BAB 2. Identitas yang Tergadai
***
Suasana di meja makan sebenarnya sangat hangat, atau setidaknya, terlihat begitu di mata Ayah dan Ibu. Bau tumis kangkung dan sambal terasi masih tertinggal di udara. Ayah duduk di kepala meja, tersenyum lebar sambil menatap Angga, anak laki-laki kebanggaannya yang baru saja memamerkan nilai ujian akhir sekolahnya.
“Jujur itu modal utama, Ngga. Pintar saja tidak cukup kalau tidak jujur. Kamu lihat Mbak Ayu, bisa jadi auditor senior karena dia lurus,” ujar Ayah sambil menerima segelas air putih dari Bagus.
Bagus, dengan ketelatenan yang selalu ia tunjukkan, membantu Ayah meminum tiga butir obatnya. Sementara itu, Ibu dan Laras sudah mulai mengumpulkan piring kotor.
“Sudah, Ayu sama Angga istirahat saja. Biar Ibu sama Laras yang bereskan dapur,” kata Ibu lembut.
Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa kaku di wajahku.
“Ngga, bantu Mbak sebentar ke gudang belakang. Ada berkas lama yang perlu Mbak cari,” kataku setenang mungkin.
Angga sempat ragu, matanya melirik ke arah ponselnya yang diletakkan terbalik di atas meja. Namun, tatapan mataku yang tajam membuatnya tak punya pilihan. Ia bangkit, mengekor di belakangku melewati dapur yang riuh oleh suara tawa Laras dan gemericik air wastafel. Tidak ada yang curiga. Di mata mereka, kami hanya kakak dan adik yang sedang menjalankan tugas rumah tangga biasa.
Begitu pintu gudang kayu itu kututup, dunia seolah berubah warna.
Lampu bohlam lima watt di gudang belakang berkedip gelisah, seolah ikut merasakan detak jantungku yang berpacu liar. Bau apek dari tumpukan koran lama dan debu dari perkakas kayu milik Ayah menyesakkan dada, tapi tidak ada yang lebih menyesakkan daripada pemandangan di depanku.
Aku berdiri membelakangi pintu, menyandarkan punggung pada kayu yang mulai lapuk. Tanganku bersedekap, menahan gemetar yang merayap dari ujung jari. Aku menatap Angga. Adik laki-laki yang beberapa saat lalu baru saja menerima pujian setinggi langit dari Ayah karena nilai-nilainya yang gemilang, kini tampak seperti pesakitan yang menunggu vonis mati.
“Buka ponselmu, Ngga. Sekarang.”
Angga gemetar. Dengan ragu, ia menyerahkan benda pipih itu padaku. Aku tidak butuh waktu lama untuk membongkar boroknya. Di folder tersembunyi, aku menemukan deretan aplikasi dengan ikon warna-warni yang menjijikkan. Casino Win Slots, Raja Spin 88, Pinjam Kilat, Dana Gacor.
Perutku mual. Sebagai auditor, aku tahu persis skema lintah darat digital ini. Aku melihat riwayat transaksi.
“November, Ngga? Kamu sudah main ini sejak November tahun lalu?” suaraku bergetar menahan ledakan. Aku menemukan mutasi keluar yang mengerikan. “Enam bulan kamu bersandiwara di depan Ayah sementara kamu membuang uang di aplikasi sampah ini?”
Angga jatuh terduduk di atas peti kayu tua. “Ti-tidak banyak, Mbak.”
“Tidak banyak?” aku menyodorkan layar ponsel itu ke depan wajahnya. “Aku orang bank, Angga! Jangan coba-coba memanipulasi angka di depanku! Di sini tertulis total taruhanmu hampir dua puluh juta. Dan ini ... aplikasi pinjol ini, kenapa limitnya bisa sampai tiga puluh juta?”
Perutku serasa diaduk. Aku tahu prosedur lintah darat ini, mereka tidak akan pernah memberikan plafon* sebesar itu kepada anak pengangguran seperti Angga. Pikiranku berkecamuk. Mungkinkah Angga mencuri data temannya? Atau data Laras? Aku berharap setidaknya dia tidak sebodoh itu untuk menyeret keluarga sendiri lebih dalam.
Angga menutup wajah dengan kedua tangannya. Isak tangisnya mulai pecah. “A-aku pikir aku bakal menang, Mbak. Polanya lagi bagus. Ta-tapi, malah ludes lagi.”
“Lagi?” ulangku dengan tawa getir. “Kamu pikir kamu bisa menang melawan mesin yang sudah diatur untuk merampokmu? Kamu bodoh atau tidak punya otak?”
“Aku kejepit, Mbak! Aku punya hutang di tempat lain!” Angga mendongak, wajahnya sembab. “Awalnya cuma sejuta buat ganti uang perpisahan yang sudah kupakai. Tapi bunganya gila! Aku diancam sebar data!”
Aku memijat pelipis yang berdenyut. Tabunganku memang ada, tapi itu dana darurat untuk pengobatan Ayah, bukan untuk menambal dosa judi adikkku.
Jemariku bergetar saat aku mulai menggulir folder galeri ponselnya secara acak, mencoba mencari tahu identitas siapa yang sebenarnya telah dia korbankan. Napas seolah terhenti di tenggorokan saat mataku menangkap sebuah gambar yang sangat familier.
Jantungku seolah berhenti. Ada foto KTP-ku di sana.