Tiga Lubang di Meja Makan

Devi Afriani
Chapter #3

Alarm di Ruang Tengah

Layar ponsel di genggamanku menyala terang, memantulkan cahaya putih yang kontras di dalam kamar yang gulita. Jarum jam dinding sudah melewati angka sebelas malam. Di luar, sunyi sudah lama turun, tetapi di dalam kepalaku, badai justru baru saja dimulai.

Jari-jariku gemetar saat memasukkan kode akses m-banking milikku. Di atas kasur tipis tempatku biasa merebahkan lelah, aku merasa sedang melakukan sebuah kejahatan besar, padahal yang kupindahkan adalah uang hasil keringatku sendiri.

Sebelas juta delapan ratus dua puluh ribu rupiah. Nyaris dua belas juta.

Tepat lima belas menit sebelum hari berganti, aku menekan tombol transfer. Angka itu berpindah dalam hitungan detik, melesat ke rekening virtual akun lintah darat digital yang entah sejak kapan selalu mengirimkan pesan ancaman ke ponsel Angga. Saldo tabunganku kini jebol untuk membayar hutang karena kebodohan adikku.

Layar ponselku berkedip, menampilkan tulisan ‘Transfer Berhasil’. Aku segera membalikkan ponsel itu dengan kasar ke atas kasur, seolah benda itu baru saja membakar telapak tanganku. Aku merasa kotor. Inilah tambalan pertama pada retakan porselen keluarga kami, dan aku tahu, sepertinya ini tidak akan menjadi yang terakhir.

Aku memijat pelipis yang berdenyut, lalu mengirim pesan singkat ke nomor Angga lengkap dengan tangkapan layar bukti transfer yang telah aku lakukan.

Sudah lunas. Jangan sampai ada satu pun telepon masuk ke nomorku atau nomor kantor.

Tidak sampai satu menit, ponselku bergetar. Sebuah balasan masuk.

Makasih, Mbak. Sumpah, aku janji nggak bakal—

Aku langsung mengunci ponsel tanpa berniat membaca sisanya. Janji seorang penjudi tidak lebih berharga dari sekadar tumpukan huruf di layar.

***

Hari-hari berikutnya berlalu seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di dalam rumah ini. Di depan Ayah dan Ibu, kami tetaplah keluarga kecil yang hangat dan harmonis. Namun, di balik topeng itu, aku masih menyimpan bara emosi yang teramat pekat terhadap Angga. Jangankan untuk mengajaknya bicara, untuk sekadar melihat wajahnya yang melintas di ruang tengah saja rasanya aku malas setengah mati.

Sementara Angga, entah karena didera rasa bersalah yang teramat besar atau justru karena dia mulai merencanakan tingkah bodoh lainnya, dia pun seakan selalu mencari cara untuk menghindari tatap mataku. Jika aku masuk ke dapur, dia akan buru-buru melesat ke kamarnya. Jika aku duduk di ruang tamu, dia memilih mengurung diri. Kami menjadi dua orang asing yang saling bungkam di bawah atap yang sama.

Hingga sore itu, aku pulang kerja dengan kepala yang serasa mau pecah. Namun, ketenangan yang kuharapkan di rumah langsung sirna begitu mendengar suara riuh anak-anak dari ruang tamu. Rumah kami masih ramai. Ibu sedang menyelesaikan jam belajar mengaji cuma-cuma yang sudah bertahun-tahun beliau adakan untuk anak-anak tetangga sekitar.

Aku melepas sepatu di teras, mencoba memasang wajah ‘Ayu yang biasa’. Di ruang tamu, beberapa ibu-ibu sedang duduk lesehan di karpet, menunggu anak-anak mereka merapikan iqra dan Al-Qur'an ke dalam tas.

“Nah, ini dia anak salihahnya Bu Murni sudah pulang,” seru Bu RT, menyambutku dengan senyum lebar.

Lihat selengkapnya