Tiga Belas Tahun

rosi hasa
Chapter #5

Lima

“Ada perasaan-perasaan yang tidak benar-benar selesai. Mereka hanya dipindahkan tempatnya.. Dari percakapan menjadi diam, dari genggaman menjadi kenangan, dari seseorang yang dulu hadir setiap hari menjadi nama yang dihindari diam-diam. 


Namun seberapa jauh manusia berlari, hati tetap punya cara aneh untuk mengingat. Lewat lagu yang tak sengaja terdengar di lampu merah, lewat aroma rokok di parkiran rumah sakit, atau lewat seseorang yang tidak sengaja memiliki tatapan yang sama. 


Anehnya, mungkin, yang paling menyakitkan dari kehilangan bukan tentang ditinggalkan, melainkan menyadari bahwa diri ini tidak pernah benar-benar berhenti mencari sosoknya, meskipun di orang lain.”


Jyotika mencabut earphone yang semula menempel di kedua telinganya. Setelah mendengar paragraf lebay yang dibacakan seorang penyiar radio, Jo merasa mual. Ia memilih untuk melihat ke arah PC di depannya, setelah mengakhiri sesi istirahat.


Menurut Jo, kalimat si penyiar terdengar aneh. Mencari seseorang di seseorang.. Bukannya terdengar psikopat? Jo jadi bergidik ngeri sendiri, sembari mendengar Isti memanggil nama pasien; Aksa Irawan.


Hari ini adalah hari biasa. Jyotika bekerja, dibantu Isti di poli. Akhirnya Aksa masuk ke dalam poli, ia adalah pasien terakhir. Jam menunjukkan pukul tiga sore dan satu jam lagi Jyotika resmi boleh pulang.


Aksa, laki-laki yang sebenarnya umurnya cukup muda yakni tiga puluh empat tahun. Diagnosis nya aritmia sejak lima bulan lalu. Aksa adalah salah satu pasien favorit Jo karena Jo dengan santai bisa memarahinya, sebab, pasien ini adalah pasien paling kolot dan keras kepala.


Bukan gaya hidup, bukan karena keturunan. Penyebab aritmia yang diderita Aksa karena laki-laki ini pemikir, gampang stress, lalu semua ia larikan ke rokok dan tidur yang direlakan alias insomnia akut.


“Ke psikiater sudah ya Mas? Semua ter-record di sini.” Kata Jo melihat ke arah PC yang ada di meja kerja. Ia sedang membaca detail rekam medis milik Aksa.


Aksa mengangguk, “Udah Dok.” “Ketemu..” Aksa terliat berpikir sebelum menjawab, “Dokter Sarah.” Lanjutnya.


Mata Jo lalu mengarah ke Aksa, “Terus gimana, perasaan dan pikiran Mas Aksa belakangan?”

 

Aksa tak menjawab dan keadaan menjadi hening, sekitar berbelas detik.


Jo kembali melanjutkan ucapannya, “Boleh cerita ke saya Mas, kalau berkenan.” Jo melemparkan senyum.


“Ya… hopefully I’ll be okay, Dok.” Jawab  Aksa.


Jo jadi geregetan mendengar jawaban Aksa, yang benar gitu lho, kalau ditanya. Gimana perasaannya? Jawab baik, atau enggak, bukan malah berdoa dan berharap. 

Tapi Jo hanya tersenyum dan mengangguk. “Semoga dengan Dokter Sarah, Mas Aksa bisa lebih terbuka ya.” Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Jo.


Lalu hening lagi. Tapi Aksa tak membiarkan hening itu singgah terlalu lama, ia tiba-tiba buka suara, “Menurut Dokter Jo..” Suara Aksa terdengar menggantung, ia menatap Jo, sedang Jo juga menatap Rio. Kalau Jo jelas terkejut, pasien lain akan memanggilnya Dokter Dina, atau lebih lengkap, seperti Dokter Jyotika.. Sejujurnya Jo jadi teringat seseorang. Ternyata.. Selain Ramses, ada juga yang memanggilnya demikian.


“Kalau kita tahu hidup kita pendek… mending hidup di masa lalu tapi bahagia..” Aksa memberi jeda, “Atau move on tapi nggak bahagia?” Tanya Rio tiba-tiba.

