Tiga Sudut

Ezra Jo
Chapter #3

Bab 3 - Rahasia Sepatu Berlubang

Memasuki bulan-bulan terakhir di kelas enam SD, atmosfer di sekolah berubah menjadi lebih tegang. Ujian Nasional sudah di depan mata, dan para guru mulai melipatgandakan latihan soal setiap harinya. Namun, di tengah hiruk-pikuk persiapan ujian, Arsena menyadari ada sesuatu yang tidak biasa pada diri Gio Elfaraz.

​Selama hampir dua minggu, Gio yang biasanya selalu datang paling awal kini sering melangkah masuk ke kelas tepat saat bel berbunyi. Bukan hanya itu, setiap kali duduk di bangkunya, Gio selalu menarik kakinya jauh ke bawah meja, seolah berusaha menyembunyikan sesuatu. Arsena yang jeli memperhatikan cara berjalan Gionada ketimpangan kecil pada langkah kaki kirinya, seperti seseorang yang berusaha menahan gesekan kasar di sol sepatunya.

​Saat jam istirahat tiba dan Gio sedang pergi ke kamar mandi, Reyner menghampiri meja Arsena. Wajah Reyner yang biasanya penuh tawa kini dipenuhi rasa cemas. Kepekaan emosional Reyner tidak pernah gagal menangkap penderitaan orang-orang terdekatnya.

​"Sen, kamu lihat sepatu Gio gak?" bisik Reyner pelan sambil melirik ke arah pintu kelas.

​Arsena mengangguk pelan, menyesuaikan letak kacamatanya. "Aku sudah melihatnya dari minggu kemaren, Rey. Sol bagian bawah sepatu kirinya sudah terkelupas, parah banget dan di bagian depan, kainnya berlubang sampai jarinya kelihatan."

​"Aku sedih banget melihatnya," keluh Reyner, matanya berkaca-kaca. "Kemarin waktu kita main bola di lapangan, aku lihat Gio meringis kesakitan karena batu-batu kecil masuk ke dalam lubang sepatunya. Tapi kamu tahu sendiri, kan? Gio itu punya harga diri yang tinggi banget. Kalau kita langsung belikan sepatu baru dan memberikannya begitu saja, dia pasti merasa dikasihani dan pasti dia akan menolaknya."

​Arsena mengangguk setuju. Ia mengenal Gio dengan sangat baik. Gio adalah sosok pelindung, seorang anak laki-laki yang terbiasa memberi pertolongan, bukan menerima iba dari orang lain. Jika mereka salah melangkah, rasa bangga dan jiwa independen Gio justru akan terluka.

​"Karakter dan prinsip Gio sangat kuat," kata Arsena tenang, otaknya mulai bekerja merangkai analisis. "Masalahnya bukan soal sepatunya, Rey, tapi itu bagaimana sepatunya bisa sampai ke tangannya. Kita harus membuat Gio merasa bahwa ia mendapatkan sepatu itu karena usahanya sendiri, bukan karena kebaikan kita."

Lihat selengkapnya