Tiga Pohon Teduh di Bawah Kemarau

Abdilah Aldi
Chapter #2

Retak Pada Batang Pohon Jati

Perihal anak tengah tidak pernah ada yang ingat. Bagaimana dia berkembang di sekolah, apa makanan favoritnya, atau selera musik kesukaannya jarang sekali terlintas di pikiran orang tua. Para tengah selalu berada di dalam ruang ganjil. Hidup dalam samar bayang-bayang saudara lain. Dia tidak cukup diingat seperti si sulung. Ketika si sulung hidup saat pertama kali ayah dan ibu menjajaki langkah pertama menjadi orang tua serta mendapatkan segala kepercayaan, si tengah hidup belajar mandiri tanpa uluran tangan ayah ibu. Belajar berdikari sejak nasib memutuskan agar si tengah berdiri di antara saudara lainnya.

Bungsu kemudian lahir, hidup dengan segala gelimang kemewahan dan kasih sayang luar biasa orang tua. Dilindungi secara sungguh-sungguh. Apa pun diberikan pada si bungsu untuk keberlangsungan hidup di masa depan. Ibarat kata, bungsu adalah kaca bening yang mudah retak. Dia selalu diberikan perlakuan istimewa agar tampak bersih dan mengkilap. Lantas, kaca itu dipasang di jendela paling depan struktur rumah. Dibiarkannya untuk dipandangi banyak orang dengan kekaguman luar biasa karena indah dan bersih.

Jika digambarkan dengan konstruksi rumah, si tengah adalah saka tiang tinggi di tengah-tengah. Dia menyangga orang tua yang diibaratkan sebagai atap. Orang tidak banyak mengapresiasi pengukuh itu. Si tengah ada di sela-sela rumah, tetapi tidak diperhatikan. Sementara si sulung sebagai fondasi bawah penguat rumah. Mereka akan memberikan pujian karena fondasi itu sudah berhasil membawa rumah tersebut kokoh dan megah di mata banyak orang.

Terlupakan.

Satu kata menyakitkan yang tentu menjadi luka batin para anak-anak tengah di mana pun dia berada. Mungkin, ada anak-anak tengah sudah terbiasa hidup dalam lingkup terselap masyarakat. Terbiasa dengan keasingan hingga melekat sampai di saraf-saraf kehidupannya. Namun, satu yang pasti dari anak tengah, mereka adalah pribadi kuat dengan mental baja karena memiliki dedikasi tinggi. Berani untuk berdiri di kaki sendiri tanpa perlu banyak bantuan orang lain.

Sebagai anak tengah, Jati juga terbiasa dengan hal seperti itu. Pribadi sanguinis merekat di tubuh jangkungnya. Dibandingkan dengan masnya yang penuh gairah dalam bekerja, Jati lebih suka menghabiskan waktu dengan hobinya. Sejak kecil, Jati memang senang berpetualang di pinggir sungai dekat hutan desa. Jemari kakinya sudah akrab dengan setiap jengkal tanah di kawasan dia tinggal. Pohon-pohon di sana jika memiliki nyawa sudah pasti dengan hangat menyambut kehadiran Jati, sebab mereka adalah kawan karib di saat apa pun.

Pernah satu kali Jati benar-benar mengasingkan diri dari keluarganya karena jenuh mendengar omelan Ibu tentang nilai-nilai ulangan. Memang, otaknya tidak begitu cemerlang seperti adiknya. Jati jauh di bawah rata-rata. Dia juga tidak seulet masnya yang setiap hari selalu membantu Bapak di rice mill belakang rumah. Karena dia sudah tidak sanggup lagi dengan perbandingan tak setara dari mulut Ibu, dia kabur dari rumah masih mengenakan seragam putih abu-abu. Berharap tidak ada orang mencarinya. Toh, dia juga sudah terbiasa dilupakan. Untuk apa dia berada di rumah?

Maka, sore itu Jati memutuskan pergi ke pinggir sungai tempat biasa dia memancing bersama teman-temannya. Tidak, dia tidak membawa joran atau kail, melainkan sebuah sarung lusuh berwarna hitam dan kupluk. Tepat di bantaran sungai, berdiri sebuah pohon mangga besar tak bertuan. Sebuah rumah bambu kecil bertengger di dahan kokoh paling atas. Tempat itu sengaja Jati buat sebagai pelarian kecil dari segala penat duniawi. Di situlah dia berniat untuk tidur hingga pagi menjelang. Persetan dengan orang rumah dan segala kepelikan yang mereka buat.

Pohon itu adalah teman bagi Jati. Tempat segala pengaduan resah dan cerita yang tak pernah dia ungkapkan pada siapa pun. Jati memang memiliki banyak relasi. Sebagian besar orang di desa mengenal Jati adalah lelaki supel dan mudah bergaul. Mulai dari balita sampai lanjut usia, semua sudah Jati anggap sebagai relasi. Namun, Jati selalu menerapkan batas jelas dalam pertemanan di hidupnya. Sebuah tembok transparan berdiri mengelilingi lelaki itu. Memang teman melimpah bagi Jati, tetapi dia tidak akan pernah mengizinkan seseorang masuk ke dalam ruang kecil di dalam tembok itu sebelum dia mempercayai penuh orang tersebut sebagai ladang cerita atau rahasia.

Karena hal tersebut, pohon mangga di pinggir sungai adalah karib terdekat sejauh ini. Dia tidak menjustifikasi setiap cerita Jati, dia tidak memutarbalikkan cerita agar semuanya tersentralisasi pada dunianya, dia juga tidak mencela setiap kalimat dari bibir Jati. Kedengarannya tidak masuk akal, terkesan seperti baru keluar dari rumah sakit jiwa. Berbincang sendiri dengan pohon tua selayaknya teman sendiri. Ah, lagi-lagi Jati masa bodoh dengan omongan orang, dia sudah terlalu penat dengan urusan duniawi yang tidak memihak. Jika orang paling dekat dengan dirinya memang hanya sebatang pohon mangga di bantaran sungai dan mampu menjaga segala macam cerita, untuk apa mencari manusia sebagai tempat bergantung?

Semalam penuh akhirnya Jati tidur ditemani si pohon mangga itu, beserta nyamuk nakal di sekeliling tubuhnya. Merangkai bunga mimpi tentang hidup bebas di tengah kota, mencari ketenangan tanpa harus diikat dengan orang tua atau saudara yang memberi mimpi buruk mengenai arti kesuksesan. Paginya, dengan seragam masih menempel di tubuh, Jati turun dari rumah pohon untuk sekadar mencuci muka dengan jernih air sungai, melepas dahaga, lalu berangkat ke sekolah seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya sampai ada warga mencari keberadaan Jati karena Ibu khawatir dia tak kunjung pulang.

Lihat selengkapnya