Tiga Purnama Laura

Aldibilalagi
Chapter #3

BAB 3 — LUKA BARU DI KAMPUS

Setelah lulus dengan predikat sebagai penghancur hati cowok idola nomor satu di sekolah, Laura benar-benar percaya bahwa masa kuliah adalah masa untuk perubahan dalam dunia percintaan.

 

Itu terjadi saat ia di tahun kedua kuliah.

Cowok dengan hoodie lusuh, rambut berantakan, dan tatapan santai yang selalu membuatnya terlihat seperti baru bangun lima menit lalu.

 

Tapi justru itu yang membuat Arga… membumi.

Berbeda dari Bagas yang penuh energi, Arga lebih seperti senja—tenang, hangat, dan nyaman dipandang lama-lama.

 

Mereka bertemu di ruang UKM saat Laura iseng ikut fotografi kampus.

Arga adalah ketua divisi dokumentasi, meski tampilannya lebih mirip mahasiswa yang nyasar daripada pemimpin organisasi.

 

Pertemuan pertamanya sederhana:

Laura datang terlambat, Arga sedang duduk makan roti bakar, dan kamera Canon 60D menggantung di lehernya.

 

“Kamu anggota baru?” tanya Arga dengan mulut masih penuh.

 

Laura mengangguk, sedikit terintimidasi oleh tatapannya yang terlalu jujur.

 

Arga menunjuk kursi di sampingnya.

 

“Duduk. Kita mulai dari cara memegang kamera tanpa kelihatan kayak pegang pisau dapur.”

 

Kalimat itu membuat Laura tertawa, dan Arga ikut tertawa padahal mungkin ia sendiri tidak yakin lucunya di mana.

 

Dari situ, semuanya mengalir dengan mudah.

Arga punya energi yang tidak mengikat, tidak menuntut, tapi selalu ada.

 

Ia tipe yang mengantarkan Laura pulang tanpa diminta, tapi tidak keberatan kalau Laura menolak.

 

Ia mengirim foto sunset setiap kali lembayungnya bagus, tapi tidak komplain kalau Laura membalas lama.

Arga adalah stabilitas pertama dalam hidup Laura.

 

Mereka mulai sering lembur bareng untuk acara kampus.

Arga duduk mengedit foto, Laura menata caption.

Kadang keduanya tidak bicara apa-apa, hanya berbagi kehadiran yang hening dan menyenangkan.

 

Saat itu Laura berpikir, kalau ada cinta yang patut dipertahankan, mungkin ini.

 

Suatu malam, setelah pulang dari sesi foto acara konser kecil, hujan turun rintik-rintik.

Mereka berteduh di teras gedung fakultas.

 

Arga melihat ke langit.

 

“Kalau kamu jadi hujan,” katanya tiba-tiba, “aku bakal rela basah.”

 

Laura terbatuk. “Kamu baca quotes di mana sih?”

 

Lihat selengkapnya