Tiga Lubang di Meja Makan

Devi Afriani
Chapter #1

Singgasana yang Retak

BAB 1. SINGGASANA YANG RETAK

***

Ternyata, rumah tidak runtuh karena badai dari luar. Ia mulai roboh saat salah satu penghuninya menggali lubang di bawah meja makan yang sering kami sebut sebagai singgasana kejujuran. Karena terkadang, tempat kita merayakan kebahagiaan justru menjadi panggung sandiwara yang paling sempurna.

***

Meja makan di rumah kami adalah singgasana bagi kejujuran Ayah, tempat di mana setiap butir nasi yang kami telan terasa seperti berkah yang suci. Meja makan di rumah kami adalah muara dari segala kasih sayang Ibu, tempat di mana setiap doa menjelma jadi suapan yang dikunyah secara perlahan. Di meja makan ini, aku dan ketiga adikku dibesarkan dengan keyakinan bahwa harga diri adalah satu-satunya harta yang tidak boleh digadaikan.

Bagiku, anak perempuan pertama di keluarga ini, meja makan ini adalah ruang audit paling jujur di mana angka-angka kehidupan kami harus selalu berakhir seimbang. Meski tidak sama, aku yakin adik-adikku juga menganggap meja makan ini sebagai jangkar yang menahan mereka agar tidak hanyut oleh arus dunia.

Di meja makan ini, aku terbiasa melihat senyum bangga Bagus setelah ia berhasil menaklukkan satu demi satu bab tugas akhir kuliahnya yang melelahkan.

Di meja makan ini, aku selalu disambut oleh tawa renyah Laras yang meluap-luap saat ia membagikan kisah barunya sebagai seorang mahasiswi yang tengah mencari jati diri.

Di meja makan ini pula, aku biasanya melihat binar mata Angga, si bungsu yang selalu memenuhi ruangan dengan cerita konyol di hari-hari terakhirnya sebagai siswa SMA.

Meja makan ini adalah panggung tanpa naskah. Tempat kebahagiaan kami disajikan apa adanya tanpa ada satu pun rahasia yang perlu disembunyikan di balik piring. Meja ini menjadi saksi bisu bagaimana kami tumbuh. Dari kaki-kaki mungil yang berayun menggantung di kursi, hingga kini kaki-kaki itu menapak kuat di atas lantai kayu yang mulai menua.

Di atas permukaan jati ini, goresan-goresan kecil menjadi catatan sejarah tentang tumpahan susu, coretan krayon, hingga tangis haru saat pengumuman kelulusan. Meja ini adalah peta perjalanan kami, tempat Ayah dan Ibu memahat karakter kami dengan wejangan-wejangan moralnya yang tak pernah lekang oleh waktu.

Hingga kini, setelah kami semua dewasa dan Ayah Ibu mulai menua, meja ini tetap menjadi titik pusat semesta kami. Rambut Ayah telah memutih dan langkahnya mulai terseret stroke ringan, sementara gurat di wajah Ibu menceritakan ribuan jam yang ia habiskan di dapur demi memastikan piring kami selalu terisi. Kami telah menjadi orang-orang dengan kesibukan masing-masing. Aku dengan laporan auditku, Bagus dengan ambisi akademisnya, Laras dengan dinamika kampusnya, dan Angga dengan sisa masa remajanya. Kami kembali ke meja ini setiap malam, berusaha menjaga ritual ini tetap hidup seolah-olah waktu tidak pernah berani menyentuh kedamaian di dalam rumah ini.

“Angga, tambah lagi nasinya, Nak. Kamu pucat begitu, pasti karena kurang tidur ya? Kebanyakan belajar?” Ibu berucap lembut.

Angga hanya berdehem pendek. Jempol kiri di bawah meja bergerak gelisah, ritmenya cepat dan repetitif. Sebagai auditor di salah satu bank swasta, aku tahu itu bukan gerakan membalik halaman buku elektronik. Itu gerakan memantau layar ponsel secara obsesif.

Lihat selengkapnya