Masa-masa awal di Sekolah Menengah Pertama membawa warna baru dalam kehidupan mereka. Meski harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang berbeda, Arsena, Gio, dan Reyner tetap memegang teguh janji mereka. Setiap akhir pekan, tempat kumpul utama mereka berpindah ke rumah Reyner sebuah rumah sederhana yang selalu hangat, harum oleh masakan ibunya, dan terbuka lebar bagi siapa saja.
Namun, memasuki semester kedua di SMP Swasta Garuda, perubahan drastis mulai terlihat pada diri Gio.
Gio yang biasanya rapi kini sering datang ke tempat kumpul dengan seragam yang agak kusam. Sorot matanya yang tajam kini dilapisi oleh lingkaran hitam tebal, mencerminkan kurangnya tidur. Ia menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya. Jika dulu Gio bertindak sebagai benteng pelindung yang tangguh, kini ia terlihat seperti prajurit yang kelelahan menahan beban berat sendirian.
Suatu sore di hari Sabtu, mereka bertiga berkumpul di pinggir lapangan basket komplek. Arsena yang duduk di samping Gio menyadari ada memar kebiruan yang tersembunyi di balik lengan baju Gio yang tergulung sedikit.
Arsena menyesuaikan letak kacamatanya, menatap memar itu dengan teliti. "Gio, lenganmu kenapa?" tanya Arsena dengan suara pelan namun penuh perhatian.
Gio dengan cepat menarik gulungan lengan bajunya ke bawah. "Oh gak apa-apa cuma jatuh dari sepeda pas berangkat sekolah kemarin," jawab Gio datar, memalingkan wajahnya.
Reyner yang sedang memegang bola basket mendadak menghentikan langkahnya. Kepekaan batin Reyner langsung bergetar. Ia tahu betul cara Gio berbohong. Tatapan mata Gio tidak menatap balik, dan nada suaranya terlalu defensif.