Tiga Pohon Teduh di Bawah Kemarau

Abdilah Aldi
Chapter #3

Tak Sekokoh Dahan Meranti

Katanya, jika ingin hidup makmur, seseorang harus berkuliah setinggi langit. Orang bilang, pekerjaan dari mana saja akan datang menyentuh kaki para lulusan perkuliahan. Bahkan, dengan bekal nilai tinggi dan pengalaman memuaskan selama berkuliah, dia tinggal menunjuk kantor mana yang hendak disambangi dan dipakai sebagai tempat bekerja selama puluhan tahun. Tentu kedengarannya sangat menarik dan menggiurkan bagi setiap pemimpi berambisi besar. Terlebih lagi di zaman seperti sekarang yang sulit untuk mencari pekerjaan.

Sayangnya, kenyataan selalu berbanding terbalik dengan mimpi. Bunga-bunga indah dalam benak hanya sebatas madu setengah tenggak. Realitas tidak pernah patuh untuk tunduk pada “katanya”. Ijazah rapi perlahan berubah menjadi seonggok kertas lusuh yang digeser dari satu map ke map lain, ditenteng ke setiap panggilan wawancara kerja, lantas berakhir dengan senyum sopan dan kalimat penutup formalitas yang tidak pernah memberikan keterangan mengenai diterima atau tidak. Hari demi hari, rutinitas berlalu dengan irama sama: mendaftar lowongan, mengirim lamaran, lantas menunggu sesuatu yang tak pasti.

Dibandingkan panggilan kerja, tagihan rumah tangga lebih setia menemani. Mereka datang silih berganti di kala bulan terus berganti. Bunyi token listrik, uang kontrakan, bahkan sampai cicilan kredit paling kecil pun tak luput dari giliran mengantre. Menyedot uang di dompet maupun rekening hingga kering tak bersisa. Dari situ, dia menjadi titik kulminasi atas keputusasaan dan pening tak berkesudahan. Melahirkan bisikan-bisikan jalan pintas yang terdengar masuk akal ketika malam menjelang ditelan sunyi. Mula-mula, dia hanya sebuah kompromi kecil tentang penerimaan, lalu berubah menjadi keinginan sejahtera di tengah himpitan ekonomi.

Dari situ, muncul dua kelompok manusia yang terbagi lewat garis batas normal. Mereka yang menutup mata pada proses akan langsung menerima pekerjaan apa saja tanpa bertanya asal-usulnya. Membungkus segala konsekuensi pelanggaran norma dengan dalih kebutuhan. Bagi mereka, kata haram hanya sebuah ucapan belaka. Dia terdengar garang, tetapi bisa dengan cepat berubah bentuk akibat sebuah alasan demi bertahan hidup dan tidak merepotkan siapa pun. Seolah keadaan dialami memberikan izin kemakluman untuk melanggar sempitnya himpitan pada hidup mereka.

Pada satu titik henti tersebut, pekerjaan bukan lagi cerita soal martabat seseorang di mata masyarakat, melainkan tentang cara bagaimana agar bisa bernapas satu hari lagi. Mereka tak lagi mengukur hari dengan ketenangan, nominal adalah penentu kehidupan. Uang memang datang ke dalam dompet, tetapi mereka membawa bayang-bayang penyesalan rasa bersalah, cemas, dan kekhawatiran yang sulit untuk diusir. Lantas, kekhawatiran ikut memberikan kontribusi bahwa suatu hari apa yang mereka dapat akan diminta kembali dengan cara lebih menyakitkan.

Pada kelompok lain, mereka masih dianugerahi logika berjalan pada otak. Jiwa mereka terlalu rapuh untuk bertindak melanggar norma di masyarakat. Setiap hari, mereka selalu bangun dengan tangan gemetar, kepala berisik, dan penantian panjang tentang mimpi di ujung tanduk. Ironisnya, semakin mereka bekerja dengan keras, semakin jauh pula mimpi tentang hidup makmur yang dulu terasa sederhana; rumah mungil, makan cukup, dan tidur tanpa gelisah. Dalam riuhnya upaya bertahan hidup, mereka lupa bahwa pekerjaan bukan sekadar alat untuk mengisi perut, tetapi juga sebagai cermin untuk menatap pantulan di dalam sana. Saat cermin itu retak, maka pantulannya tak akan pernah utuh lagi. Idealisme mereka tinggal menunggu waktu untuk hancur.

