Tiga Bayang di Bawah Satu Langit

velaaa
Chapter #10

Kembali Pulang

Keadaan rumah terasa sepi, setiap orang belum ada yang mencoba mencari celah untuk saling menyapa. Biasanya hari minggu pagi sudah banyak celoteh yang kepanjangangan dari Bunda soal bagaimana pengajian dan berbagai kegiatan bersama temannya. Juga beberapa hal soal bagaimana keadaan keuangan yang makin hari makin tak terkendali. Ada Ayah yang mulai mondar-mandir menunggu sarapan siap dengan sedikit menyebalkan karena terus-terusan mengatakan ini sudah jam sarapan dan asam lambungnya akan naik.

Keadaan rumah akhir-akhir ini cuku beku sampai buat bungkam setiap birai bibir. Tak ada sepatah kata yang diberikan dengan hangat. Setiap kali saling melihat hanya ada tindakan buang muka dan menghindar. Rumah ini terasa berbeda. Sangat. Mungkin karena terbiasa dengan saling beri cerita sedikit-sedikit namun tak ada niatan saling menyakiti.

Mungkin dalam setiap kalimat dan kat itu miliki banyak makna. Yang pada implementasinya akan diartikan dari segala penjuru arah di setiap kepala. Sebab tak ada yang tahu bagaimana orang menilai setiap kata dan tindakan.

Rumah yang biasanya sudah diisi ocehan dan saling kesal tak ada hentinya dibiarkan dingin dan hening. Tak ada yang ingin sentuh barang sedikit. Biasanya candaan tak lucu atau deheman bernyanyi kecil terlontar tanpa beban namun tegang bagai jadi selimut yang dipakai karena tak ingin saling memaksakan. Memaksakan setiap isi kepala adalah kebenaran. Membiarkan isi kepala itu larut dengan sendirinya sebab tak tahu bagaimana ingin tampung atau merajut kembali. Dimana hati yang sudah memang pecah belah tak lagi bisa di sempurnakan kembali.

Bunda seharusnya sudah mengoceh mengenai bagaimana Kaluna menyapu atau bagaimana cara Nindiya mengurus kucing. Belum lagi soal Galen yang sering bangun kesiangan. Apalagi Ayah yang hanya buat kesal sebab tak sabar menyantap sarapan. Setiap jawaban akan ocehan itu kadang memiliki tingkat humor tinggi. Yang entah mengapa bisa menguarkan tawa yang lepas dan senyum yang bebas.

Biasanya juga, Kaluna sudah mengoceh karena keadaan rumah yang berantakan. Dimulai dari sampah camilan dan tissue bekas yang ada dimana-mana. Pagi itu terasa begitu asing. Kebiasaan yang harusnya sudah didengar dan terjadi malah tak ada untuk mengisi awal hari.

Kaluna masih setia diam dalam keterbisuan. Siapa yang tidak mengerti kala keinginan dan keputtusan yang ia ambil dengan hati-hati malah mendapat timbal balik kemarahan. Ia bahkan tidak bertelponan seperti biasa dengan kekasihnya.

Nindiya tidak tahan dengan suasana pun angkat bicara, "Bun, jadinya ini gimana masaknya?" Kering apa berkuah?" Gadis itu menghampiri Bundanya yang mengaduk sayur ayam kecap pedas sembari melamun.

"Kaya biasa aja, Dek.. agak berkuah," Bunda menjawab dengan pelan hampir tak terdengar.

Cakap itu terasa begitu kering sampai Nindiya tidak tahu bagaimana harus menyambung obrolan.

"Kak.. maafin soal semalem," Suara milik Galen terdengar, disana Kaluna sedang membersihkan atas lemari kecil yang dipenuhi barang.

"Aku ga bermaksud buat ngebantah tapi agak kesel aja dikeadaan rumah yangkaya sekarang-"

"Iya, ngerti."

"Kak, sumpah. Bukannya seharusnya yang bisa tau keadaan lebih baik itunkamu ya?"

"Len..!" teriak Nindiya dengan cepat naik keatas dan mengajak kedua saudaranya ke arah teras depan.

"Udalah.. kasian Ayah Bunda jadi kepikiran kalo masih lanjut berantemnya.." menatap kedua saudaranya dengan memohon Nindiya berkata dengan hati-hati.

"Ya itu si Galen, sok paling ngerti keadaan." Kaluna melihat adik bungsunya dengan sinis.

"Lah bukannya gitu kali, Kak.. maksudku seharusnya pembicaraan soal nikah itu tunggu beberapa masalah ini dingin. Kita ini masih buram, Kak.."

"Ya aku juga kan udah bilang punya tabungan!" Suara Kaluna mendesak dan hampir berteriak.

"Kamu itu tau apa sih, cuma karena kamu ga bisa buat cita-cita tergapai karena merasa ekonomi lagi seret itu mah salah kamu. Kenapa ga coba aja. Kamu udah nyerah duluan."

"Kak.. Len.. bisa ya jangan berantem terus gini," Nindiya mencoba menengahi.

"Aku udah minta maaf tadi, kok. Tapi respon Kakak aja yang aneh.. anak pertama itu pasti ngerasa bebannya paling berat ya. kaya di sosmed sosmed." Kalimat itu sontak buat Nindiya menatap Galen tajam dan menggeleng pelan.

"Iya enak ya jadi kamu bebannya ga ada kan ditanggung terus," Nindiya menghela nafas mendengar jawaban yang meluncur dengan tatapan mematikan milik Kaluna.

