Tiga Belas Tahun

rosi hasa
Chapter #3

Tiga

Jyotika keluar dari ruang poli. Akhirnya jam kerja selesai di pukul sembilan malam walau seharusnya di jam delapan. Ini karena jam poli sedikit molor, Jo harus melakukan sedikit visit dan tindakan dulu di ICCU. 


“Dokter aku duluan ya, terima kasih hari ini Dok.” Pamit Isti kepada Jo ketika mereka berpisah di depan pintu poli. Isti lanjut shift malam di ICCU, sedang Jo pulang.


“Sama-sama Is, semangat hari ini ya.” Jo tersenyum ke arah Isti dan melangkah mendekati lift, sebelum ada suara familiar memanggil namanya, “Jo!”


Jyotika serta merta menengok ke sumber suara, di sana terpampang nyata sumber keresahannya hari ini, Ramses, bersama dengan.. ah.. Jyotika ingin menebak, tapi takut salah orang.


Jo tersenyum, hangat, tapi dalam hati banyak umpatan, banyak tebakan apa yang dilakukan laki-laki ini, malam hari, di Rumah Sakit. Jam konsultasinya sudah selesai pukul tujuh tadi.

“Belum pulang?” Tanya Jo.


Ramses mendekati Jyotika, “Hmm.. Belum, gue tadi ngopi sebentar di bawah.” Jawab Ramses. Jyotika paham, maksudnya di bawah  itu adalah The Coffee Bean & Tea Leaf yang tutup jam delapan malam.


Jo manggut-manggut, ia seperti menagih jawab, apa maksud Ramses kembali ke lantai poli?


“Gue ke sini dianter Bimo, Jo. Terus gue cerita kalau ketemu lo.. Eh, Bimo mau ketemu, katanya, nggak sopan kalau main pergi aja tanpa ketemu.


Jyotika tersenyum. Modus apalagi ini? Jo muak dengan sepasang sepupu yang ada di hadapannya. 


“Hay Jo, apa kabar?” Laki-laki dengan wajah yang sebenarnya sebelas dua belas dengan Ramses itu menawarkan jabatan tangan.


Jo tidak membalas jabatan tangan, ia menepuk tangan Bimo, sehingga mereka berdua melakukan high five, “Baik.”

Bimo berdiri dengan tinggi yang hampir menyamai Ramses, bedanya, tubuhnya tampak lebih padat, lebih terisi. Kulitnya sedikit lebih gelap, kontras dengan senyum lebarnya yang muncul kadang-kadang, bak tahu kapan harus ramah. Bimo terlihat dingin, tidak membuka diri keterlaluan.

Wajahnya masih sama seperti yang Jo ingat dari masa kuliah yakni ganteng yang tanpa banyak usaha, garis rahangnya tegas persis seperti Ramses, dan tatapannya tenang. Bedanya sekarang, semuanya lebih matang. Lebih selesai. Tak ada lagi hal ceroboh anak muda.

Dan yang paling kelihatan itu fisiknya. Bimo tampak jauh lebih bugar dibanding Ramses. Napasnya stabil, gerakannya ringan. Tak ada tanda tubuh yang sedang bernegosiasi dengan sesuatu di dalamnya. Dia terlihat seperti seseorang yang hidupnya berjalan lurus. Sementara di sampingnya, Ramses… selalu terasa seperti sedang menahan sesuatu agar tidak berantakan.

“Jadi agenda kalian.. Apa?” Tanya Jo.

“Makan bareng yuk.” Bimo menembak, langsung.

Jyotika terlihat ragu. Jelas, ia seperti akan kembali ke neraka. Saat ini juga, jelas terputar di kepala soal Ramses yang bicara kalau Jo tak pernah pantas untuk siapa-siapa.

“Kalian tuh.. Ngajak gue makan buat apa?” Jyotika balas menembak pertanyaan.

Bimo menilai kini Jyotika kritis. Dulu sekali, di matanya, Jyotika hanya Abege kecil yang selalu ngintil Ramses.


“Bukan gue.” Bisik Ramses, memberi isyarat kalau ini bukan idenya.

Jyotika mengangguk, walau dalam hati tidak sepenuhnya percaya. 

“Ngajak makan aja sih.. Ketemu temen lama, kan, kenapa enggak?” tanya Bimo.


Jyotika diam-diam mengiyakan. Dulu, mereka memang menjadi teman. Ditambah Michelle. Saat ulang tahun Ramses ke dua puluh satu, Bimo-lah yang memberi tiket pesawat PP untuk Jo dna Ramses jalan-jalan seharian ke Bali.


