Tiga Bayang di Bawah Satu Langit

velaaa
Chapter #12

Sepatu Ayah

Jika bisa memberikan kecukupan untuk para anak-anak yang paling disayanginya maka Ayah akan berika dunianya. Dengan rasa sayng itu maka Ayah berfikir dapat mempunyai kuasa untuk mengendalikan dan menyelamatkan anak-anaknya dengan tangnya sendiri.

Perjuangan Ayah untuk memperbaiki ekonomi juga tak mudah. Pertama kali menikah dengan Bunda, Ayah hanya pekerja serabutan yang masih kesana kemari mencari rezeki. Masih dengan semangat perjuangan yang ingin samapi dengan jalan yang benar. Dengan proyek sana sini, kuli, atau apapun Ayah lakukan. Sampai akhirnya Ayah berpikir untuk menjadi seorang Ojek. Dengan percaya diri, menjadi orang pertama di desa sebagai Ojek keliling. Ayah menyukai semua yang dapat menghasilkan uang demi menghidupi anak-anaknya. Sampai akhirnya di usia Kaluna menginjak 3 Tahun kejadian traumatik itu terjadi, sang sulung diserang oleh anjing liar. Dengan ekonomi yang tidak seberapa, Ayah uring-uringan bagaimana menangani itu sampai Adiknya dengan segla bantuannya mengatakan jangan memikirkan soal uang yang terpenting si balita itu ditangani dahulu. Karena saat itu rumah kami belum berada di belakang perkantoran pemda melainkan di ruang kecil milik Kakek. Mungkin karena para kerabat yang pandang kami tidak mampu. Bahkan Ayah hanya memakai sendal jepit saja karena sepatunya telah usang.

Tidak ada yang lebih penting dari kebutuhan keluarganya sehingga Ayah tidak terlalu perduli dengan alas kakinya. Sepatu usang yang terkena hujan, panas itu sudah sepatutnya di ganti. Namun Ayah berfikir, sayang jika harus diganti sebab itu sepatu yang jadi saksi perjuangannya. Sepatu dengan jahitan sol sepatu itu lama dipakai dan dirasa masih layak. Memakai sendal jepit sesekali dicuaca panas pun tak perduli. Karena penghasil itu harus digunakan untuk prioritas utamanya

Sampai akhirnya Menerima perkerjaan sebagai penjaga malam salah satu kantor dan ditawarkan tinggal di rumah kecil belakang kantor dan membuka kantin. Tentu Ayah menerima itu. Kapan lagi perkerjaan dengan membuka usaha akan datang lagi. Siang Ayah masih menjalani kerjanya sebgai tukang Ojek, semakin lama semakin banyak yang menjadi tukang Ojek keliling. Awalnya hanya berdua saja dengan teman Ayah. Di belakang sana kisah kecil itu buatnya semakin kuat dan tegas, setiap hari sabtu dan minggu Si sulung dan tengah sering diajak masuk ke dalam bermain komputer dan juga tenis meja. Bleum lagi sore hari sering diisi dengan bermain bulu tangkis bersama. Keluarga mereka hangat dan tentram dengan penghasilan mencukupi. Dari Kantin di belakang kantor, sampai berdagang di pasar malam. Melihat anak-anaknya yang bahagia sebab bisa makan nasi uduk dan teh botol setiap harinya justru buatnya makin bersyukur.

Menjemput si sulung dan tengah saat derai hujan sepulang sekolah itu sering kali diisi canda tawa. Sebab dua anak mungil itu bersembunyi di dalam jaket yang dibuka untuk menjadi paelindung anak-anaknya menghalau air hujan. Terkadang si sulung bahkan tidak mau masuk kelas sampai si tengah harus ikut belajar bersama. Dan itu menyebabkan si tengah mendapatkan pendidikan di Taman Kanak-kanak selama tiga tahun.

Tiba-tiba disuatu hari ada pengunguman besar bahwa seriap honorer di kabupaten tersebut akan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil. Tentu Ayah tidak berani mengajukan diri. Apalah artinya menjadi seorang penjaga malam dan tiba-tiba ingin posisi sebagai Pegawai Negeri Sipil. Tahun itu memang pengakatan besar-besaran karena kekurangan tenaga sebab baru terjadi pemekaran daerah. Dengan merendahkan diri Ayah tak berani untuk maju.

Suatu hari kepala dinas itu datang dan menngajak Ayah untuk mengobrol. Kepala Dinas itu dengan baik meyakinkan Ayah untuk mengajukan diri karena ia termasuk salah satu perkerja honorer. Namun Ayah menolak ia mengatakan bahwa pendidikannya belum cukup, dirinya hanya lulusan SMA dan tentu Kepala Dinas itu kembali meyakinkan. Bahwasanya di kantor itu banyak karyawan lain yang juga lulusan SMA. Kepala Dinas itu mengatakan kapan lagi rezeki seperti ini didapatkan. Setelah pertemuan itu, Ayah akhirnya mencoba meyakinkan diri untung mengajukan persayaratan. Karena ia memikirkan anak-anaknya. Apalagi si bungsu sudah lahir dan hampir berusia dua tahun kala itu.

Hidup mereka harmonis. Berkecukupan tanpa kekurang. Ayah bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya namun prioritasnya adalah masa kini. Dimana ia harus berusa dengan sangat keras demi menghidupi keluarga kecilnya. Belum lagi mengejar pendidikan si sulung dan tengah yang beriringan sebab hanya berbeda satu tahun itu. Langkah Ayah tegas. Sampai hasil memuaskan didapat, Ayah terangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil dnegan gaji yang cukup besar. Ayah menjadi karyawan kantoran sedang Bunda maish membuka kantin di belakang sana. Terkadang Ayah masih sering berkeliling mencari pelanggan untuk diantar jemput.

Kehidupan mereka sangat cukup. Setiap hari ada makan pecel mba inem atau sate bang toyib. Tidak ada pertengkaran diantara mererka. Mungkin hanya ada sedikit adu mulut dari dua saudara perempuan itu. Si sulung sering kali bersikap tidak ingin mengalah disaat barang dibelikan untuk adiknya lebih disukai. Dan dari hal kecil itu si tengah sering kali mengalah, ia tak pernah menagis kala barang yang seharusnya miliknya di rampas untuk menyenangkan Kakaknya. Terkadang sepatu, Terkadnag tas atau bahkan baju. Mereka sering dibelikan oleh para kerabat sebab lucu bagai anak kembar. Begitu juga dalam menjaga sang Adik si tengah terus siaga sedang sulung hanya melihat sesekali saja. Sedang si bungsu menjadi sosok paling menggemaskan dengan badan gemuk berisi, pipi tembem. Ada saat dimana kedua kakaknya mengasuh sampai harus lari sana sini.

Fitur wajah anak pertamanya sangat feminin, benar-benar cantik dengan kulit putih. Fitur wajah anak keduanya terlihat begitu tegas, bahkan hampir sangat maskulin, tatapannya tajam sama dnegan hidung dan berkulit sawo matang. Anak laki-lakinya memiliki fitur yang sempurna, tampan dengan rambut keriting seperti Bunda. Ayah berjanji bahwa anak-anaknya harus mendapat pendidikan tinggi agar dapat melangkah lebih maju di masa depan. Maka dengan taruhan apapun pendidikan harus nomor satu.

Lihat selengkapnya