Nindiya masih belum meberitahukan musibah yang ia dapati minggu lalu. Senyum miliknya masih ia rekahkan agar tak ada yang menaruh curiga. Ketenangan Nindiya itu memang selalu menjadi nomor satu. Sebab ia tidak ingin kesedihannya mencakup seluruh anggota keluarga. Setelah beberapa kali bertukar pesan dengan Fadlan. Hari ini tenaga penghabisan yang sudah diusahakan itu ia pegang erat. Fadlan mengatakan agar Nindiya jujur sekarang agar tak menggerogoti dirinya saja. Pertemuan kemarin saja Fadlan mengatakan bahwa Ninidya menjadi lebih kurus.
Dengan suara yang masih ditahan keadaan rumah memang sedang sepi, Ayah dan Bunda sedang memakan pisang goreng yang Bunda buat pagi tadi. Nindiya mengelupaskna kuku jempol tangan dengan telunjuk dikarenaka gugup setengah mati. Ia amat takut akan kekecewaan yang akan diterima karena kecerobohan yang ia lakukan. Sudah berbagai cara Nindiya lakukan, melapor pada bank terkait, melapor polisi namun tetap saja hasilnya nihil. Apalagi lembaga kepolisian yang cukup lamban, mungkin memang banyak yang melapor tiap harinya namun dalam proses masih terlalu lambat. Padahal isi kantor itu tidak sedikit, rumah dinas yang disekitar sanpun penuh. Entahlah. Kebanyakan mengatakan jika tidak ada uang pelicin makan kasus tidak akan naik.
"Bunda.." Nindiya memanggil dengan suara kecil namun tetap terdengar. Kepalanya masih tertunduk. Kulit ujung kuku jempolnya sudah mengelupas.
"Aku.. baru aja kena musibah," Sekali lagi gesekan antar kedua kuku jempol dan telunjuk akhirnya sedikit darah muncul disana namun tetap dilakukan. Rasa sakit itu tak terasa sebab rasa cemas yang berlebihan.
"Musibah apa, Dek.." wajah milik Bunda sudah berubah menjadi tegang begitu juga Ayah yang hanya diam.
"Dek.. gapapa cerita aja. Namanya musibah juga.." Bundu duduk disebelah Nindiya dan menggenggam tangan yang sudah ada darah diujung kulitnya.
"Minggu kemaren ketipu deposito.." Kali ini Ayah menegakkan tubuhnya sebab terkejut. "Ayah jangan marah tapi.." Dari segala hal di dunia, Nindiya paling takut jika Ayah marah karena pria itu tidak pernah meninggikan suara atau marah kepada ketiga anaknya sehingga segan akan mengecewakan tumbuh subur.
"Aku yang asal percaya sama orang tanpa ngecek latarnya dulu. Dia perkenalin diri dari bank besar. Aku percaya waktu dia kasih liat surat pemberitahuan pencairan dan kirim uang administrasi. Tololnya lagi percaya aja, kayanya karena aku ga sabar soal hasil yang gede sampe akhirnya gampang dikibulin orang.." Nindiya berhenti sejenak dan menatap Ayah yang masih membisu mungkin sedang mencerna apa yang sedang terjadi. Apalagi baru beberapa minggu lalu si bungsu juga terkena musibah sekarang giliran Nindiya.
"Berapa biayanya?" Ayah menyanyakan itu dengan wajah tegang dan amat serius. Nindiya memalingkan wajah karena terlalu takut. Jatungnya sudah berdebar bagai sedang berlari.
"Dua puluh juta.."
"Astagfirullah.." Ucap Ayah dan mengusap wajahnya.
"Ya Allah, Dek..." Bunda menyenderkan tubuhnya pada dinding.
Kaget dan tak percaya mungkin jadi buah pertama.
Jika bisa dikatakan Bunda tahu benar anak tengahnya itu tak pernah bertindak ceroboh. Segala hal pasti dipikirkan berulang kali. Seumur hidup yang paling pandai menghindari kekecewaan hanya si tengah.