Jo mengernyitkan dahi, “siapa yang hidupnya pendek Mas?” Tanya Jo.


Aksa menggelengkan kepala, “Bisa siapa aja Dok. Kan kita nggak pernah tahu soal umur.”


“Saya..” Jo menatap Isti yang ternyata, Isti juga menatap Jo. Isti ingin tahu apa jawaban Jo.


Jo jadi menahan tawa. Ia ragu ingin menasehati pasien di depannya. Karena tubuh dan pikirannya saja masih terjebak pada orang di masa lalu. Ingin sekali mulutnya bicara, jelas karena cinta, hiduplah di masa lalu. karena di masa lalu itu, aku bisa bahagia.


Tapi mungkin ini berhubungan dengan aritmia yang diderita Aksa. Mendadak Jo ingin jadi superhero bagi Aksa, sok kuat, sok bisa, sok bener.


“Ya jelas.. hidup untuk masa kini dan masa depan lah, Mas.” Jawab Jo. “Ngapain terjebak di masa lalu?” “Kita pasti bisa bahagia pada akhirnya.”


“Kalau ternyata cuma masa lalu yang bikin kita bahagia, gimana Dok?” Tanya Aksa lagi.


“Mau bahagia atau enggak, masa lalu tetap masa lalu, Mas. Kenyataannya nggak pernah ada untuk sekarang.” 


Aksa manggut-manggut, ia masih menatap Jo, “Ah, tapi Dok. Nggak ada salahnya kalau masih cinta kan?” 

Aksa mengangkat kedua bahunya, “Emang Dokter Jo nggak pernah merasa secinta itu ya, sama sesuatu.. atau seseorang di masa lalu?” Aksa menembak.


Sejujurnya Jo gelagapan, ia masih menatap Aksa, “Ya enggak lah. Mungkin pernah, tapi saya pikir lagi, hidup harus terus berjalan, kan?”


Aksa mengalihkan pandangan ke dinding kosong, ia lebih memilih menatap dinding kosong dibanding membaca flyer-flyer edukasi tentang jantung yang sengaja dipajang di ruangan.


Lalu laki-laki itu menatap Jo lagi, “Berarti kalau di masa kini ada yang bisa ngebuat kita bahagia, walau kita nggak cinta, terima aja?” Tanya Aksa.


Jo makin gelagapan, dan sial, kali ini cukup transparan. Aksa menunggu jawaban Jo, laki-laki itu mungkin tak tahu bahwa perempuan di depannya juga menaruh banyak asa di masa lalu.


Jo menelan ludah, lalu mengangguk pelan, “Iya.”


“Saya tuh, punya pacar Dok. Namanya Shila, Arshila. Kami udah pacaran sekitar lima, atau enam tahun..” Kata Aksa menggantung, “Terus ternyata Shila nggak bisa lama-lama nemenin saya di sini. Karena lawan saya Tuhan. Tuhan ngambil dia tahun lalu.” Lanjut Aksa.


Jyotika terlihat memperhatikan, bahkan matanya tak berkedip. Ia terlalu kagum akan semesta yang mempertemukannya dengan Aksa, orang dengan kasus yang kisah cintanya sama dengannya.


Aksa diam cukup lama, laki-laki itu menatap dinding di sana sini, dan semua orang di ruangan itu cukup mengerti sampai akhirnya Aksa kembali buka suara, “Terus kan, saya mau coba move on.. Akhirnya ketemu sama perempuan yang.. Menurut saya baik, cantik luar dalam.. Dan dia ini, mantan saya.” Ujar Aksa.


“Tapi trade record si perempuan ini nggak bagus buat saya. Dia pernah putus kontak sama saya selama dua minggu, untuk liburan sama temen-temennya.”


“Ya kedengarannya saya posesif dan salah.. Tapi apa ada manusia di dunia ini yang pasangannya hilang dua minggu, pas balik, baik-baik aja?” Lanjut Aksa.


Tiba-tiba menjadi hening, Jyotika tak menjawab apapun.

Begitu juga Isti.


