Aden cemberut ketika Jyotika memaksanya untuk menaruh sekuntum mawar putih di sebuah makam yang terlihat terawat. Walau cemberut, karib Jo itu tetap nurut, tetap dengan hati-hati dan dengan saksama, bahkan tak ingin kuntum mawar itu terlihat miring.
Mereka sedang di Tanah Kusir. Jo sedang memandangi dari jauh anak-anak yang sedang main layang-layang di tengah TPU. Padahal cuaca cukup panas.
“Thanks Den,” Gumam Jo ketika matanya kembali beralih pada gundukan tanah di depan mereka.
“Dia juga maunya lo bahagia kali Din, nggak setiap hari senin lo ke sini terus.” Ujar Aden masih cemberut. Lalu Jo dan Aden berdiri berjejer, sama-sama menatap makam di depan mereka.
Jyotika mengangguk, “Siapa yang nggak berusaha bahagia, Den? Gue terbuka untuk segala pintu yang mungkin Tuhan udah siapkan untuk gue.” Jawab Jo sambil mendekati nisan di depannya, lalu ia cium batu dingin itu.
Aden jadi ikat pinggang, ia menimbang apakah harus berkata, atau tidak. Apalagi di depan makam orang yang amat dikasihi sahabatnya ini.
Ah, bodo lah! Pikiran Aden seperti itu, seperti biasanya, dokter yang satu ini memang hobi ceplas-ceplos.
“Ramses follow Instagram gue. Terus kita jadi chatting di DM.” Kata Aden akhirnya. Sepertinya Aden tidak tahu, dan Jo yang memilih tidak bercerita soal dua hal; Ramses kini pasiennya, dan minggu lalu Jo dinner bareng dengan Ramses ditambah satu bonus yakni Bimo.
Jo bangkit, kini tubuhnya sepenuhnya menghadap Aden. “Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Jo, sambil ia mendahului Aden berjalan, bermaksud menuju parkiran TPU.
Aden heran, ia tak puas dengan dengan jawaban Jo. Ia pikir, Jo akan marah-marah karena Aden kembali berhubungan dengan Ramses. Sejak kuliah, Jo selalu jadi musuh Aden ketika perempuan itu membela Ramses, karena sekali lagi, bagi Aden, Ramses adalah cowok yang tepat untuk Jo.
“Kok oh doang?” Aden mengikuti langkah Jo.
“Udah gue sangka ini bakal terjadi, Den. Dia udah dateng duluan ke gue minggu lalu.” Jawab Jo.
Wajah Aden berubah ceria, ada senyum di sana, seperti melihat harapan untuk sahabatnya, “Oh ya? Kalian ngobrol apa aja? Ketemu di mana?” Aden berusaha menyamai langkah Jo.
“Tanya sendiri lah!” Jawab Jo.
“Oh iya sih, kalau gitu gue whatsapp aja. Ternyata Ramses ada di grup alumni, gue baru tau.” Aden menjawab, tapi seperti berkata pada dirinya sendiri.
Jo geleng-geleng mendengar celotehan Aden yang sejak kuliah tidak berubah. Aden ini tidak pernah keluar dari lingkaran Ramses. Ia pasti akan menyebutnya. Bahkan dalam delapan tahun terakhir, setidaknya beberapa kali dalam setahun ia menyebut nama Ramses. Katanya, “biar lo nggak lupa, Din..”
“Kalau.. lo terbuka sama semua pintu dari Tuhan..” Aden menghentikan langkahnya, ia menatap langit yang cerah, dan sejujurnya panas siang itu.
Sadar kalau sahabatnya diam, Jo ikut menghentikan langkah, ditatapnya Aden.
“Kalau Ramses maju, gimana?” Tanya Aden.
“Itu pengecualian.” Jawab Jo.
“Kalau Ramses jodoh lo, gimana Din? Masa lo mau sendirian seumur hidup?” Kata Aden lalu menatap Jo.