"Kapan kejadiannya? udah lapor?" Ayah menjatuhkan pertanyaan beruntun sebab panik.
"Minggu lalu.. Aku ga berani bilang jadi aku coba urus sendiri lapor sana sini. Polisi, Bank bahkan lembagai Otoritas Jasa Keuangan biar kelacak tapi belum ada hasil. Apalagi polisi bahkan belum diproses kayanya."
"Kenapa ga cerita Dek.. Kalo cerita kan pasti Ayah sama Bunda bantu.." Suara Bunda lesu dan pasrah akan keadaan.
"Aku takut kaya gini, buat kalian kecewa kaya gini. Ini salah aku jadi harus aku yang tanggung jawab. Maafin aku yang udah tolol sampe nyerahin uang sebesar itu.."
Nindiya masih senantiasa menyalahkan dirinya. Hingga menggerogoti hatinya.
"Adek takut kalian marah.. mana baru aja Galen kena musibah. Adek takut Ayah sama Bunda makin kepikiran. Aku tau keuangan kita lagi jelek-jeleknya makanya itu aku ga mau buat masalah aku akhirnya jadi beban buat Ayah Bunda. Aku ga mau Ayah sama Bunda makin berat pundaknya.." Nindiya menangis tersendu. Ia amat takut dengan suasana ini. Rasa kecewa memenuhi ruangan dan Nindiya setengah mati menahan gejolak sesak pada dada yang terasa amat sangat menyakitkan.
Bunda memeluk si Tengah dengan erat, kepalanya menggeleng kuat, "Engga, Dek. Musibah sebesar ini ga bisa kamu tanggung sendiri. Bunda sama Ayah bakalan rangkul kamu.. jangan salahin diri sendiri." Air mata Bunda ikut berlinang dan itu yang paling Nindiya benci. Melihat Kesedihan orangtuanya.
"Tapi ini emang salah aku, Bun. Aku terlalu kepengen untung besar dalam waktu singkat. Aku.. aku.."
"Udah, Dek.. gapapa kita gollow up kasusnya bareng jangan dipikirin sendiri," Dengan suara pelan Ayah bicara dan menepuk bahu Nindiya dengan lembut. Ikut menenangkan si tengah yang penuh kesedihan.
"Jangan lagi kalo kena musibah ga ngomong ya, biar Bunda sama Ayah tau apa yang kamu rasain," Bunda mengatakan itu dengan jelas. sebab si tengah tak pernah sekalipun menceritakan kesedihan atau apapun mengenai dirinya. Untuk pertama kalinya anak keduanya itu meluruhkan tembok besar yang batasi mereka.
Nindiya mengangguk dan menghapus air matanya takut terlaru larut dan malah makin bagi kepedihan kepada kedua orangtuanya, "Maafin aku.." Nindiya melafalkan maaf terus menerus.
Keadaan ruang tenagh penuh dengan sendu dan cemas. Sebab cerita yang tiba-tiba dibagi terasa seperti jantung yang tiba-tiba dicabut. Detak itu berhenti sejenak. Larut dalam rasa bersalah yang diemban masing-masing. Mungkin dengan begini rasa tertekan Nindiya sedikit merda, tenang karena sudah berbagi cerita agar kedua orangtuanya tahu dan ia tak susah payah menahannya sendiri.
Bunda berdiri dan berjalan ke arah kamarnya begitu juga Ayah yang sudah lebih dulu ke halaman. nindiya tahu pasti kedua orang tuanya sangat amat sedih. Dan tak ingin memeprlihatkan itu kepadanya. Kepala Nindiya semakin tertunduk, jantungnya masih terus berdetak tak berirama. Kepalanya penuh dengan segala asumsi dan suara yang menyalahkan diri sendiri.