Kota yang bergerak sangat cepat memaksa banyak orang terus berjalan meski mereka tahu medan yang dilalui penuh aral dan tak mudah. Mereka paham betul tentang pengertian benar dan salah, hanya saja karena lelah lebih besar sudah terlalu banyak menempa mereka menjadi pribadi keras dari nurani. Pada akhirnya, bukan seberapa tinggi pendidikan mereka yang diuji, melainkan daya tahan manusia untuk tetap memilih jalan bersih di kala tekanan dari segala arah.

Dari kecil, Meranti sudah paham akan konsep tersebut. Bapak dan Ibu melatih dirinya agar mampu membedakan tentang kebaikan dan keburukan, menyaring segala sesuatu yang mampir pada dirinya agar tidak terpapar pengaruh negatif. Sebagai anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya di rumah, dia tumbuh di sela dua kakak laki-laki. Mereka belajar menahan diri karena terbentur norma laki-laki harus kuat. Sementara Meranti dibesarkan dengan tangan lembut, suara pelan, dan perhatian yang nyaris tak pernah putus. Bisa dibilang, proteksi dari kedua orang tuanya selalu melimpah, bahkan di umurnya yang sudah tidak bisa disebut sebagai remaja lagi.

Karena persepsi Bapak dan Ibu tentang pekerjaan layak di masa depan, Meranti benar-benar dipersiapkan sebagai calon sarjana pertama di keluarganya. Dukungan penuh selalu mengalir pada gadis belia itu. Satu hal istimewa dari Meranti pula, dia cerdas. Lebih cerdas dibanding kedua kakaknya. Prestasi segudang selalu diraih Meranti sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebagian besar berasal dari olimpiade sains dan matematika. Sisanya perlombaan seni dan artistik, hanya saja tidak banyak.

Meranti membawa dua kartu as penting dalam hidup, lahir sebagai seorang bungsu di keluarga dan memiliki kecerdasan luar biasa. Hidupnya sudah separuh perjalanan menyelesaikan segala problematika. Selain itu, ada satu keberuntungan yang menghampiri hidup Meranti, dia diterima di kampus negeri ternama di Yogyakarta dan mendapat beasiswa sehingga tidak harus repot membayar biaya kuliah setinggi langit. Semakin di awan lah dia di mata banyak orang, terutama kedua orang tua Meranti.

Meranti tumbuh dalam bekal lebih lengkap, dalam jaket kehangatan orang tua, dalam pesan singkat yang datang sebelum dia sempat rindu. Orang tuanya menaruh harap seluas samudera, bukan dengan paksaan, melainkan sebuah keyakinan dalam diam bahwa anak perempuannya ini akan membawa nama keluarga ke arah yang lebih baik. Harapan itu menempel rapat, serapat doa yang dirapalkan pada setiap langkahnya.

Berkuliah di pusat Yogyakarta memberinya pandangan tentang dunia yang lebih luas. Berkutat pada jadwal padat, sibuknya lorong kampus, hingga mimpi yang perlahan mulai berbentuk. Lagi-lagi, Meranti terhindar dari garis ambang batas norma kepatuhan tentang halal dan haramnya sebuah pekerjaan lewat perkuliahan. Ambisi bekerja dengan scrub di sebuah rumah sakit dengan gaji setimpal tergantung tinggi di atas sana, Meranti hanya tinggal menunggu waktu untuk menggapai impian tersebut. Anatomi tubuh manusia, luka dan pemulihan, serta etika profesi sudah dia telan dengan baik hingga semester tua.

Lihat selengkapnya