Di rumah ini telah diajarkan bagaimana menerima baik buruk yang diselimuti oleh dunia. Dunia yang mana yang harus dipilih. Dibisikan bagaiamana rasanya kecewa, bahagia dan hampa. Harap-harap tak ada yang salah jalan dan sampai dengan tenang. Pulang pun tak apa sebab itu memang opsi paling nomor satu. Jika dunia dirasa tak menerima maka pulanglah. Jika dunia terasa berat maka pulanglah. Jika duni dirasa menyenangkan makan terus lah hidup disana. Kalau nanti rasa manisnya mulai hilang maka pulanglah.
Rumah. Dimana menjadi tempat yang terus menerima. Kepedihan, kekurangan dan ketidak sanggupan. Maka tumpahkan segalanya rumah akan terima.
"Gal.." panggil Malik yang sedang sedikit berlari kearah lelaki jangkung berambut keriting dan wajah tegas dengan warna kulit kuning langsat. Galen jika dilihat maka sebaik-baiknya lelaki yang tampil dengan gaya selengekan. Ia terbiasa menggunakan beberapa ekspresi yang lucu.
"Kata Kak Wira nanti kita jaga posko medis lagi ya bareng anak FK," Maling merangkul Galen dengan ramah. Kejadian beberapa minggu lalu masih terpartri nyata tapi bukan suatu kendala. Menjadi tonggak penyuara dan membantu para penegak demokrasi itu sudah sebuah kewajiban.
Di negara yang mulai meperlihatkan tabiat buruk dan menganggap seleuruh rakyatnya buta dan bodoh. Pemerintah mulai terang-terangan unjuk gigi siapa yang bodohi rakyat paling tinggi. Seperti halnya para antek pemerintah yang duduk di jabatannya itu lupa akan suara yang diberikan. Dan juga keadaan ekonomi yang mulai melonjak naik. Kesadaraan masyarakat mulai meningkat seberapa jatuhnya daya beli masyarakat. Membeli makan pun sulit. Mungkin ini adalah program paling sistematis pemerintah untuk membuar rakyat lapar dan akhirnya berlagak menjadi pahlawan. Menjulurkan tangan ketika tangan rakyat sudah berlumur darah.
Menjadi mahasiswa bidang kesehatan memang sudah sepatutnya saling jaga. Sebab aparat bukan main perlawanannya. Aparat bahkan bisa menghabisi nyawa dan hidup seperti tak terjadi apa-apa. Bentrok masyarakat dan aparat berseragam coklat itu seharusnya tak terjadi, seperti bagaimana visi misi melayani dan mengayomi masyarat hanya tulisan tak berarti. Maka mata Galen terbuka, ia bersyukur menyerah menjadi aparat berseragam coklat itu. Pangkat bintang itu bagai penghargaan yang didapat dengan darah.
"Oke.. nanti mulai jalannya jam berapa?"
"Jam sepuluh udah mulai jalan sih katanya," Malik menoleh kanan-kiri mencari keberadaan dua kawan lainnya.
"Pras tadi baru mau otw, kalo Indra udah di kelas." Galen mengerti melihat gerik itu, "Kamu kelamaan, sampe pegel nungguin diparkiran tadi."
Malik hanya menyengir, "Ya maap sih, lagian Pras belum nyampe juga."
Keadaan jalan mulai ramai, mungkin menghindari macet karena ada beberapa rombongan yang sudah sampai di tempat aksi. Ambulan relawan yang Galen ketahui hanya ada dua saja. Satu yang ia kendarai ini bersama malik dan yang lain dikendarai oleh Pras dan Indra. Kebutuhan medis sudah lengkap. Ambulan melaju dengan kecepatan sedang. Di posko sudah ada beberapa orang yang menjejerkan air mineral. Mobil tak jauh dari masa aksi. Salah satu relawan sudah mengabarkan melalui media sosial soal lokasi para medis. Aksi yang dijalani sudah sangat tertib. Tidak ada kerusuhan. Suara teriakan orasi mengenai tuntutan yang terus disuarakan itu seperti nyanyian tidur untuk para pengisi gedung senayan.