Nindiya bersumpah tidak akan bertindak ceroboh seperti ini. Tak lagi ingin bangun rasa sedih dan kecewa pada wajah kedua orangtuanya.
Dalam hidup ini dirasa amat hampa sebab kasih sayang tak sampai sepenuhnya. Rasa terkasih itu hanya sampai lidah saja hingga buat mati rasa. Mungkin kasih sayang itu ada dan tertanam namun sekian jauh sampai tak dapat ditemukan. Rasa yang harusnya terasa manis hingga tak tertandingi malah hanya hambar yang terisi. Kasih sayang itu sampai dalam bentuk tak masuk di akal. Cinta itu tak juga bertumbuh lagi semenjak beranjak dewasa.
Kaluna memasuki kamar dan mendapati Adiknya yang sedang menatap nanar ponselnya, "Katanya kena tipu deposito ya? Kok bisa sih? biasanya yang paling strict itu kamu lohh.."
"Ga tau juga, Kak. Lagi kemasukan setan mungkin."
"Makanya lebih hati-hati anjir, terus baru cerita sekarang. Kamu punya keluarga, Ayah sama Bunda masih ada kok bisa-bisanya ditelen sendirian. Apa sih yang mau kamu dapet, Dek dari kaya gini. Uang yang ilang juga gede banget. Udah tau zaman sekarang keuangan lagi jelek, penipuan lagi marak, eh malah dicobain."
Nindiya tak merespon pernyataan panjang Kaluna yang dikatakan sembari memarahi.
"Kalo udah gini gimana, harusnya cari tau dulu. Tanya-tanya dulu, uang-"
"Iya Kak, aku salah. Aku ga ngecek aku yang tolol tapi jangan dikira aku ga ngerasa apa-apa. Aku juga capek, Kak. Iya aku salah. Maafin kalo udah buat kamu marah sama kelakuan tolol ku ini."
"Ih diomongin kok marah sih, lagian kamu juga harusnya taulah hal kaya gini, ngerasa paling banyak uang kah?"
Jika banyak yang bertanya, keadaan rumah sangat hening. Ayah dan Bunda bahkan tak bisa tatap si tengah yang sudah hilang arah. Nindiya juga tak tahu mengapa, tapi keadaannya sekarang terasa sekali terpojok. Uang yang hilang, keluarga yang juga bimbang. ingin sekali segera Nindiya mendapati hasil dari proses pelaporan namun nihil. Kalau saja ada satu tempat untuk lari maka Ia akan dengan sekuat tenaga bersembunyi. Garis jalan yang ditentukan untuk Nindiya ternyata sangat-amat berat. Entahlah mungkin ini juga berlaku kepada seluruh keluarganya.
Dringg
Fadlan FH.18
Udah makan belum?
Ngobrol sama Ayah Bunda juga udah?
Ini bahkan keadaan yang makin rumit. Nindiya tahu persis dan dengar dengan sangat jelas pernyataan perasaan teruna yang dekta dengannya itu. Ia paham dan sejujurnya merasa tak pantas. Tak pantas menerima cinta dari orang lain yang bahkan dirinya tak dapat mencitai dirinya sendiri. Rasa nyaman dan hangat itu ingin sekali Nindiya dekap dan tak dilepaskan tapi apalah daya, Nindiya merasa tak dapat kembalikan rasa yang sama besarnya. Dunia yang rapuh dan menghantam dirinya berulang kali buat seluruh dirinya lebur dan hanya menjalani hidup saja. Jika saja rasa ini dapat lenyap. Ada beberapa keping yang tidak dapat ditemukan. Nindiya takut hilangnya kepingan itu jadi kekurangan yang tak bisa diisi seberapa besar cinta yang diberikan.
Untuk membuka hati saja sangat berat apalagi menerima rasa cinta. Sudahsering dicoba dan sampai sekarang tak ditemukan jawabannya. Mungkin memang hampa adalah hal yang paling cocok untuk Nindiya.