Ketakutan akan masa depan menjadi faktor utama para muda-mudi meninggalkan desa. Merantau kedengarannya seperti kegiatan mulia untuk meningkatkan kredibilitas dan martabat seseorang. Layaknya seorang ksatria berangkat ke medan perang, mereka beranjak dengan gagah menuju kota besar di seluruh daerah. Banyak mulut mengatakan bahwa merantau merupakan pintu gerbang menuju kehidupan layak, jalan lurus yang akan membawa siapa pun keluar dari sempit dan gelapnya lingkup pedesaan. Tentu pendapat itu bisa dibenarkan apabila seseorang berasal dari keluarga menengah ke bawah, sebab mereka memiliki latar belakang kurang mengenakkan. Untuk orang menengah ke bawah, pekerjaan di desa bagi mereka setakat menanam benih padi di sawah atau menjadi buruh kuli di gudang desa.
Merantau sering kali dimulai dari hal sederhana: hampir mati kebosanan di desa, pembuktian diri pada orang-orang, hingga sekadar keyakinan kecil mengenai hidup yang tidak seharusnya berhenti di tempat dia dilahirkan. Dari tempat kelahiran, merantau bukan tentang mencari kesuksesan belaka, tetapi juga harus meninggalkan ritme kehidupan yang sudah akrab sejak kecil. Subuh tidak lagi bergema lewat suara masjid dari pengeras suara, kokok ayam hutan nun jauh di sana berganti dengan dering alarm dari ponsel. Semburat fajar tergantikan dengan pemandangan kabel menjulur dan gedung pencakar langit. Kota membuat waktu berjalan lebih cepat, sungguh sebuah perbedaan mencolok ketika harus merantau. Pendatang yang tidak mampu beradaptasi dengan tempo bisa saja tersingkir cepat. Mereka harus segera menyesuaikan langkah agar tidak tersapu begitu saja.
Kota besar menjadi ajang pembuktian bagi perantau untuk menggapai makna kejayaan. Tidak ada tuntutan lain bagi mereka selain bertahan hidup dan mendefinisikan hidup sukses. Pekerjaan apa pun dirasa layak selama bisa membayar uang sewa tinggal dan makan sehari-hari, belum lagi harus memberikan jatah bulanan pada keluarga di kampung. Terkadang, pada sunyi dan lelah tubuh ringkih itu, kerinduan akan rumah di kampung menyusup dengan paksaan mendadak. Rindu pada rumah akhirnya dilipat rapi, disimpan pada sebuah kotak yang hanya dikeluarkan sesekali saat malam terlalu panjang.
Merantau memberikan arti tentang belajar kesepian di tengah riuh. Siang hari yang panas, mereka bisa menjadi seorang pekerja keras dan mampu mengendalikan diri. Namun, kala malam menjelang, mereka bisa berubah drastis akibat lelah. Menjadi manusia paling sensitif di dalam bedeng atau indekos. Terkadang menangis karena hidup begitu keras menampar mereka dengan kenyataan pahit; lahir dari kelas stratifikasi bawah tanpa prestise. Esoknya, mereka kembali lagi seolah tak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya hingga siklus berulang tak menentu. Di kota, tidak pernah ada yang benar-benar peduli dari mana asalmu atau bagaimana perasaanmu hari ini. Hingga tersisa sebuah tekad untuk menahan diri pulang dengan tangan kosong.
Bagi Gaharu, pantang untuknya pulang dengan tangan kosong. Paling tidak, buah tangan dari kota untuk keluarga di Bantul menjadi usaha paling dasar agar tidak dipandang rendah. Meski tidak pernah reaktif dengan kata-kata, Gaharu paling mudah terpukul saat mendengar seseorang mengomentari dirinya. Karena itu, Gaharu selalu berusaha untuk tidak bertangan kosong saat harus pulang ke Bantul seperti sekarang. Pada tas ransel di punggung dan kotak kardus di jok belakang motor, sudah dia selipkan berbagai macam oleh-oleh. Tidak luput amplop kecil di bagian sisi dalam tas untuk Bapak dan Ibu.
Kala Supra X tuanya melintasi gapura selamat datang Girimulyo, mesin motornya menggeram pendek. Suaranya seperti menahan lelah perjalanan jauh dari Cikarang. Debu jalan desa berlarian, naik perlahan di belakang roda, sampai menempel pada celana cargo dan sepatu besar milik Gaharu. Irama gas dia pelankan, melaju dengan langkah pendek menyusuri jalan. Meskipun jalan itu tetap sama rusaknya saat pertama kali Gaharu meninggalkan desa, dia tidak mengurangi kecepatan karena lubang-lubang besar dan batu di jalan, melainkan sibuk mengingat kembali selenting memori singkat masa lalu di tanah kelahiran. Setiap tikungan terasa familier sekaligus asing, Gaharu merasa ada banyak perubahan signifikan yang membuatnya bingung.
Dulu, pohon randu besar di ujung tikungan adalah markas besar anak-anak sepulang sekolah. Di bawahnya, sebuah warung berdiri menjajakan es lilin sebagai pereda dahaga setelah berjalan berkilo-kilo sepulang sekolah. Pemiliknya adalah seorang lelaki tua bernama Pak Sirwan, beliau adalah sahabat anak-anak Girimulyo yang bersekolah di SMP desa sebelah. Girimulyo tidak memiliki SMP, sehingga anak-anak terpaksa bersekolah puluhan kilometer jauhnya demi melanjutkan jenjang yang lebih tinggi. Beserta semilir angin menerpa rimbun pohon randu, anak-anak berteduh di bawahnya sembari menikmati es lilin berbagai rasa. Kenangan hangat itu seperti selimut manis di tengah udara dingin Girimulyo.