Pagi itu, atmosfer meja makan terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Aku duduk memandangi cangkir kopiku yang mulai mendingin, sementara mataku diam-diam menguliti gerak-gerik kedua adik laki-lakiku. Angga masih setia dengan aksi bungkamnya, menyendok nasi goreng dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Di sudut lain, Bagus tampak begitu santai merapikan buku-buku kuliahnya ke dalam tas, seolah interogasi kecil tentang struk lima juta rupiah tadi malam tidak pernah terjadi di antara kami.
Di tengah ketegangan yang senyap itu, hanya Laras yang tampak seperti biasa. Adik perempuanku satu-satunya itu duduk di sebelahku, mengunyah rotinya dengan tenang. Dia tampil rapi dengan pashmina instan berwarna nude yang dililit simpel, tetapi tetap terlihat modis sesuai gaya gadis-gadis masa kini, membingkai wajahnya yang tampak polos tanpa riasan berlebih.
"Mbak Ayu, muka Mbak pucat banget. Kurang tidur, ya?" tanya Laras lembut. Tangannya terulur menggeser stoples selai cokelat ke dekat piringku. "Dimakan rotinya, Mbak. Jangan cuma minum kopi terus, nanti asam lambungnya kambuh lagi. Mbak kan kerjanya paling berat di rumah ini."
Aku menatap mata Laras yang jernih dan penuh perhatian. Sudut hatiku yang sempat membeku sejak semalam mendadak menghangat. Di rumah yang mulai terasa asing ini, setidaknya aku merasa masih memiliki Laras. Dia masih adik kecilku yang lugu, yang selalu peduli pada kakaknya, dan tidak terseret dalam pusaran rahasia seperti kedua saudara laki-lakinya.
"Iya, Ras. Makasih, ya," jawabku, memaksakan senyum tipis lalu menggigit roti yang disodorkannya.
Laras tersenyum manis, lalu meneguk susu putihnya sampai habis sebelum beranjak dari kursi. Dia mengecup punggung tangan Ibu dan Ayah dengan takzim, lalu sempat menepuk bahuku sekilas sebelum melesat keluar pagar membawa tas ranselnya. Aku memandangi punggungnya yang menjauh dengan secercah rasa lega yang tersisa di dada. Setidaknya, tidak semua porselen di rumah ini retak. Masih ada Laras yang bisa kupercaya.
***
Gedung bank swasta tempatku bekerja selalu menawarkan ilusi ketenangan yang semu. Lantai marmer yang berkilau, pendingin ruangan yang mendengung konstan, dan aroma kopi mahal dari kubikel para manajer. Di sini, aku adalah Rahayu sang auditor internal, wanita yang disegani karena ketelitiannya mendeteksi selisih angka sekecil apa pun.
Aku sempat berkaca sejenak di lift, merapikan blazer kerja hitamku dan memastikan jilbab paris senada yang kukenakan tegak sempurna tanpa kerutan.
"Kerja bagus, Ayu. Laporan audit triwulan ini bersih tanpa celah. Manajemen sangat puas dengan performa timmu," puji Pak Danang, kepala divisiku, saat kami berpapasan di lorong menjelang istirahat siang.
"Terima kasih banyak, Pak. Ini kerja keras semua tim," jawabku dengan senyum profesional terbaikku.
Untuk beberapa jam, aku berhasil melupakan keruwetan di rumah. Di tempat ini, aku memegang kendali penuh atas duniaku. Di sini, aku tidak perlu berpura-pura menjadi anak shalihah yang lurus, aku dihargai murni karena kemampuanku. Namun, kenyamanan itu runtuh tepat pukul tiga sore, satu jam sebelum gerbang bank ditutup untuk nasabah.
Ponsel di mejaku berdering. Panggilan dari interkom lobi utama.
"Mbak Ayu, selamat sore. Maaf mengganggu," suara satpam lobi, Pak Joko, terdengar agak ragu dan panik dari seberang telepon. "Di bawah ada tamu wanita yang mencari Mbak Ayu. Katanya penting sekali.”
Aku mengernyit, melirik agenda di laptop. "Tamu? Atas nama siapa, Pak? Saya tidak ada janji temu sore ini."
"Beliau tidak mau menyebutkan namanya, Mbak. Tapi ... situasinya agak mendesak. Wanita ini bersikeras ingin bertemu Mbak Ayu sekarang juga, kalau tidak dia mengancam akan membuat keributan di depan nasabah."
Jantungku tiba-kira berdegup dua kali lebih cepat. Alarm tak kasat mata di kepalaku kembali berdering, tetapi kali ini rasanya jauh lebih dingin dan mencekam daripada malam sebelumnya.
"Baik, Pak. Saya turun sekarang.”