Semakin sore lelah sudah dipangku, namun semangat tak pernah jatuh. Banyak mahasiswa yang sudah melipir ke samping barisan untuk duduk. Teriakan yang disuarakan oleh rakyat ini diwakil oleh mahasiswa, setiap keresahan dan keadaan ekonomi yang semakin menjempit. Galen emenatap jalanan itu diamana barisan polisi tak juga mundur. Mereka bersenjata lengkap bak akan lawan teroris. Beberapa mahasiswa bahkan berdialog dan bertanya mengapa harus sebegininya padahal yang mereka bawa hanyalah suara.
Bentrok pun terjadi sebab beberapa aparat memunculkan beberapa kalimat provokasi. Bahkan ada beberapa aparat yang berkamuflase menjadi mahasiswa mulai buat gaduh. Keadaan yang tadinya kondusif mulai ricuh. Entah mengapa setiap demonstarsi terjadi dan menjelang malam maka ricuh akan mulai berterbitan.
Galen dan Malik yang ingin melihat beberapa orang yang menjadi korban keroyoka aparat malah dijegat dan dipaksa mundur. Aparat memungkul dan mengangkap mahasiswa seperti itu adalah buruan.
"Pak, teman kami dipukuli sama teman kamu. Kami harus lihat kondisinya," Kata Galen dengan wajah cemas beberapa para medis sudah berdiri di belakang.
"GAK! kalian tidak boleh kesana, kembali sana," Dorongan aparat buatGalen hampir jatuh.
"WOI DENGER GAK!" kali ini aparat lain mulai masuk dengan tatapan melotot. Intimidasi macam ini selalu dilakukan oleh mereka.
"Kami harus kesana, Pak!" Kali ini seorang perempuan semester akhir fakultas kedokteran itu bresura. Namun suara itu dijawab dengan dorongan yang lebih kuat kali ini personil mereka bertambah. Mobil ambulans kami bahkan mulai dikepung.
Galen mengerahkan tenaga agar jalan itu dibuka dan satu tinjuan masuk diuluh hatinya tanpa terbaca, "Galen..!" Malik darahnya mulai mendidih melihatm itu.
"Apasih ngapain main tangan gitu kami cuma mau bantu kawan kami," Kali ini dorongan di dapat Malik hingga jatuh terbentur aspal.
Kamera salah satu medis menyala dan ia merekap dengan penjelasan kejadian itu. Galen berjalan agak sulit, Prasmana dan Indra berlari ke arah mereka. Ada beberapa mahasiswa yang dengan wajah pucat menghampiri dan beberapa dengan jalan pincang. Galen mulai fokus dan merasakan bahwa pukulan itu tak penting.
Namunjalan para koprban dihalangi, Galen dengan segera pasang badan begitu juga para medis lainnya, "Dia ini butuh medis, Pak. Tolong kasih jalan,: Suara Galen tegas dan hanya diberikan senyum miring milik polisi yang mungkin sudah kepala empat itu.
"Makanya jangan sok demo gini, Kuliah yang beneer," kata aparat itu dengan mata tak kalah garang.
"Ye tolol, kita disini juga buat bersuara. Soalnya orang ga berpendidikan kaya kalian yang sok jadi pemegang dunia," Suara Malik itu buat aparat menatapnya nyalang.
Dan ricuh mulai terjadi, tak ada yang main tangan hanya pembelaan.
kring
Len kamu ikut demo?
kring
Len ini beneran kamu?
kring
Astaga Len, jangan bikin khawatir cepet kabari saya.
Kring
Jaga diri, suara rakyat memang penting tapi jangan bentrok sama aparat.
Kring
Galen, perjuangan bukan soal babak belur aja.
Notifikasi dari orang yang sama itu masuk dan belum di gubris. Nindiya memang cukup aktif dalam memantau situasi Demo di media sosial. Dan kali ini dia melihat postur tubuh yang dikenalnya sedang berdesakan dengan aparat dan beradu mulut samapi kekerasaan didapat. Nindiya berulang kali memutar video itu dengan gugup dan gelisah.. Ia hanya dapat memanjatkan do'a agar tak terjadi apa-apa pada adiknya. Bahkan semangkuk ramen dihadapannya teronggok begitu saja begitu pula seseorang yang duduk didepannya hanya dapat melihat Nindiya yang terus menerus menatap ponsel dengan wajah cemas.
