Laura masih ingat betapa polosnya ia saat pertama kali jatuh cinta.
Waktu itu ia kelas satu SMA, umur enam belas.
Belum mengerti apa-apa soal hubungan, belum tahu bedanya sayang dan kagum, belum tahu bahwa perasaan bisa begitu mudah berubah… atau hilang.
Bagas Pramudya adalah senior kelas dua.
Cowok tinggi, hitam manis, kapten basket, dan terkenal jago bikin pengumuman OSIS yang berlebihan.
Ramah, banyak senyum, dan entah bagaimana selalu berhasil membuat satu sekolah terasa seperti miliknya.
Tapi bagi Laura, Bagas hanya sosok yang membuat dadanya berdebar setiap kali lewat di koridor.
Ia bukan tipe yang suka menatap terlalu lama, jadi setiap kali Bagas lewat, ia pura-pura sibuk membuka laci, merapikan buku, atau menunduk seperti sedang menghitung ubin.
Namun pada suatu siang yang hangat, semuanya berubah.
Saat itu Laura baru selesai piket kelas saat menemukan selembar kertas kecil terselip di buku tulisnya.
Tulisan tangan cowok:
“Ketemu bentar di dekat mushola — Bagas”
Jantungnya langsung berhasil menggelinding ke lutut.
Ketika ia berjalan ke tempat yang ditulis Bagas, cowok itu sudah berdiri sambil memegang botol Pocari dan rambut basah habis latihan. Ia senyum—senyum paling santai yang pernah Laura lihat.
“Eh… Laura, ya?” sapanya.
Laura mengangguk, kaku, seperti robot baru pertama kali booting.
“Aku cuma mau bilang…” Bagas menggaruk tengkuknya, “…kamu lucu kalau lagi marah-marah pas jadi ketua piket.”
Laura membelalak.
Dia marah-marah? Lucu?
Mungkin Bagas salah orang—atau seluruh dunia tiba-tiba tidak waras.
“Aku—aku nggak marah-marah…” gumam Laura pelan.
Bagas tertawa. “Ya, ya. Tapi tetap lucu.”
Hening beberapa detik.
Bagas kemudian menarik napas panjang, seolah keberaniannya hampir habis.
“Kalau kamu nggak keberatan…” katanya, “…boleh aku minta nomor WA?”
Hubungan mereka dimulai dari situ.
Obrolan singkat, tawa kecil, foto kucing lucu, dan suara Bagas yang kadang sengau karena pilek habis futsal.
Laura merasa semuanya hangat.