Tiga Sudut

Ezra Jo
Chapter #1

Bab 1 - (Prolog) Hujan Pertama di Bangku Kayu

PROLOG


Dalam ilmu geometri, segitiga adalah struktur paling sempurna di alam semesta.

​Ketika beban berat dijatuhkan dari puncaknya, garis-garisnya tidak akan menyerah begitu saja. Beban itu tidak ditanggung oleh satu titik sendirian, melainkan dialirkan secara adil, dibagi rata ke dua sudut lainnya di bagian dasar. Semakin keras tekanan yang menghantam, semakin erat ketiga sudut itu menjejak bumi, saling mengunci, menjaga agar pondasinya tak roboh.

​Di dunia yang riuh dan sering kali rapuh ini, manusia adalah titik-titik samar yang mudah goyah. Berdiri sendiri berarti siap dihantam angin; melangkah tanpa penopang berarti merelakan diri patah saat badai datang.

​Namun, semesta terkadang memiliki caranya sendiri untuk merajut takdir.

​Ia mempertemukan tiga anak manusia dengan warna jiwa yang berbeda.

Arsena Jovanov, sebuah titik tenang yang berpijak pada logika, pembawa kedamaian yang selalu mampu mengurai kerumitan hidup menjadi alur yang sederhana.

Gio Elfaraz, tumpuan garis yang kokoh dan dingin, dinding pelindung berinsting tajam yang rela terluka demi menjaga apa yang ia sayangi. Dan

Reyner Firmansyah, poros hangat yang peka, tempat di mana rasa empati bermuara dan perekat utama yang menjaga agar garis-garis itu tak pernah terlepas.

​Ini bukanlah kisah tentang pahlawan bersenjata atau legenda yang terukir di batu pualam. Ini adalah cerita tentang tawa riang di atas sepeda ontel tua, tangis diam-diam di sudut kamar yang sepi, lebam pertumpahan darah di gang-gang gelap sekolah, hingga janji yang dikubur di bawah naungan pohon angsana.

Lihat selengkapnya