Suasana riuh siswa-siswi berebut membeli dan membayar jajanan merupakan kejadian yang umum di sekolah. Namun, dari empat kantin yang ada, hanya satu yang terlihat mencolok.
Di sana penuh dengan desakan, dorongan dan suara orang-orang hendak membayar, membuat suasana terasa sesak. Melangkah keluar pun terasa sulit. Keadaan makin kacau ketika seorang gadis berseragam OSIS lengkap tidak sengaja menjatuhkan es rasa jambu dan anggur di tempat. Tumpahan es tersebut mengenai siswi bernama Cantika, seorang gadis berpipi tembam dengan tubuh yang sedikit berisi.
Cantika memandangi seragam dan roknya yang basah. Tangannya menarik sedikit ujung seragam putih yang kini memiliki noda. Setelah itu, ia menatap gadis berkulit cokelat dengan rambut sebahu—sang pelaku.
Pelaku itu bernama Arum. Wajahnya terlihat pucat dengan sedikit keringat dipelipisnya. Dia berpikir kecerobohannya merugikan orang lain—Arum menyesal.
“Aku... maaf ya. Gara-gara aku baju kamu jadi kotor,” ucapnya dengan nada panik.
Cantika hanya tersenyum, mengangguk pelan, lalu pergi bergabung dengan teman-temannya di luar kantin.
***
Arum termenung, tangannya menopang dagu sembari bersandar di dinding. Apa yang dipikirkannya? Tentu saja kejadian di kantin tadi. Ia merasa tidak enak karena mengotori baju dan rok gadis berpipi tembam itu. Lain kali jika bertemu lagi Arum akan menanyakan namanya dan meminta maaf dengan lebih baik lagi.
Sebelum sempat melanjutkan pikirannya, suara lirih dari depan kelas semakin jelas—panggilan dari guru yang sedang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ia meminta Arum untuk mengambilkan isi spidol di ruang koperasi.
Sesampainya di depan koperasi, Arum tidak menyangka gadis berpipi tembam itu ada di sini juga. Rangkaian kata... bukan, bukan itu. Susunan kalimat permintaan maaf sedang ia pilih satu per satu di dalam pikirannya.
Arum menunduk berpikir keras, hingga suara Cantika menyadarkannya.