Tiga Belas Tahun

rosi hasa
Chapter #1

Satu

Jo ingat betul namanya—Ramses.

Terakhir kali melihat cowok itu, Jo hampir meludahi jaket jeans yang dikenakan Ramses saat dulu di kampus. Rambut Ramses yang terlihat tak pernah dikeramasi dibiarkan panjang tergerai ke sana ke mari mengikuti arah angin, entah karena pamer panjangnya sudah sepinggang, atau ingin orang-orang yang cukup sial berada di dekatnya terganggu. 


Wajahnya… sayangnya, terlalu enak dilihat untuk ukuran orang yang menyebalkan. Garis rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan matanya, matanya hobi setengah menyipit seperti sedang menilai orang lain, atau lebih parah, sedang menahan komentar yang pasti tak akan menyenangkan. 


Dan cara jalannya, Ramses santai, tanpa terburu-buru. Setiap kali Ramses lewat, hampir selalu ada saja yang membuatnya ngobrol. Entah melalui basa-basi, menepuk bahunya, atau memanggil namanya dari kejauhan. Ia membalas semuanya dengan ringan, tanpa dibuat-buat, seolah memang terbiasa dikelilingi banyak orang.


Ramses itu… menyenangkan. Mudah bergaul. Rendah hati. Suka membantu. 


Tapi di sisi lain, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa angkuh. Cara bicaranya tenang, tapi seringkali terlalu tepat dan cepat. Tatapannya santai, tapi seperti sudah tahu lebih dulu ke mana arah percakapan akan berjalan. Bukan angkuh yang tinggi diri, tapi angkuh yang terasa.. Karena ia memang punya alasan untuk itu.


Bagi Jo, ini gangguan. Jelas.

Karena setiap kali berjalan bersamanya, perempuan itu selalu harus berhenti. Menunggu. Berdiri sedikit di belakang, atau di samping, sementara Ramses sibuk tertawa, menyapa, dan terlibat dalam obrolan-obrolan singkat yang tidak pernah benar-benar singkat.


Jo jadi ikut dikenal.

Ikut disapa.

Ikut ditarik masuk ke lingkaran pertemanan yang bahkan bukan miliknya sejak awal.


Seolah-olah, tanpa sadar, ia bukan lagi berjalan sendiri melainkan sebagai bagian dari Ramses.


Ramses Pandang Ahmad.

Jo mengingat nama itu dengan sangat jelas.


Nama yang awalnya membuka mata dan berekspetasi pada nama yang unik. Nama yang dulu sempat ia pikir keren. Unik. Berbeda dari yang lain. Lalu beberapa minggu kemudian ia jadi membenci sang empu nama karena di balik nama yang terdengar megah itu, berdiri seseorang yang menyebalkan.


Dan lebih dari itu, Ramses kejam.


Karena, berkali-kali, tanpa ragu, Ramses hampir membunuhnya.

Bukan dengan tangan.

Melainkan dengan kata-kata.


Semua berawal di tahun pertamanya sebagai mahasiswa.


Saat itu, Jo adalah perempuan yang begitu ambisius untuk menjadi dokter, ambisi yang memenuhi hampir seluruh ruang di kepalanya tanpa sisa. Hari-harinya dipenuhi jadwal, catatan, dan target-target kecil yang ia buat sendiri, seolah hidup memang sesederhana mencentang satu per satu rencana yang sudah disusun rapi.


Sedikit naif, mungkin.

Tapi juga menyenangkan.


Waktu itu, semuanya terasa mungkin. Kecuali punya pacar.


Nama lengkapnya Jyotika Pramudina. Orang-orang memanggilnya Dina sedang khusus Ramses, entah kenapa cowok itu memilih sapaan Jo atau Jyotika ketika dilihatnya gadis berambut sepunggung ini.


Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, posisi yang, tanpa ia sadari, membentuk caranya melihat dunia, sedikit keras kepala, tapi tahu bagaimana berdiri sendiri tanpa terlalu bergantung pada siapa pun.


