Tidak ada orang yang ingin paginya disambut aroma tajam tepung bercampur minyak panas. Jika dipikir-pikir, kelat pada logam mesin akibat reaksi senyawa dua bahan tersebut condong pada bau menusuk yang resistan menetap di pakaian. Menuju siang, rambut telah lengket akibat uap panas pembawa residu. Pori-pori kulit terbuka, ditempeli debu hitam. Sorot lampu neon di atas kepala mereka semakin memancarkan wajah para pekerja dengan keputusasaan mendalam di tengah kondisi perekonomian yang merosot tajam. Bahkan, sebagian besar tampak pucat akibat kelelahan bekerja sejak pagi.
Mimpi-mimpi manis tentang konstelasi hidup makmur di sela himpitan metropolis menjadi sebuah reaktor pembangkit energi untuk tetap bekerja. Mereka tidak ada pilihan, mencari pekerjaan amatlah sulit. Persaingan mengisi jabatan-jabatan di gedung mentereng pada denyut jantung ibukota begitu ketat. Mereka yang tidak memiliki perpanjangan tangan dari penguasa di atas akan tersingkir begitu saja. Maka, pabrik menjadi pilihan akhir bagi mereka dengan relasi minim dan keberuntungan pasif.
Mesin-mesin pabrik berderet di sepanjang lorong. Berderak dengan desis suara saling tumpang tindih membentuk satu kebisingan konstan. Mencari hening adalah kesia-siaan di sini. Detik terus beradu dengan langkah kaki para pekerja. Ikut mengalir menambah berisik dengan dentum mesin raksasa. Konveyor sabuk bergulir tanpa jeda, membawa ratusan adonan mi yang sudah berbentuk kering. Adonan itu dimasukkan ke dalam wadah-wadah plastik secara otomatis, lengkap dengan bumbu instan berbagai rasa sesuai keinginan pasar.
Para pekerja dengan tubuh bungkuk dan kantung mata melorot, fokus pada satu titik sama dalam kurun waktu berjam-jam. Ritme gerakan mereka seolah mengimitasi mesin mahal pabrik. Otomatis mengikuti gerakan konveyor, mengecek kualitas produk tercipta dari mesin-mesin itu. Tangan mereka terulur, mengamati secara intens apabila terdapat produk gagal tak lolos cek kontrol kualitas. Kantuk tak tertahan, pegal pada otot belikat, hingga pikiran tentang anak-anak di rumah bergumul menjadi satu, membentuk letih pada tubuh yang terus menyiksa. Hal itu tercetak pada ekspresi wajah datar mereka, bahkan beberapa dari wajah itu cenderung terlihat murung. Pertahanan terakhir mereka pada lelah agar tidak merobek pertahanan setipis tisu.
Pada salah satu posisi lini pengecekan kualitas mi, Gaharu berdiri di sana. Keringat bercucuran amat deras membasahi punggung kokoh lelaki itu. Seragam kerja biru tua yang dia kenakan menempel erat pada punggung, sarung tangan karet pada kedua tangannya terasa panas dan lembap. Sesekali dia meregangkan leher atau menggeser posisi kaki pada kursi. Bukan untuk mencari kondisi nyaman di tengah kerja, melainkan upaya mengusir mati rasa. Gaharu merasa tak ada ruang untuk lelah di tempat ini, semua harus dibagi secara merata, dicicil secara perlahan agar tidak meledak sekaligus.
Gaharu terbiasa pada tempo kerja pabrik yang stagnan dan cepat. Jika bukan karena kebutuhan mengikat, Gaharu tidak akan mungkin menginjakkan kakinya ke dalam tempat ini. Bagaimana mungkin seseorang bisa tahan ketika bertemu dengan sesosok atasan yang muncul seperti bayangan tak diundang? Hanya karena alasan kecil, dia selalu melebih-lebihkan. Nadanya selalu naik satu oktaf. Perutnya yang tambun dengan kancing baju hendak melompat dari posisinya selalu naik turun ketika memaki setiap pegawai di pabrik. Mulai dari posisi kardus yang miring, bungkus mi yang kusut, sampai tempo kerja pegawai yang dirasa lamban.
