Tiga Bayang di Bawah Satu Langit

velaaa
Chapter #11

Kacamata Bunda

Rumah ini ingin tidak terlalu besar agar selalu penuh dengan kasih sayang. Ingin dibangun sekuat akar pohon jati yang besar. Dalam beberapa tahun rumah ikut bertambah usia berbanding sama dengan pengisi rumah itu. Hangat itu ada namun mungkin tidak banyak di rasa sebab beberapa diantaranya tidak sampai. Jika harus diungkapkan dengan kata-kata maka kertas itu akan tetap kosong, putih selayaknya tulus yang diberi.

Sebagai seorang Bunda, aku hanya ingin segalanya berjalan dengan baik bagi ketiga buah hati dan cinta yang ku lahirkan. Keinginan dan harapan diantaranya agar mereka memiliki kehidupan yang lebih baik dari pada orangtuanya. Berjalan tanpa beban dan masalah.

Dari bagaimana ia melihat pertumbuhan satu persatu anaknya, dari dua saudara pertama yang hanya berbeda usia satu tahun saja. Mungkin karena itu saat dimana Bunda harus mencari nafkah sebagai penjualan nasi uduk di belakang salah satu kantor Pemerintah Daerah. Iya benar, rumah kecil dengan satu kamar, tidak begitu luas sebab bergabung dengan warung. Rumah kecil yang jadi harap pertama. Bisa tinggal disana karena Ayah adalah penjaga malam di kantor itu bahkan Ayah juga menjadi seorang Ojek. Untuk mengais sedikit rezeki.

Beberapa kali pula Bunda berjualan di pasar malah yang sering diselenggarakan saat ulang tahun daerah. Kedua anaknya besar disana, dari menginap di pasar malam, sendirian di rumah sampai larut malam karena Bunda dan Ayah yang masih berjualan sampai pasar malam itu tutup.

Perjuangan untuk membangun rumah yang layak dan nyaman terus diusahakan. Agar Adek tidak tidur dengan Ayah ber-alaskan kasur tipis karena kamar hanya cukup untuk Bunda dan Kakak Kaluna saja. Rumah itu cukup. Keakraban dan kehangatan itu ada dengan bumbu perkelahian kedua saudara perempuan itu.

Rumah kecil itu tetap jadi atap paling kokoh. sampai pada akhirnya si bungsu lahir. Dan ternyat dengan kedatangan Galen rezeki itu diberikan dengan berlimpah oleh sang maha esa. Nindiya dan Kaluna yang belajar mengasuh seorang adik di usia begitu kecil. Mereka berdua senang menyuapi Galen saat Bunda dan Ayah sedang sibuk mencari uang. Kali ini mereka tengah melihat kembang api yang sering kali dibeli saat bulan ramdhan. Karena rumah yang jauh dari pemukiman hanya dikelilingi kantor terasa amat sepi tetapan tetap meriah karena senyum dan tawa.

Sampai akhirnya Ayah yang diangkat derajatnya karena rekomendasi dari dinas yang dimana ia berkerja sebagi penjaga malam. Maka dengan itu sekitar Galen berusia lima tahun rumah kami yang nyaman itupun selesai dibangun. Dengan harap itu akan jadi langkah awal dimana cinta diberi tanpa henti.

Dari kacamata Bunda, Kaluna menjadi Kakak yang cukup kekanakan karena sikapnya yang feminin. Menginginkan apapun yang tampak cantik. Berbanding terbalik dengan Ninidya yang tidak terlalu perduli dengan penampilan. Bahkan ia sering kali bermain dengan teman lelakinya sehingga terlihat tomboy. Dan dengan Galen yang datang dalam penampilan super menggemaskan. berbeda 7-6 tahun dengan kedua Kakak buat Galen dijaga dengan super protektif. Mereka mengasuh si bungsu dengan teliti. Bahkan terkadang saat haru lembur menjaga warung kaki lima di pasar malam Bunda akan melihat pemadangan dimana ketiga saudara itu telah tertidur. Didepan televisi yang masih menyala. Terlelap dengan sendirinya.

Jendala dan pintu yang tiupkan angin itu tanpa terasa mulai usang. Ketiga anak Bunda sudah beranjak remaja sampai dewasa. Dari bagaimana Bunda melihat, Ketiga anaknya dibesarkan tanpa kekurangan. Mereka menjadi pribadi yang baik. Dimulai dari Kaluna yang mendaftarkan diri sebagai guru honor disebuah pesantren saat sedang mengerjakan skripsi karena terhambat covid dan harus daring maka ia berinisiatif untuk membangun karir lebih dahulu. Menjadi pribadi yang mementingkan karir. Nindiya yang menyelesaikan kuliahnya satu tahun lebih lambat karena covid sampai akhirnya diterima disebuah perusahan. Dan Galen yang meperlihatkan prestasi sebagai paskibraka tingkat kabupaten saat peringatan 17 Agustus.

Ketiga anaknya itu terlihat tangguh dengan cara masing-masing.

Mungkin ada kesalahan presepsi pahwa dirinya tahu segalanya. Karen ia sudah memberikan seluruh dirinya, tenaga dan upaya untuk anak-anaknya.

Bunda merasa segala perhatian dan kasih sayangnya diberikan dengan baik. Atau mungkin memang sudah sangat baik namun cara penyampaiannya yang tidak sesuai.

Lihat selengkapnya