“Yaudah, yuk.” Jawab Jo, menjaga kesopanan, niatnya.


Malam ini Jo yang menjadi komando. Dua laki-laki dewasa di belakangnya hanya membuntuti, dengan terus membuka obrolan yang ditanggapi Jo seadanya. Ramses sendiri paham kenapa Jo dewasa menjadi se-dingin ini, namun bagi Bimo, dia tak paham sama sekali dengan apa yang terjadi. Bimo bahkan menelan bulat-bulat pendapatnya soal hubungan Jyotika dengan sepupunya ini; kalau mereka putus-nyambung putus-nyambung semasa kuliah.   

Tak perlu menggunakan mobil, mereka jalan kaki menuju tempat makan sate terdekat. Kenapa di sana? Karena Jo sudah paham jalurnya, sudah kenal sebagian karyawanya. Jika terjadi sesuatu yang tak dia sukai dari keluarga di dekatnya ini, ia akan berteriak, memukul, atau bahkan lari dengan mudah.


“Jadi.. Sekarang kegiatan lo kerja, terus ngapain Jo?” Tanya Bimo. Saat mereka keluar dari lift dan menuju pintu keluar Rumah Sakit.


“Hmm.. so far, itu aja sih.” Jawab Jyotika.


“Aden apa kabar Jo?” Dari bermenit-menit yang lalu, suara Ramses baru muncul. Membuat Jyotika melihat ke sumber suara.


Bukan bertanya soal dirinya, seperti yang Bimo lakukan sejak tadi. Ia bertanya soal Aden, yang sejak berbelas tahun yang lalu, Aden selalu berada di kubu Ramses, bicara kalau Ramses itu cowok yang tepat.


“Aden baik, anaknya dua, kembar.” Jawab Jo.

“Lo sering ketemu sama Aden?” Tanya Ramses.

Jo mengangguk, “Sering.”


“Kalau Iwan, lo inget nggak?” Tanya Ramses lagi.

Jo menghentikan langkahnya, mereka persis ada di pinggir jalan protokol. Jo berbalik badan, menatap Ramses yang juga menghentikan langkah, di samping Bimo.


“Iwan yang.. Rambutnya keriting?” Tanya Jo. 

“Yang suka mancing, dulu kita pernah ikut dia lomba mancing.” Jawab Ramses sambil tersenyum.

Jyotika tertawa, “Oh iya. Gokil tuh orang.” Jo melanjutkan jalannya diikuti dua laki-laki di depannya. “Iwan rambut keriting mah, tahun lalu gue minta tolong benerin rumah Ibu, Ses.” Ucap Jo.


“Kalau Michelle, apa kabar Kak?” Tanya Jo berbasa-basi, pertanyaannya ini ditunjukkan kepada Bimo. Padahal Jo tahu, Bimo dan Michelle sudah putus sejak delapan tahun yang lalu.


“Michelle.. Udah nikah. Sekarang tinggal di Singapur.” Jawab Bimo dengan nada yang sedikit ragu.

Jo berbalik badan, menatap Bimo sambil pura-pura terkejut, dan Ramses menangkap itu. Ramses menahan senyum.


“Lho, kalian nggak putus kan?” Tanya Jo.

Bimo mendongak, menatap Jo, terlihat mengingat-ingat, “kayaknya.. Pas kalian lulus deh. Michelle nyusuh ke Jerman, terus yaudah, putus gitu aja.”


Jyotika menganggukkan kepala. 

Yang Jo ingat, Bimo itu… sempurna.

Satu kata yang cukup buat ngejelasin siapa dia. Setidaknya, itu kata Jo. Atau mungkin, kata hampir semua mahasiswi di kampus.

Siapa pun ingin jadi Michelle.

Atau, mungkin… siapa pun ingin jadi Bimo. Michelle sendiri nggak kalah. Calon dokter, baik, ramah, cantik, modis, dan selalu terlihat effortless. Siapa yang nggak kecantol setiap perempuan keturunan Tionghoa itu menyapa? 

Dan ketika kabar mereka jadian menyebar di kampus pada tahun 2009, setahun sebelum Jo dan Ramses masuk, semuanya seperti… Hah?

Pas. Cocok. Nggak ada yang aneh. Double kill, kata orang-orang. Tapi, hal-hal baik tidak serta merta lepas dari kritikan. Ternyata mereka bukan cuma kagum, tapi juga iri.

Ada yang bilang mereka terlalu dibuat-buat.

Lihat selengkapnya