Tiga Belas Tahun

rosi hasa
Chapter #2

Dua

“Selamat pagi nggak sih, Jo?” ujar Ramses, sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sembilan pagi.

Jo yang sedang makan langsung berhenti sebentar.

Sumpah, baru juga suapan kedua. Ia mendongak pelan, lalu menatap laki-laki di depannya dengan ekspresi datar. Dan, seperti biasa—Jo langsung kesal.

Entah sejak kapan, ia mulai membenci nama depannya sendiri. Karena dari sekian banyak orang di kampus ini… cuma satu makhluk ini  yang manggil dia “Jo”.

Empat tahun sudah berlalu sejak pertama kali mereka bertemu. Sekarang mereka sama-sama di semester delapan. Jo sedang sibuk soal sekolah profesi, masa depan, hidup, dan segala hal serius lainnya.

Sementara Ramses? Dari yang Jo dengar, dia bakal sidang minggu depan. Hebat, sih. Tapi tetap nggak mengurangi satu hal yang selalu diingat Jo kalau orang ini menyebalkan.

Anehnya, setelah empat tahun… tak ada perubahan berarti.

Ramses masih suka bicara seenaknya. Masih suka sok tahu.

Satu hal yang paling Jo nggak tahan.. Cara dia memandang Jo.

Seolah Jo masih orang yang sama seperti dulu.

Yang masih suka Bimo.

Yang masih bisa dikomentari seenaknya.


Padahal, please ya, itu udah lewat.


“Jangan ubah sarapan gue hari ini jadi neraka, Ses,” ujar Jo sinis, sambil lanjut mengaduk bubur ayam di mangkuknya.


“Padahal gue wangi surga,” celetuk Ramses santai, lalu duduk di samping Jo.


Jo langsung berhenti mengaduk, ia melirik pelan. “Najis.”


Ramses malah ketawa, santai sekali seperti nggak punya dosa.


“Sumpah, gue udah nggak suka sama Bimo, Ses. Stop it.” Ujar Jo.


“Ya, gue cuma pengen lo sadar diri aja sih, kedepannya,” balas Ramses, sambil tersenyum yang selalu seperti ancaman halus.


Jo mendengus pelan. Ia tahu pola ini.

Ramses nggak pernah benar-benar berhenti. Selalu ada punya cara untuk menyinggung hal tentang Bimo, bahkan beberapa kali dengan santainya bilang akan “buka kartu” ke orangnya langsung. Menyebalkan, dan konsisten, selama empat tahun.


By the way, Beib, gue sidang minggu depan,” lanjut Ramses.


And then?”


Ramses tersenyum menatap Jo, “Nothing. Just for your information.”


Jo mengangkat alis, lalu kembali ke makanannya, “Bad information. And honestly, I don’t care. Sedikit pun, Ses.”


“Hmm.” Ramses bergumam pelan, seolah nggak tersinggung sama sekali.


Lalu..


“Oh iya…” Ramses memberi jeda, sengaja, “Bimo putus dari Michelle. Seminggu yang lalu, I mean.”


Sendok di tangan Jo berhenti di udara.


Satu detik.

Dua detik.


“Terus kenapa?” Jawab Jo akhirnya, cepat.


“Gue peringatin aja, Jo. Jangan lihat ini sebagai kesempatan.” Ujar Ramses.


Jo langsung menoleh tajam, “What do you mean?” Nanya naik sedikit, “Gue udah nggak mau berhubungan sama lo lagi. Jadi gue mutusin buat hapus total Bimo dari hidup gue. Apa itu nggak cukup?”


Ramses menatapnya sebentar, lalu menghela napas pendek,  “Lo mau tau nggak alasan gue selama ini ngelakuin hal gila ke elo?”


Jo langsung mengangkat tangan sedikit, seperi lagi nge-rem orang untuk berhenti. “Just enough. Cukup berhenti. Gue nggak mau denger,” Ujarnya cepat, nada suaranya jelas naik.


“Serius, Jo. Ini tentang hidup gue.” Nada Ramses berubah.


Nggak santai. Nggak nyebelin. Nggak kayak biasanya.


Jo langsung diam. Alisnya sedikit mengernyit, menatap laki-laki di sampingnya. Aneh. Ada sesuatu yang beda dari cara Ramses ngomong sekarang, lebih pelan, lebih… berat.


Itu justru yang bikin Jo nggak nyaman. Ia mengalihkan pandangannya sebentar, pura-pura fokus ke makanannya yang mulai dingin.


Pergi aja?

Atau dengerin?


Sial.


“Oke…” akhirnya Jo bersuara, pelan. “Gue bakal dengerin lo, anggap ini buat perpisahan kita.”


Ia menoleh lagi, menatap Ramses. “Jadi apa?”


I think I told you that Bimo is my role model. Dengan begitu semua yang ada di hidup Bimo gue jadiin pelajaran dan contoh.” “Apa yang Bimo suka, apa yang enggak, hampir semua gue ikutin. Nah, bayangin kalau lo jadi pacar Bimo secara gatau diri, Untuk itu gue cut sekalian. selesai.”


Ramses memberi jeda, ia mengeluarkan bungkus rokoknya, namun tak disundut. Ramses kembali menatap Jo, “Lo tau kenapa gue selalu ada tiap kali lo deket sama cowok lain, apalagi ke Bimo?” 


“Kurang ajar lo Ses.” Hanya itu jawaban yang bisa diucapkan Jo.


Ramses seakan tak mendengar jawaban Jo, ia melanjutkan argumennya, “Karena gue nggak mau lo jadi kayak cewek-cewek yang dipilih Bimo.” “Dan gue nggak mau lo jadi milik siapa-siapa.” 


“Ramses, lo itu siapa? Sok ngatur hidup gue?” 


Ramses menatap Jo ketika cewek itu mulai ofensif, lalu tersenyum,  “Jadi ya gue tahan lo di situ.” “Di tempat di mana lo gak bakal ke mana-mana…” “dan gak bakal sama siapa-siapa.”  “sayang aja kenapa bukan gue.”


“Apa sih maksud lo?” tanya Jo. 

Ramses mengangkat bahu, “Bimo itu nggak pantes buat lo, lo nggak pantes buat Bimo. Atau siapapun itu.”


Sejujurnya, ucapan Ramses barusan terasa jauh lebih kurang ajar dari biasanya.


Jo langsung memelototinya. tak ditahan. Selera makan Jo  hilang seketika. Bubur di depannya mendadak jadi… yaudah, bubur doang. Nggak menarik. Nggak penting. Sama seperti sisa hari itu.


Rencananya buat nemenin Aden belajar hari ini batal. Ia cuma pengin pulang. Apa lagi yang paling ia benci, matanya panas, ia pengin nangis.


Bukan karena Bimo.

Bukan juga karena ia merasa “nggak pantas” untuk seseorang. Ini tentang Ramses.


Lihat selengkapnya