Jyotika senang jalan-jalan, menyukai aktivitas, dan ruang-ruang yang memberinya rasa lepas. Ia mencintai kebebasan, bagi Jo, hidup yang terikat adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah ia sentuh.


Dan ada satu prinsip yang selalu ia pegang tanpa kompromi yakni penampilan. Ke mana pun ia pergi, ia akan memastikan dirinya terlihat rapi dan pantas. Bagi Jyotika, penampilan adalah cara menjaga harga diri, dan sesuatu yang, setidaknya, selalu bisa ia pastikan tetap berada di bawah kuasanya.

Jyotika senang sendirian, maksudnya, tanpa ribet dan embel-embel ngabarin ke sana ke mari. Setidaknya itu saat SMA. Namun saat masuk kuliah, Jyotika muda bukan tidak tertarik untuk memiliki pacar. Bahkan salah satu alasan ia berangkat kuliah setiap pagi adalah mencari pacar, selain untuk belajar. Ini karena Jyotika sudah lama menjadi jomblo, terhitung sejak Niko, pacar pertama sekaligus kakak kelasnya itu, memutuskan hubungan karena menganggap Jyotika nggak gaul, kolot, jayus.


Sedang Niko? Semua orang tau. Niko itu jagoan waktu SMA. Apa yang dipakai Niko akan jadi tren esok harinya. Malah, waktu itu, semua orang kaget kenapa Niko bisa macarin Jyotika, cewek yang berasal dari antah berantah.


Lalu, kini, singkatnya, hidup kembali kacau.

Dan, seperti kebanyakan hal menyebalkan dalam hidup, semua bermula dari satu orang yang sama, orang yang paling ia benci.


Ironis memang, kali ini ia tidak bisa menghindar.

Karena justru orang itu… yang harus ia tolong.


Ya, kembali ke awal.


Ia adalah Jyotika. Jyotika sangat naksir dengan UI. Tapi ternyata ditolak. Setelah penolakan dari UI, ia tidak berhenti. Sampai akhirnya diterima sebagai mahasiswa kedokteran di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta. Bukan jalan yang ia bayangkan sejak awal. Tapi tetap ia jalani. 


Tahun 2010, usianya 18 tahun.


Tanpa Jyotika sadari, itu adalah awal dari banyak hal,termasuk kekacauan yang belum sempat ia bayangkan.


“Dina.”


Suara laki-laki itu membuat Jo langsung berbalik badan.

Dan di sana, berdiri seseorang yang sejak pertama kali Jo lihat, sudah cukup berhasil menarik perhatian.


Bimo.

Kakak tingkat dari fakultas Teknik, jurusan Teknik Sipil. Saat masa pengenalan kampus, Bimo adalah penanggung jawab di kelasnya 


“Eh, Kak Bimo. ada apa Kak?” Jyotika melibas habis suaranya agar terdengar lebih halus, karena orang di hadapannya adalah BIMO.


“Lo sendiri?” Jo tahu itu cuma basa-basi. Dari cara Bimo berdiri—tubuhnya sedikit condong, matanya sesekali menyapu sekitar—jelas ia sedang menunggu seseorang. Pacarnya, kemungkinan besar. Yang sayangnya, satu fakultas dengan Jo.


Mereka duduk di lobi gedung Fakultas Kedokteran, berdampingan dengan gedung teknik. Tempat yang seharusnya… tidak mempertemukan orang-orang yang tidak perlu bertemu.


“Iya, Kak. Tadi ditinggal Aden pulang,” jawabnya. Ia tersenyum—tipis, agak dipaksakan—terutama saat menyebut nama itu karena teman karibnya, Aden, terpaksa menjadi alasan.


“Eh, rumah lo di mana, by the way?” tanya Bimo.


“Tebet,” jawab Jo singkat.


“Lho, deket sama rumah gue ya. Rumah gue di Cawang.”


Lihat selengkapnya