Pernah suatu kali Gaharu menginjak lubang akibat tidak fokus. Memang hari nahas tidak pernah muncul pada kalender. Dia menjelma sebagai sosok tak kasat mata, tipis transparan, dan tidak terduga. Melayang menunggu mangsa lengah kemudian menertawakan kesialan di hari itu. Suatu hari, motor butut kesayangan Gaharu mogok. Mengambek karena sudah lama tidak diberi jajan atau dimanjakan dengan perawatan masa kini. Kala itu memang Gaharu belum memegang gaji sepeser pun. Alhasil, si motor terpaksa mengikat perut. Pagi yang sial memang, seharusnya kaki terkena abu puntung rokok menjadi pertanda buruk dan tidak bisa serta-merta dia tak acuhkan begitu saja.
Tanpa pikir panjang dan terus berpikiran positif, Gaharu berangkat seperti biasa. Motor sudah terparkir di depan latar indekos pekerja. Di sepanjang jalan, dia tidak pernah sedikit pun berpikir tentang kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi menimpa dirinya. Benar saja, menuju perempatan ke arah pabrik tempat dia bekerja, si motor berhenti melaju. Sudah berulang kali dia injak starter motor. Ah, paling-paling hanya aki. Begitu Gaharu pikir. Namun, rasanya janggal ketika puluhan kali dia injak pedal starter motor tak kunjung berderak.
“Motor sialan!”
Waktu menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit. Tentu sudah sangat mepet dengan batas akhir presensi pegawai. Di tengah kemacetan Cikarang pagi itu, Gaharu mendorong motornya ke sebuah bengkel pinggir jalan. Motor terpaksa rawat inap di bengkel. Sontak, Gaharu mengumpat dalam hati mengenai nasib buruk yang menimpa dirinya pagi itu. Belum selesai memaki kebodohannya, telepon berdering dari manajer utama. Keringat dingin menjalar dari tengkuk. Benar saja, lepas diangkat, pria tambun itu memaki Gaharu karena belum terlihat di tempat kerja. Diancam diberikan surat peringatan pertama hanya perihal terlambat beberapa menit. Bayangkan, baru pernah terlambat, surat pernyataan hendak dilayangkan di depan mata.
Orang waras tentu akan berpikiran pergi dari tempat itu. Mengajukan surat pengunduran diri dan mencari tempat kerja lain dengan situasi kondusif serta membantu mengembangkan produktivitas. Mungkin Gaharu bukan termasuk ke dalam orang-orang dengan pikiran waras itu. Dia gila, memang gila. Lebih memilih bertahan dengan posisinya sekarang demi menyambung hidup keluarga di Bantul. Paling tidak, dia masih mendapatkan gaji layak dengan upah minimum lumayan.
Dia tidak mau dicap sebagai pecundang jika pulang ke Bantul. Segala riuh di tempat mungil itu cukup membuat telinganya resah. Mulut-mulut jahanam tetangga begitu mematikan. Bahkan, masih bekerja dengan upah lumayan pun tak luput dari observasi mata orang-orang. Pertanyaan klasik seperti kapan menikah terus memenuhi bagian kecil dari serabut serebrum miliknya. Kadang kala Gaharu berpikir, kenapa orang-orang di sana punya banyak energi untuk menggunjing orang lain di sekitar. Dia sendiri saja sudah terlalu lelah untuk sekadar menyalakan motor.
Meski sebenarnya ruang mungil pada otak kerap menggelitik hati dan menggoda Gaharu untuk pulang lewat memori indah masa kecil, sisi logika miliknya berpengaruh lebih besar; dia butuh materi demi martabat keluarga. Selesai. Namun, entah karena Tuhan yang memang menginginkan dia istirahat sejenak atau bagaimana, ada saja godaan agar Gaharu goyah dan memilih mengemasi barang untuk pulang. Seperti suara Ibu di seberang yang sering meruntuhkan tameng pertahanan miliknya.