saat terpilih menjadi Paskibraka tingkat Kabupaten yang semakin memakan ambisinya untuk menjadi bagian dari aparat berseragam coklat itu dengan berani ia kuburkan. Struktur seleksi menajdi anggota berseragam itu harus memiliki banyak biaya. Dari kesehatan hingga postur tubuh. Dan tentu Galen merasa bahwa setiap prosedur itu hanya akan memakan waktu dan biaya saja juga keuangan keluarga yang juga sedang tidak baik.

"Gal.. udah makan?" Bunda masuk dengan beberapa jambu yang dipetik langsung dari halaman samping.

"Hmm.. belum, Bun, makan bareng aja sih," Galen tersenyum dan berlari kecil meminta satu jambu air itu dan menyecap rasa manis disana.

Meja makan itu terisi penuh, setiap anggota sudah duduk pada kursi meja makan dengan tumis kangkung, sambal terasi juga ikan nila panggang. Terasa tenang dan nyaman. Ya, beginilah rasanya rumah yang menjadi tempat pulang. Galen menyukai setiap momen di rumah.

"Ya.. Kakak nih aneh banget," Suara Nindiya memcah hening.

Yang tertuduh dengan cepat menjitak kepala si adik, "Apasihh, lagaian kamu juga aneh,"

Bunda cekikikan dengan tingkah itu, karena menjadi kawan satu kamar sudah sering menimbulkan suara pertengkaran kecil dan tawa yang muncul dari bilik itu, "Apalagi sekarang ini?" tanya bunda sambil menyendokan tumis kangkung.

"Ini nih si Kakak, tadi katanya mau ke tempat mba heris eh malah ketemuan sama cowoknya ya kan malesin," celotehan itu hanya dibalas senyum tipis Ayah.

"Jangan sering-sering nyamper cowok, ga baik,"

Wajah cemberut Kaluna langsung muncul karena rasa sebal, "Ya ga sering juga, tapi cuma sekalian keluar aja. dia ini aja yang dikit-dikit ngaduan ih,"

"Lah, kok aku, aneh," tatapan Nindiya dengan senyum mirirng bertemu dengan mata Galen, "Kalo Galen masih pacaran ga sama yang kemaren?"

Satu pertanyaan itu buat seluruh fokus jatuh pada Galen, "Udah engga ya, orang pada mau fokus kuliah," Wajah Galen memerah buat Ayah dan Bunda merekahkan senyum gemas. Ya bagaimana pun memang anak bungsu selalu menggemaskan, kan?

"Ya gapapa juga kali, kaya mau langsung jadi profesor aja," celetukan Nindiya itu pecahkan tawa mereka, memang terkadang celetukan asal bunyi milik anak tengah itu selalu jadi puncline komedi di meja saat berkumpul dan mengobrol dan si pemilik ide suara jenaka yang jarang tertawa keras itu paling sering hasilkan tawa diantara mereka. Seperti yang Galen katan rumahnya itu adalah tempat pulang.

-

Decakan milik Kaluna Pagi ini sungguh kesal dan tidak diketahui mengapa. Mungkin ada beberapa hal yang belum terselesaikan sabtu kemarin tentang proses pengajaran di sekolah. Minggu pagi ini dibuahi dahi yang berkerut, kedua alisnya yang tebal itu bagai akan bersatu. Hari ini segala hal terasa membuatnya naik pitam. Nindiya yang bangun terlambat, ruang tengah yang cukup berantakan karena kucing, juga kamarnya yang berantakan.

"Apa sih kamar ini berantakan terus," suara ocehan seperti itu buat Nindiya memalingkan wajah. malas.

"Berantakan juga kebanyakan barangmu, Kak," Kata Nindiya sembari mengikat rambutnya yang masih cukup pendek sehingga hanya setengah yang dapat terikat. Ya, Rambut Nindiya hanya mencapai atas bahu.

"Ya engga juga sih, itu bekas kamu tidur juga berantakan," mendnegar itu si tenagh langsung beranjak dan merapihkan sisi kasur yang dikatakan berantakan oleh yang lebih tua.

Nindiya seperti biasa membantu Bunda memasak di pagi hari, kali ini ia mulai memetik beberapa cabai dan mengupas bawang setelah mencuci setumpuk piring diatas wastafel. Membantu Bunda membuat pindang ikan patin, beberapa lalapan rebus seperti, sawi putih, wortel, terong dan daun singkong. Di sebelahnya ada sambal rampai yang begitu sulit ditemukan. Tak lupa membuat sambal teri kesukaan si bungsu. Untuk sarapan sudah digorengkan telur dadar yang dicampur cabai, bawang, juga sosis dan bakso.

Lihat selengkapnya