SEPEDA TUA DAN SEPIRING GORENGAN
Masa-masa Sekolah Dasar bagi anak laki-laki di kota kecil adalah tentang kebebasan tanpa batas setelah bel jam terakhir berbunyi. Di antara riuhnya suara jangkrik sore dan semilir angin yang membawa aroma tanah basah, kendaraan paling megah bagi mereka bertiga adalah sebuah sepeda ontel tua berwarna hijau pudar milik ayah Reyner.
Sepeda itu punya sejarah panjang: rantainya sering kendur, rem belakangnya harus ditarik dengan sisa tenaga, dan jok kulitnya sudah terkelupas di beberapa bagian. Namun, bagi Arsena, Gio, dan Reyner, sepeda tua itu adalah 'kapal tempur' yang sanggup membawa mereka menjelajahi setiap sudut komplek.
Sore itu, matahari mulai merendah, memancarkan sinar jingga yang hangat di sepanjang Jalan Angsana. Formasi menunggang sepeda mereka selalu sama dan tak pernah berubah. Gio, dengan tubuhnya yang paling tegap dan kaki panjangnya yang kuat, bertindak sebagai pengayuh utama di depan. Reyner duduk santai di boncengan besi belakang sambil memegang erat pinggang Gio. Sementara Arsena, yang bertubuh paling mungil dan berwajah tenang di balik kacamatanya, duduk manis di celah tiang besi depan, tepat di antara setang dan dada Gio.
"Gio, ayo cepatan ngebut! Warung Mak Siti sebentar lagi ramai, nanti kita gak kebagian pisang goreng hangat mak siti lagi...!" seru Reyner penuh inisiatif dari belakang, suaranya riang membelah angin sore.
"Sabar, Rey. Jalanan di depan sangat nanjak berat tau...," sahut Gio singkat. Napasnya teratur, matanya yang tajam tetap fokus menatap kerikil dan lubang di jalanan.
Arsena yang duduk di tiang depan tersenyum tipis. Ia bisa merasakan embusan angin menepuk pipinya. Di usianya yang sepuluh tahun, Arsena sangat menikmati momen-momen seperti ini momen sederhana di mana ia tidak perlu pusing memikirkan rumus atau ekspektasi tinggi orang tua di rumah.
Namun, saat mereka mulai mendaki tanjakan jalan dekat pos ronda, suara KLEK-KRAK! yang nyaring terdengar dari bagian bawah sepeda. Laju sepeda mendadak terhenti tajam. Rantai besi tua itu putus dan tersangkut, membuat kayuhan Gio kehilangan beban secara mendadak. Beban bertiga di tanjakan membahayakan posisi mereka sepeda tua itu oleng ke kanan dan mulai meluncur mundur dengan cepat ke arah selokan!
"Eh Gio! Tahan, Gio! Kita mundur!" jerit Reyner panik, kakinya melayang-layang mencoba mencari pijakan.