Nindiya jadi yang pertama kali tahu jika Adiknya beberapa kali ikut demonstrasi. Nindiya bahkan mengikuti dengan jelas keadaan jalanan di beberapa titik lewat sosial media berlogo huruf X berwarna hitam. Dan kali ini ia terdiam cukup lama buat lelaki yang sejak tadi bersamanya mulai membuka suarapun bak tak terdengar. Berperawakan teduh dengan tinggi badan semampai namanya Fadlan. Teman semasa kuliah Nindiya. Perkenalan pertama saat pertama kali memasuki kelas perkuliahan lalu semakin dekat dengan beberapa kerja kelompok. Mungkin sedikit kesamaan dalam pola berfikir. Berbincang tentang perkuliahan dirasa menyenangkan, beberapa perdebatan juga disampaikan dengan terang-terang. Sampai pada titik saling membantu dalam memecahkan masalah dan beberapa hal yang diurus di masa mahasiswa.
Dapat dikatan sebagai teman dekat. Jika semisal ada beberapa hal yang tidak dimengerti maka datang ke satu sama lain jadi solusi. Saling mengingatkan beberap hal juga jadi kebiasaan. Namun disebuah masa saat Fadlan mencapai puncak sebagai mahasiswa yang artinya lulus dengan predikat cumlaude buat jarak diantara mereka mulai terbangun. Nindiya sedikit terhambat dalam menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa. Jarak terbentuk, komunikasi yang biasanya sering terjadi perlahan memudar.
"Nin.." suara lembut itu terdengar, memang Fadlan seorang yang sangat populer di kelas. Karena Ia memiliki suara lembut, bertutur sopan, badan proposional dan senyum manis. Teman perempuan di kelas juga banyak yang mengagumi sosoknya. Populer sebab kepintarannya juga mungkin. Memiliki wajah tampan dan pintar memang sebuah keunggulan yang akan dilihat semua orang. Terlalu mecolok untuk diabaikan.
Tangan Nindiya digenggam, perempaun itu menoleh dengan wajah yang cemas, matanya sendu.
"Nin.. gapapa ya, adik kamu pasti baik aja kok. Tenang dulu," Perkataan buat ekpresi Nindiya semakin sedih, matanya mulai berkaca. Kecemasan sudah memakan dirinya.
"Galen udah beberapa kali aku liat dia kaya gini tapi aku ga ngomong takut dia malah makin tertutup, kaya mana bisa tenang coba.." Keluh Nindiya memuncak seluruh kekhawatiran dalam kepalanya mulai menggerogoti perasaannya.
"Adik aku itu cukup tertutup, pikirannya pasti takut buat orang rumah cemas," Kali ini kedua tangan milik Nindiya digenggam, mata Fadlan menatap dan mengangguk kecil.
"Nanti pasti Adik kamu ngabrarin kan-"
"Sekarang aja dia ga bisa dihubungi Fad."
Fadlan langsung terdiam ternyata teman deket yang ia rasa paling gampang dimengerti itu punya sisi seperti ini. Fadlan melihat sisi rapuh yang lain. Mungkin cakap-cakap saat perkuliah hanya sekedar sampul kosong. Fadlan kira ia sanagt mengenal perempuan yang selama ini sangat amat dekat dengannya. Bahkan ramah tamah saling mengingatkan makan sering dilakukan. Fadlan sering kali mengeluh. Oh, dan baru ia sadari bahwa Nindiya belum pernah mengeluh sama sekali.
Dengan cepat Fadlan duduk di samping Nindiya dari posisinya yang berjongkok, Ia merangkul bahu lemah itu, "Aku disini, kita tunggu bareng ya," pundak Nindiya dielus lembut buat si anak tenagh cukup larut dan merasa tenang.
"Kalo semisal berat ditanggung sediri, liat aku. Kamu bisa cari aku kapanpun. Aku pasti dateng," Gelengan kepala itu buat Fadlan menghentikan elusannya, ia menatap Nindiya dengan sama teduhnya, dilihatnya lamat-lamat menunggu jawaban dari gelengan itu.