"Lah.. aku emang masih tanggungan. kan masih sekolah. Kakak juga dulu sebelum kerja kan ditanggung? jangan ngerasa pilih kasih, Kak. liat aja keadaanya gimana sekarang.."

Nindiya memejamkan matanya dan menarik nafas dalam, "Kalian tuh.. perasaan yang kalian omongin dari tadi itu cuma apa yang ada di otak kalian aja. asumsi-asumsi yang lama kalian rasain. Aku tau kok setiap dari kita punya pandangan yang beda tapi bisa kan jangan kaya gini?"

Menghela nafas sebentar dan menatap kedua saudaranya yang terdiam itu Nindiya melanjutkan kalimatnya, "Kakak yang ngerasa berat sama apa yang dialamin, capek, sering dimarahin, sering di desak soal keuangan. Galen yang ngerasa berat juga karena harus relain cita-cita, jalan kuliah lagi capek, mungkin banyak tekanan, belum lagi liat setiap masa dari jaya sampe sekarang yang tinggal sisa-sisa aja. Tapi kalian tau kan, kasih sayang Ayah Bunda itu sama besarnya? Bunda yang selalu ngusahain apa-apa biar ga buat Kakak kerasa berat kredit motor. Ayah yang jarang nyuruh Kakak ini itu sesering aku karena tau Kakak capek. Bunda selalu ngusahain semua yang Galen perlu di kuliahan biar ga kurang, Ayah yang selalu pengen Galen punya barang bagus dan ga minder apalagi si zaman sekarang-"

"Jadi aku mohon banget, dengan kalian yang bilang Ayah lebih sayang ini Bunda lebih sayang itu. Pasti mereka juga kecewa, mereka ngerasa ga bisa kasih apa yang harusnya mereka kasih padahal udah setara. Tolong ya.. jangan gini. cara kasih sayang yang disalurin ke kita tuh beda-beda.." Nindiya menatap kosong ke bawah sebab dadanya yang sesak. Ia mengerti setiap pandangan itu pasti ada ketimpangan yang sangat terlihat.

"Kamu mah enak ngomong gitu, ekonomi stabil, tabungan banyak, terus Bunda sama Ayah mana pernah ngedesak soal ini itu.."

"Kak? kamu ngerasa didesak cuma karena tanggung jawab kamu buat bayar kredit motor, kah? Kak.. kamu liat motor ku itu, motor yang langganan bengkel itu sangking udah tuanya.. aku pilih pake itu Kak daripada beli baru karena disaat kaya gini kredit itu emang berat banget.. kalo mungkin aku diposisi kamu pasti setiap bulan udah diingetin terus kaya kamu,"

"Kamu tuh ngerasa superior banget ya, mentang-mentang banyak kebutuhan rumah kamu yang talangin?" Galen terkejut dengan perkataan itu dan langsung menoleh ke Arah Kakak keduanya yang masih menggambarkan ekspresi datar.

"Astagfirullah, Kak.. Kok bisa sih mikir kaya gitu. Kak aku iklas kalo dimintain tolong ini itu, aku juga lebih mentingin bayar listrik daripada jajan baju baru. Sekarang masalahnya di kamu, kamu ga bisa bedaan mana yang dibutuhin mana yang kamu pengenin."

"Self reward anjirr.."

"Ohti juga kenapa ga belanja ini itu padahal uang tabungannya banyak?" Galen mempertanyakan pertanyaan yang sejak semalam terus berkeliaran di kepalanya.

"Aku ga tau.." jawaban singkat itu sontak buat tatapan Kaluna dan Galen tertuju pada Nindiya.

"Mungkin karena aku ngerasa hasilnya harus dibagi antar keperluan rumah dan tabungan. Aku cuma mikirin gimana uangnya cukup buat bantuin Bunda menuhin kebutuhan orang rumah. Mungkin aku yang ga ada kepikiran buat ini itu soalnya pikirannya udah stuck ke rumah aja." Kelanjutan itu buat Nindiya tersadar dan ingin menyudahi percakapa itu.

"Ti.. gapapa sekali-sekali egois, kok." Galen bicara dengan tenang harap Kakak keduanya bisa mnegerti apa maksudnya.

"Dek.. kenapa kamu bisa kaya gini cara pikirnya?" Kaluna menahan diri agar tak menangis membayangkan bagaimana pikiran Adik pertamanya yang hanya memikirkan tentang rumah, rumah dan rumah.

"Karena aku ga mau rumah ini, tempat kita pulang jadi kerasa berbeda. Aku pengen rasa hangat sama nyaman ini terus ada. Biar Galen pulang bisa seneng, Kakak pulang bisa nyaman. Ayah Bunda juga ga akan merasa sendirian. Kita bertiga itu masih jadi semangat buat mereka hidup sekarang, mereka mau liat Galen wisuda, mereka mau liat Kakak kerja dan sukses sebagai guru punya masa depan dengan ekonomi yang stabil. Dengan ngebantu sedikit-sedikit pasti berarti buat Ayah sama Bunda. Aku juga kadang kesel kok, tapi aku coba diemin aja biar ga nyusahin mereka, selagi bisa aku handle sendiri-"

Suara milik Nindiya sedikit bergetar, "Aku mohon untuk sekarang kita jangan berantem, saling debat atau apapun di depan Ayah sama Bunda soal kasih sayang."

Lihat selengkapnya