“Ditambah lagi dia kena sial, dijebak temen-temennya di klub dan jadi nggak sengaja main sama bule Kanada..” “Makanya itu kita putus. Waktu itu pas kuliah sih,”


Hening lagi, dan Jo berhasil mengambil alih dirinya, “Terus?” Tanya Jo.


“Sekarang saya bingung. Bagi saya.. Shila itu dewa. Nggak ada yang ngalahin. Tapi ternyata, perempuan ini lebih dewa. Tapi pernah punya kesalahan yang saya nggak suka.”


“Kenapa lebih dewa?” Tanya Jo.


“Shila pergi Dok. Pas saya lagi butuh pasangan, butuh orang tua, butuh teman.” Aksa menjeda sejenak, “Tapi perempuan ini nggak pergi, nggak diambil Tuhan.”


Jo mengangguk, ia benar-benar bingung harus bereaksi bagaimana. Diam-diam, Jo jadi kembali ke keadaan bagaimana cara orang-orang menghiburnya dikala ia sedang terpuruk dua tahun lalu. Dan, ya, tak ada yang diingat Jo. Yang diingat hanya rasa sakit ditinggal pergi.


“Terus perempuan ini yang..” Aksa terlihat seperti tak sanggup melanjutkan cerita. Baru saja Jo akan mencoba mengerem laki-laki ini, Aksa kembali buka mulut, “Ngebuat jantung saya deg-degan lagi. Kayak disayang lagi.. Dicintai lagi.. Tapi kok dosa dia waktu dulu, saya nggak bisa maafin.”


Jo menatap Aksa cukup lama, Tapi yang dilihatnya perlahan bukan lagi wajah laki-laki itu. Bukan mata yang sembab, bukan tangan yang gelisah di pangkuan. Yang muncul justru potongan-potongan dirinya sendiri, dua tahun lalu, duduk di posisi yang sama, dengan dada yang sesak bukan karena jantung, tapi karena kehilangan yang terlalu tiba-tiba. Suara-suara orang yang mencoba menenangkannya dulu terasa samar, tak ada yang benar-benar menempel. Yang tersisa hanya perasaan ditinggal, kosong, dan marah.

Dan saat Aksa bicara tentang seseorang yang datang setelah kehilangan itu, tentang rasa disayang lagi, tapi juga rasa bersalah karena tak bisa sepenuhnya menerima, Jo seperti dipaksa melihat ulang sesuatu yang selama ini ia kubur rapat-rapat. Bukan tentang Aksa. Bukan tentang perempuan itu. Tapi tentang dirinya sendiri yang juga mencoba bertahan dengan cara yang sama yakni mengenali keadaan yang ada, sambil diam-diam masih hidup di masa lalu.


Jo lalu mengangguk, menghela napas, “Kalau Mas Aksa cinta, lanjutin.” Lalu kalimatnya menggantung, Jo melanjutkan, “Tapi kalau itu malah nyakitin… ya harus dilepas.” 


Aksa tertawa, “Maunya gitu Dok. Nyatanya enggak. Itu, orangnya di luar nunggu saya. Dia nemenin saya kapanpun saya butuh dia.” Aksa kembali melanjutkan, 


Isti menatap Jo, dan Jo juga menatap Isti. Mereka saling pandang dalam diam, yang mungkin memiliki banyak arti.


Jo tak buka suara. Ia diam. Selama kenal Aksa lima bulan belakangan, Aksa susah sekali di-obrak abrik. Aksa akan ngeles, bilang nggak punya pikiran,  atau lainnya. Jo yang sejujurnya selalu ingin mengetahui apa penyebab aritmia yang diderita, baru kali ini akhirnya paham, setelah Aksa akhirnya buka suara.


“Yang bikin saya merasa jahat di sini..” Aksa mengusap kasar wajahnya, “Dulu saya nyari perempuan ini di Shila.”


*****



Jyotika memutar-mutar korek yang ada di tangan kanannya. Sudah satu jam ia berada di tempat itu, di depan jalan protokol yang menjadi area lalu lalang kendaraan ibu kota, persis di depan Rumah Sakit tempatnya bekerja.


Lihat selengkapnya