"Ngga, aku bisa sendiri kok, ga mau ngerepotin orang lain sama masalahku."
"Nin.. aku bukan orang lain, aku temen kamu, sahabat, kamu bisa cerita-" tatapan kecewa Fadlan terbentuk, sejujurnya Fadlan sangat senang bertemu kembali dengan kawan kampsunya kala itu. Fadlan yang ditugaskan di kabupaten itu bahkan ingat bahwa Nindiya tinggal disana dan menunggu kapan takdir pertemukan mereka.
"Fad.. aku tau kamu peduli tapi tolong jangan kasihanin aku," Kalimat itu meluncur dengan kepala tertunduk tak ada keberanian untuk bertatap dengan binar milik Fadlan.
"Kamu liat aku, aku disini. Kita bisa saling cerita kaya waktu kuliah, bagi sedihnya sama aku juga. Aku ga ada ya kasihan sama kamu," Nindiya tahu jawaban tulus itu benar adanya namun rasanya hati Nindiya bergejolak menolak. Ada rasa takut bahwa beberapa buku yang ia simpan didalam kepala terbuka dan terbaca.
"Makasih banget Fad, tapi kayanya aku harus pulang dulu," Setelah mengatakan itu Nindiya segera meninggalkan Fadlan yang masih setia mentapnya tanpa henti. Langkah cepat itu dibiarkan sampai hilang diantara kerumunan orang. sama seperti pikiran lelaki itu yang mulai tenggelam sebab beberapa asumsi mulai mendatanginya.
"Apa terlalu cepet ya aku bersikap kaya gini," Fadlan berkata pelan lalu mengangguk.
Ketika sampai di rumah beberapa notifikasi masuk dengan dering besar, nindiya terburu membuka tasnya dan meraih benda itu.
Galennnn
Iya Ti, itu aku
Aku gapapa, ini udah jalan pulang.
Aku jaga diri kok, ada Malik, Pras sama Indra juga, jangan liatin videonya ke Ayah Bunda ya
Dengan segera Nindiya sentuh fitur telpon, dering itu buatnya semakin cemas sebab belum ada jawaban,
Iya, Ti
"Kamu gimana sekarang? perutnya sakit ga? udah ke rumah sakit terdekat?"
Tadi langsung ditanganin bareng beberapa korban kok
cuma memar biasa, kaya kita dulu karate bareng lohh
"Beneran ga ada apa-apa yang lain?"
Iya tadi medis langsung kasih beberapa obat juga
udah ah jangan kawatir gitu, aku beneran gapapa ini
Len jaga diri, kepentingan masyarakat emang penting
"tapi aparat mana pandang bulu kalo kondisi gitu"
Iyaaa
tapi kan aku perlu bantu yang lain juga, Ti
Yang aku bisa cuma itu tapi dihalangin
"Iya ohti ngerti tapi..."
Ga ada tapi, Ti. Aku anak medis diposko.
Ohti pasti ngerti lah
Helaan nafas Nindiya mendesah kasar.
"Ya udah, beneran gapapa kan, lebih hati-hati aja deh kalo gitu,"
Panggilan itu terputus, Nindiya masuk ke dalam dengan letih badan dan batin. Langkahnya gontai bak tak bertenaga. Galen juga berpesan jaga beritahu orang lain mengenai kejadian hari ini. si bungsu bahkan menyuruhnya untuk berjanji. Dan dengan sungkan Nindiya mengiyakan untuk menyudahi perbincangan.
"Makan, dek!" Suara Ayah sedikit berteriak karena sedang berada di dapur.
Nindiya melihat Ayah, Bunda, dan Kaluna yang sedang makan malam itu lalu tersenyum kecil.
"Udah tadi makan sama temen," Setelah mengatakan itu langkahnya yang berat kembali diseret untuk merebahkan tubuhnya. Pikirannya penuh dan tak ada yang jelas dalam setiap perkataan kepala dan hatinya.
Dringg..
Bunyi notifikasi itu membuat Nindiya membuka kembali kedua matanya,
Fadlan FH.18