Aku dan Ita pergi berjalan-jalan untuk membeli mi instan. Ayahku bilang kalau ia akan pulang terlambat hari ini, sehingga aku disuruh membeli beberapa mi instan untuk makan siang. Kami tiba di warung dekat rumah. Jaraknya sama dengan saat aku pergi ke sekolah. Bibi pemilik warung menyambut kami dengan ramah. Ita dengan kepintarannya langsung mengambil beberapa mi instan yang dia mau. Dia sudah sering ikut aku ke warung, juga ikut membantu nenek memasak untuk sarapan kami. Terkadang, ayahku harus berangkat sangat pagi sampai tidak sempat membuatkan kami sarapan. Biasanya kami dititipkan kepada nenek, lalu Ayah akan memberi Nenek upah karena sudah merawat kami.
Ayah adalah pribadi yang tidak suka merepotkan orang lain. Ia sering merasa tidak enak jika dimintai bantuan sehingga cenderung mau membantu siapa saja dan melakukan apa saja. Ia lebih memilih menyelesaikan urusan atau pekerjaannya sendiri daripada meminta bantuan orang lain, walaupun itu sangat diperlukan. Padahal kami masih punya hubungan darah dengan Nenek, namun Ayah selalu meminta Nenek untuk tidak menolak pemberian uang darinya. Ya, hitung-hitung mengganti uang untuk membelikan kami jajan. Padahal saat bersama dengan Nenek, aku selalu bilang ke Ita untuk tidak meminta jajan kepadanya. Minta saja kepadaku dan akan kubelikan dengan sisa uang sakuku.
Saat menunggu Bibi pemilik warung ke belakang untuk membungkus belanjaan kami. Pandangan Ita tertuju ke sebuah sayap mainan yang digantung tepat diatasnya. Sepasang sayap itu berkilau terkena sinar matahari, berputar ke kanan dan ke kiri karena tertiup angin. Aku melihat bola matanya, bagai ada angkasa di sana. Gadis kecil itu pasti takjub dan sangat menginginkannya. Namun saat aku melihat label harga yang menempel di sana, sepertinya aku harus mengurungkan niat untuk meminta ayahku untuk membelikannya.
Belakangan ini ia menghabiskan banyak uang untuk mengurusi sawah. Sayang sekali ia harus mendapatkan daerah yang cukup gersang sehingga perawatannya pun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Suatu hari aku memintanya untuk membelikan buku kumpulan rumus matematika karena disuruh oleh guru. Namun ia menolak dengan lembut, bilang jika masih harus menunda itu, sehingga aku harus merelakan uang jajanku untuk menabung demi membelinya. Begini-begini aku juga minder dengan teman-temanku yang sudah hafal banyak rumus matematika berkat buku itu.
Bagaimana dengan mainan yang diinginkan Ita? Pasti Ayah juga akan menolaknya bukan?
Setelah menerima belanjaan, kami memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Wajah Ita kusut. Sepertinya ia tahu kalau ia tidak akan pernah mendapatkan sepasang sayap itu.
Sesampainya di rumah, kami segera memasak dua bungkus mi instan untuk di makan bersama. Perut ini sudah lapar sedaritadi dan sama sekali tidak ada lauk-pauk yang dapat mengganjalnya. Memakan banyak camilan sekaligus malah akan membuat tubuh kami tidak sehat. Sebenarnya mi instan juga begitu. Tapi mau bagaimana lagi? Daripada mati kelaparan di rumah tak berpenghuni ini.
Kami duduk berdampingan di depan TV, menonton serial yang tengah viral belakangan ini. Sinetron supernatural yang cukup klise sebenarnya. Suatu hari, terdapat seorang peri dari kayangan yang datang ke bumi untuk melindungi seseorang dari penjahat dengan sihir hitam. Namun di suatu waktu, peri itu tertangkap penyihir jahat. Ia kemudian melepaskan sayapnya dan menyuruh sayap itu untuk mencari orang yang dilindungi oleh sang peri. Akhirnya, orang yang dilindungi sang peri terpaksa menggantikan tugasnya dan mengalahkan penyihir jahat.